Obsesi

Obsesi
Kecelakaan


__ADS_3

Aku berdiri di depan gerbang sekolah sendirian. Satu persatu teman-temanku sudah pulang. Namun, sejak tadi jemputan yang aku tunggu tak kunjung datang. Mungkin ada dua puluh menit berlalu sejak bel pulang tadi berbunyi. Ck, kenapa Papah belum datang?


Di saat seperti ini aku jadi mengingat Al. Biasanya begitu bel berbunyi, aku akan langsung pulang bersama pemuda itu tanpa menunggu waktu selama ini.


Tiinn... tiinnn....


Sebuah mobil sedan berhenti di seberang jalan. Begitu tahu kalau itu mobil milik Papah, aku langsung menyebrang dan menghampirinya.


"Papah lama, ya? Maaf, tadi sempat ke Kesatuan sebentar," sesalnya.


"Gak pa-pa kok, Pah," kataku pelan, "tapi, kalau semisal Papah sibuk, gak jemput Kinar juga gak pa-pa. Kinar bisa naik angkutan umum atau ojol," lanjutku.


"Papah kan tadi pagi sudah janji. Ya, harus Papah tepati, dong!" katanya yang aku balas dengan gumaman.


Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya bisa terdiam melihat ke luar jendela mobil. Pikiranku bercabang mengenai mimpi yang tadi aku alami. Aku tidak tahu apa arti dari mimpi itu. Bagaimana bisa Bagas ada di sana?


"Sayang, kamu mikirin apa, hm?" pertanyaan itu meluncur disertai usapan di bahu.


Aku menoleh pada Papah, "Enggak kok, Pah." kataku seraya tersenyum meyakinkan.


"Kalau ada yang dipikirin, jangan dipendam, ya? Papah terbuka sekali kalau kamu mau cerita."

__ADS_1


Aku mengangguk, "Iya, Pah."


Tak terasa mobil yang kami temui berhenti. Aku menoleh, kukira kami sudah sampai di depan rumah. Namun, ternyata Papah menghentikan mobil di sebuah supermarket yang namanya cukup terkenal.


"Kamu tunggu di sini sebentar, ya? Papah gak akan lama, kok. Janji." katanya sebelum turun dari mobil.


Sepeninggal Papah, aku hanya kembali merenung. Bohong kalau aku sudah melupakan kejadian yang menimpaku akhir-akhir ini. Nyatanya, sekelebat bayangan itu masih terus berputar layaknya kaset rusak. Puncaknya adalah kejadian sebelum aku terbangun di ruangan putih rumah sakit. Kejadian itu adalah kejadian yang paling sering menghantuiku akhir-akhir ini.


"Papah lama, ya? Maaf ya, antrian cukup panjang tadi."


Papah yang sudah kembali duduk di balik kursi kemudi membuat aku tersenyum, lalu aku menggeleng pelan, "Enggak kok, Pah," aku melirik kanton belanjaan Papah, "Papah belanja apa?"


"Oh, tadi Mamah titip tepung," katanya seraya mengubek-ubek kantong belanjaan, "nih, buat Kinara. Biar kamu gak murung terus," lanjutnya seraya menyodorkan sebungkus ice cream rasa coklat.


Keadaan dalam mobil tak pernah hening meski tanpa menyetel radio. Papah, beliau terus bercerita agar aku tak merasa sepi. Papah juga terus bertanya meski aku terus menjawab secara singkat.


Tak lama, mobil yang dikendarai Papah akhirnya berhenti tepat di depan rumah. Tanpa kata, aku turun lalu mencium punggung tangan Mamah yang menunggu di teras. "Kinar ganti baju dulu ya, Mah." kataku sambil berlalu.


Aku melihat Mamah sudah berkutat di dapur dengan beberapa bahan yang aku yakini adalah bahan untuk membuat kue, "Mamah mau buat kue?" tanyaku.


Mamah mengangguk, "Iya. Jarang-jarang, kan kita bisa ngumpul kayak gini? Biasanya kan, Papah sibuk sama tugasnya. Pumpung lagi senggang, kita minum teh dan makan kue bareng-bareng," jelasnya riang.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk sebelum berlalu meninggalkan Mamah yang berkutat di dapur sendirian.


Seandainya ada Aldan, aku akan sangat senang bisa menceritakan mimpiku padanya. Mungkin, Papah menawarkan untuk menjadi pendengar, namun aku tak mau menambah beban pikiran beliau.


👻👻👻👻👻


Sepuluh menit menuju adzan maghrib, aku nekat keluar rumah sendirian. Berbekal motor hasil meminjam dari tetangga, aku berkendara menuju kawasan rumah sakit tempat Al menginap. Sebelumnya, aku bahkan tidak izin terlebih dahulu pada orang tua di rumah. Klasik, kalau aku izin sudah pasti akan dilarang. Alasannya karena aku baru saja keluar dari rumah sakit. Sebenarnya aku tidak pa-pa. Tak terluka sedikit pun. Ah, hanya luka gores kecil di pergelangan tangan bekas ikatan tali malam itu.


Udara petang kota Malang sangat dingin. Soalnya, aku tak mengenakan jaket atau apapun untuk sedikit menghangatkan badan dari terpaan angin. Hanya kaos tipis lengan panjang dan celana training tak mampu menghalau angin yang menerpa. Sialnya, aku lupa meminjam helm juga. Aku hanya bisa berdoa semoga tak ada polisi yang berjaga. Kan tidak lucu kalau aku ditilang padahal tan membawa uang sepeser pun. Begitu pula surat-surat yang aku kendarai sekarang.


Karena kejar-kejaran dengan waktu maghrib, aku memacu motor dengan kecepatan penuh tanpa ragu. Menyalip kanan kiri tanpa peduli teriakan kaget dari pengendara lain. Naas, ketika sampai di belokan, dari arah berlawanan sebuah mobil box melaju sama kencang. Aku yang memang menggunakan motor matic hanya bisa berdoa semoga mobil itu mengerem tepat waktu.


BRAK!!!


Terlambat. Dua kendaraan berbeda bentuk itu telah menghantam satu sama lain. Masih belum reda dari rasa terkejut, badanku terdorong ke depan sebelum terpelanting ke arah jalan. Dalam samar, aku melihat motor yang tadi aku kendarai ringsek di bawah mobil box. Sama halnya dengan motorku, bagian depan mobil box ringsek ke dalam. Si pengemudi keluar dengan kepala berdarah.


Beberapa pengendara yang melewati tempat kejadian berhenti untuk menolong atau sekedar melihat lalu memvideokan. Cukup lama terbaring di jalanan, akhirnya badanku dibopong ke dalam sebuah mobil yang ternyata adalah ambulance.


Aku masih sadar kala dua orang perawat memasang selang oksigen di hidungku. Telingaku juga masih cukup berfungsi untuk mendengar sirine ambulance yang memekakkan telinga. Namun, tenagaku seolah terkuras habis. Aku bahkan tak kuat untuk sekedar mengangkat tangan. Yang hanya bisa kulakukan adalah mengedipkan mata perlahan di tengah sesuatu pekat yang merembes dari jidat. Entahlah, aku harus bersyukur atau apa karena kepalaku tak terluka cukup parah meski tanpa perlindungan sebuah helm. Ah, atau mungkin ini sudah parah hanya saja aku tak tahu?


Sial, mungkinkah aku kualat karena tak minta izin terlebih dahulu? Atau karena petang masih berada di luar? atau mungkin juga karena berkendara tanpa aturan? Ah, entahlah. Yang ada di pikiranku saat ini hanya nasib motor yang aku dapat dari meminjam. Bagaimana aku harus mengatakan pada tetanggaku itu nantinya? Apa pula yang harus aku katakan pada orangtuaku? Ah, kenapa di saat sudah begini aku baru menyesalinya? Bukankah ini sangat terlambat?

__ADS_1


Pintu belakang ambulance terbuka, dua orang berbaju hijau telah menyambut di baliknya. Lalu, brankar tempat aku berbaring ditarik keluar. Belum sempat aku melihat sinar lampu secara langsung, aku kehilangan kesadaran.


👻👻👻👻👻


__ADS_2