
Hasil takkan mengkhianati usaha.
Kalimat itu terus aku tanamkan di pikiran. Berada di tempat asing tanpa manusia di dalamnya sempat membuat aku berpikir untuk menyerah. Namun sekali lagi, hasil takkan mengkhianati usaha. Seperti kata Mina, ini bukan tempatku. Tak ada alasan untuk aku berada di sini. Aku akan berusaha menemukan pintu keluar itu meski mustahil sekali pun.
Aku keluar dari ruangan tempat di mana Mina berada. Kali ini tak mengendap-endap. Aku diburu waktu. Sebelum terlambat, aku harus segera keluar dari tempat aneh ini. Untung saja kakiku sudah lebih baik untuk berlari. Aku memasuki satu persatu ruangan, mengecek di dalamnya apakah ada harapan. Namun, pintu keluar itu belum kutemukan meski aku sudah sangat lama mencarinya.
Dimana jalan keluar itu?
Apa aku akan berakhir di sini? Sial! Sungguh malang nasibku.
Tubuhku jatuh terduduk di atas kursi salah satu ruang kelas. Lalu aku membenamkan wajah di lipatan siku di atas meja. Aku menangis, meratapi nasibku yang entah kenapa jadi begini. Aku teringat akan kedua orang tuaku. Aku ingin meminta maaf kepada mereka, karena aku membangkang. Mungkin ini karma karena tak menuruti kata orang tua.
"Oh? Maaf. Kamu orang baru, ya?"
Suara pintu terbuka membuat aku mengangkat wajah. Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu. Aku memperhatikan sekujur tubuhnya yang tanpa luka, "Kamu manusia?"
"Hm?" lelaki itu terlihat bingung, "apa ini masih dunia tempat manusia hidup?" tanyanya kemudian. "aku pikir aku sudah mati."
Aku memandangnya ragu, "Emmm...... berarti kamu arwah?"
"Memangnya kamu bukan?"
Aku menggeleng.
"Serius? Kok bisa ada di sini?"
"Entahlah," kataku sambil mengangkat bahu. "tapi aku harus segera pergi dari sini sebelum terlambat." lanjutku.
"Tentu."
Aku berjalan menuju pintu. Aku menoleh ke arah lelaki itu sebelum keluar, "Senang bertemu denganmu. Kalau aku boleh memberi pendapat, lupakan dendam entah apapun itu agar kamu bisa menuju tempat selanjutnya."
"Hm. Aku tahu tapi aku tidak bisa."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk mendengar ucapannya. Lagipula aku sudah mengingatkan. Entah mendengarku atau tidak, apapun itu, itu pilihan mereka.
Di tengah teriknya sinar yang menyorot kemerahan, aku kembali melanjutkan langkah. Membuka setiap pintu yang aku temui.
"Rawwrrr!!!"
Sial! Sial! Sial!
Aku membuka pintu yang salah. Sialan! Kenapa makhluk menyeramkan ini ada di salah satu kelas. Aku berlari sekuat tenaga. Mendadak, alasanku membuka satu persatu pintu terlupakan. Nasibku dipertaruhkan.
Brak.... Brak... Brak....
Suara lantai yang berbenturan dengan kaki sosok itu terdengar keras. Itu artinya jarak kami semakin dekat. Soalnya lagi, aku tak tahu harus pergi ke mana. Di depan sana adalah jalan buntu.
"Arrgghhh!!!" tak lama semuanya gelap. Yang kuingat kali terakhir sebelum menutup mata adalah jari dengan kuku panjang menggapai mukaku dari belakang.
👻👻👻👻👻
Jika di dunia manusia ada siang dan malam, matahari terbit dan terbenam, lain lagi dengan dunia penuh dendam ini. Siang dan malam tak ada perbedaan atau mungkin memang tidak ada. Hitungan detik dan menit pun rasanya tidak ada. Alam ini terasa sama seperti pertama kali aku datang ke sini.
Tis.... tis... tis...
Adalah bunyi yang pertama kali aku dengar saat membuka mata. Di luar sana ternyata sedang hujan. Namun, langit di atas sana tetap berwarna kemerahan. Setelah aku amati lebih jelas, ternyata air langit itu juga berwarna merah seakan menandakan kalau tempat ini adalah tempat penuh amarah.
Aku mengitari seluruh ruangan dengan pandangan. Ruangan tempat aku bangun ini adalah ruangan kecil dengan udara yang menyesakkan. Bau anyir dan busuk menusuk indra penciuman. Di pojok ruangan, kerangka manusia menumpuk. Saling tumpang tindih hingga sebagian tak lagi utuh. Ada yang jari tangannya terpisah bahkan tengkorak kepala terpisah dari badannya.
Brak.... Brak... Brak...
Langkah kaki yang mengejarku tadi kembali terdengar. Tak ingin sosok itu tahu aku sudah sadar, aku kembali memejamkan mata. Bulu kudukku meremang kala aku merasakan hembusan napas tepat di depan wajah. Hasrat ingin berteriak tiba-tiba muncul. Namun sesaat sebelum benar-benar berteriak, aku ingat kalau di tempat ini tidak akan ada yang menolongku meski aku berteriak sekeras apapun. Semua makhluk di sini terlalu sibuk mengurusi dendam masing-masing.
Napasku tercekat kala aku merasakan sentuhan sebuah kuku panjang di sepanjang rahang. Sialan, apa makhluk ini tidak bisa pergi dari hadapanku sebelum aku ngompol di celana?
"Sayang sekali, Indigo...."
__ADS_1
Deg!
Suara ini? Sosok yang ada di depanku ini Ilham. Aku sudah akan membuka mata tapi urung kala mendengar ucapan lain yang keluar dari mulutnya.
"Seandainya kamu gak terlalu ikut campur.... aku tidak akan pernah menahanmu di tempat ini..."
Diam-diam aku mengepalkan tangan. Sialan hantu ini, bukankah dia yang melibatkan aku dalam masalah terror selama ini? Lalu, kenapa dengan entengnya dia bilang kalau aku yang ikut campur? Sepertinya dia sudah hilang ingatan. Aku akan dengan senang hati mengingatkan kalau aku sendiri tak ingat seperti apa bentuk sosok berkepala bolong ini sebenarnya. Hih! Mengingatnya saja sudah membuat aku ngeri. Tunggu! Jangan bilang kalau sosok Ilham saat ini masih menjelma menjadi monster dengan taring di seluruh gigi?
"Jangan pura-pura pingsan, Indigo..... aku tahu kamu sudah sadar!"
Uhuk! uhuk!
Mataku terbuka sambil melotot. Cengkraman di leherku menyumbat seluruh aliran oksigen yang masuk ke dalam tubuh, "Le---pas!"
Sosok itu, sosok Ilham dengan seragam putih abu-abu bukan sosok mahluk tinggi dengan gigi tajam. Ilham tersenyum miring, "Kamu menyalahi aturan yang kubuat!"
Uhuk! Uhuk!
Aku terbatuk hebat kala cengkraman Ilham di leher telah terlepas. Napasku tersenggal. Memberanikan diri, aku menatap Ilham menuntut, "Apa maksudmu? Bukankah kamu yang membuat aku ikut campur dalam hal ini? Kenapa jadi menyalahkanku?"
"Hahahaha....." tawa Ilham berhenti menjadi seringaian, "kamu..... membawa bocah itu kabur!"
"Bocah? Bocah siapa yang kamu maksud!"
Ilham kembali mencengkeram leherku. Kali ini cengkramannya lebih kuat. Aku bahkan tak bisa bicara sepenggal kata pun. Mataku melotot dengan mulut megap-megap kehabisan napas. Tanganku memukul lengan sosok biadab ini dengan sekuat tenaga. Namun percuma. Sepertinya pukulanku tak terasa apa-apa untuknya.
"Jangan pura-pura bodoh!" Ilham berteriak. "waktu itu, kamu membawanya kabur sebelum kembali! Kalau saja kamu tak menolongnya, aku pasti sudah tenang saat ini!"
Deg!
Apa yang Ilham maksud saat aku menolong Bagas dalam mimpi siang itu? Kalau benar begitu.... berarti itu nyata?
👻👻👻👻👻
__ADS_1