Obsesi

Obsesi
Akhir


__ADS_3

Dua orang paruh baya menatap nanar dari balik ruangan berdinding kaca. Pagi tadi, putrinya yang hampir satu minggu itu dinyatakan koma tiba-tiba drop. Putrinya mengalami masa kritis. Melihat selang-selang yang menemani tidur putrinya membuat pasangan suami istri itu sedih. Seandainya waktu bisa diputar, mereka jelas akan memilih mengurung putrinya yang baru keluar dari rumah sakit daripada melihatnya kembali ke rumah sakit dalam keadaan yang lebih parah. Melihat putrinya saat ini membuat hati mereka seperti ditekan tarusan ton berat yang tak kasat mata. Seandainya posisi itu bisa digantikan, mereka jelas akan memilih untuk menggantikan posisi putrinya.


"Kinar belum ada perkembangan?"


Pasangan suami istri itu serempak menoleh. Seorang pemuda dengan pakaian rumah sakit berjalan pelan sambil mendorong tiang infus. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya menemani.


"Kamu seharusnya tetap di kamarmu, Al," kata sang istri yang ternyata Mamah Kinar pelan sambil berjalan mendekati Al diikuti sang suami.


"Al gak pa-pa kok, tante. Al pengen lihat kondisi Kinar." katanya pelan. Ia lalu mendekati kaca dan menyentuh permukaannya pelan. Melihat pemandangan dari balik kaca membuat hati Al terasa seperti diiris. Sahabatnya yang satu minggu lalu bersamanya dalam malam kelam itu kini terbaring tak sadarkan diri dengan bantuan alat medis untuk bertahan hidup. Bagaimana ia bisa baik-baik saja kalau alasan terbaringnya Kinar adalah dirinya? Seandainya hari itu Kinar tidak nekat ke rumah sakit dalam keadaan baru pulih, mungkin sahabatnya itu masih bisa tertawa saat ini.


"Do'ain Kinar ya, Al."


"Pasti Tante." Al berujar tanpa menoleh, "Al pasti selalu do'akan Kinar. Al sayang sama dia." lanjutnya.


Tiga orang paruh baya di sana berdiri di samping Al, memandang ke dalam ruangan tempat Kinar dirawat. Mata mereka semua memancarkan binar kesedihan. Meski mulut mereka diam, percayalah hati mereka terus memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa untuk kesembuhan gadis di dalam sana.


👻👻👻👻👻


Tepat pukul satu malam, beberapa perawat berlarian masuk ke dalam ruang ICU. Kinar, yang posisinya berada di ujung ruangan mengalami henti jantung. Beberapa perawat sibuk di depan brankar gadis itu. Seorang dokter bahkan naik ke atas brankar dan mulai melakukan RJP. Saking tegangnya kondisi di sana, dokter yang naik di atas brankar sampai mengeluarkan keringat. Napasnya berhembus cepat secepat gerakannya menekan dada Kinar.


"Siapkan defibrillator!"


"200 joule!"


Seiring dengan alat itu di tekan di dada, tubuh Kinar terangkat sebelum kembali ke permukaan brankar. Berkali-kali tanpa henti alat itu menekan dada Kinar, namun garis monitor tetap tak menunjukkan perubahan selain garis lurus dan bunyi nyaring panjang tanpa putus.


"360 joule!"


Untuk terakhir kalinya, tubuh Kinar terangkat sebelum terhempas ke permukaan brankar. Dokter yang melakukan pertolongan menunduk, napasnya terasa sesak. Begitu pun dengan beberapa perawat yang ada di sana.


"Pasien atas nama Kinara Malik Khan, tanggal 28 Maret, pukul 01.45 WIB dinyatakan meninggal dunia."

__ADS_1


👻👻👻👻👻👻


Di dunia merah ini--bolehkah aku menyebutnya dunia merah?--aku merasa hidup dalam tekanan. Aku dipaksa bertahan dalam dunia yang tak aku tahu apakah aku bisa selamat atau tidak. Dunia ini menyeramkan. Bau anyir di mana-mana. Darah berceceran hampir setiap jalan yang dilewati. Udara terasa menyesakkan dan panas sehingga tak akan cukup untuk bernapas menggunakan hidung saja. Sesekali aku bahkan bernapas menggunakan mulut.


Penyesalan itu datang di akhir.


Kini, bolehkah aku menyesal? Menyesali tindakanku sebelum kecelakaan dan menyesali membantu monster penuh dendam bernama Ilham. Aku lelah. Meskipun kini aku ditawan Ilham tanpa terikat, aku bahkan harus berpikir ribuan kali untuk melarikan diri. Kenapa? Karena aku tak menemukan jalan untuk keluar dari sini.


"Kinara...."


Suara bernada lirih itu membuat aku menoleh pelan. Bagas terbaring di ujung ruangan dengan tubuh penuh darah. Aku bahkan tak berniat untuk menolongnya. Lagipula, aku tak tau dia masih hidup atau sudah mati di dunia nyata sana.


"Kinara...."


Panggilan lirih itu kembali keluar dari mulutnya yang seakan enggan terbuka, "Daripada kamu menghabiskan tenaga buat berbicara, lebih baik kamu renungi apa kesalahan kamu sehingga tersesat di alam ini."


"Kinara.... kamu... harus... keluar."


Air mata mengenang di pelupuk mata Bagas, jatuh ke pipi dan menyatu bersama darah, "Maaf..." katanya menyesal, "aku... minta... maaf."


Aku terisak di balik lutut, "Sudah terlambat.... kamu.... sudah membunuh banyak orang hanya karena obsesi gilamu dan rasa takut yang belum tentu itu."


Rasa ngeri melihat keadaan Bagas saat ini tak sebanding kala ngeri melihat senyum iblisnya malam itu. Atau mungkin malam-malam saat dia menghabisi korbannya. Bagas bukan manusia. Dia monster meski tak berwajah menyeramkan.


Aku memegang dada yang terasa nyeri kala mengingat dengan siapa aku saat ini. "Arrgghh!!" Aku berteriak kala dadaku semakin nyeri. Kenapa rasanya sungguh menyakitkan? Napasku mulai tersenggal. Pasokan udara di sekitarmu terasa semakin menipis. Aku mulai megap-megap layaknya ikan di daratan.


"Kinara...."


Panggilan Bagas tak aku dengarkan. Tenagaku mulai melemas. Bahkan aku tak sadar sejak kapan tubuhku telah terbaring dengan kepala berbantalkan paha Bagas yang penuh darah.


"Kinara...."

__ADS_1


"Kinara.... sadar.... Kinara..."


"Jangan tutup.... mata kamu.... aku mohon..."


Telapak tangan Bagas masih kurasakan menepuk pipiku pelan. Tapi, itu bahkan tak mampu membuat mataku ingin terbuka kla memejamkan mata terasa lebih menyenangkan.


Telingaku berdenging kenyang membuat aku tak lagi mendengar suara Bagas. Mataku mulai kabur dengan air mata yang entah sejak kapan menggenang. Apa aku akan mati di sini? Kenapa alam ini terasa menyatu dengan tubuhku?


Di ujung kesadaran, aku membayangkan wajah Mamah yang menangis histeris kala aku telah tiada.


Bayangan Papah yang menangis dalam diam karena kehilangan putri kecilnya.


Bayangan Al yang terdiam meratapi nasib sahabatnya.


Ah, untuk point terakhir, aku ingin mencegahnya. Seandainya aku bisa kembali ke dunia nyata, aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Al. Selanjutnya, aku bahkan akan menerima kalau takdirku harus tinggal di dunia merah ini.


"Kinara...."


"Indigo..."


Dalam hembusan mataku yang mulai pendek, pendengaranku tiba-tiba kembali kala aku yakin aku mendengar suara Mina.


"Indigo... kamu harus kembali! Kamu tidak boleh menyerah!"


Maaf Mina, meski kamu menyemangatiku hingga ribuan kali, aku rasa aku tetap akan menyerah. Lagipula, jalan yang katamu itu ada belum tentu memang ada. Kalau ini memang takdirku, aku ikhlas. Sungguh. Aku sudah lelah dengan ketidak pastian ini.


"Kinara...."


"Indigo! Buka matamu!"


"Kamu harus kembali!"

__ADS_1


👻👻👻👻👻


__ADS_2