Obsesi

Obsesi
Tabir Yang Mulai Terungkap?


__ADS_3

Satu hari berlalu sejak pertemuanku dengan Bagas kemarin. Namun, dari kemarin aku berhubungan dengan Bagas via chatting, dia sepertinya baik-baik saja. Tak ada yang aneh ataupun tanda-tanda dia berada dalam bahaya--menurut penuturan Bagas.


Begitu pun dengan Al yang setahuku juga baik-baik saja. Ia bahkan kemarin mengirimiku chat lebih dari dua puluh.


Huh, mungkinkah memang teror ini telah selesai?


Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi, melihat Ilham yang tak pernah menampakkan diri lagi, bolehkah aku berharap?


Aku berbaring terlentang di atas ranjang. Memandangi ponsel yang sepi tanpa adanya pesan atau notifikasi apapun. Agak bosan juga sebenarnya, padahal hari-hari sebelumnya jam delapan malam begini aku sudah pusing tidak karuan was-was akan adanya korban pagi harinya.


"Hihihi.... Indigo yakin teror ini sudah selesai? Hihihi.... kok aku malah gak yakin, ya?"


Aku berdecak kala Mina muncul seenaknya lagi, "Kamu hobi banget ngagetin, sih?" kataku malas, "emm.... menurut kamu, teror ini masih berlanjut?"


"Hihihi..... coba Indigo pikirkan pakai otak Indigo yang cerdas itu... hihihi..."


Sialan!


Aku melempar bantal ke arah Mina. Namun sayang aku lupa kalau dia itu bukan manusia. Alhasil, bantal yang aku lempar berakhir menabrak tembok.


"Hihihi.... kabur, ah... hihihi..."


Tubuh Mina semakin memudar sebelum akhirnya benar-benar menghilang. Begitu keadaan kamar kembali sunyi, aku mulai memikirkan apa yang dikatakan Mina tadi. Mungkin dia ada benarnya.


Kalau dipikir-pikir lagi, mungkinkah dua minggu yang tenang ini adalah suatu cara untuk membuat warga sekolah lengah?


Sebenarnya aku memikirkan hal ini, melihat rumor yang menyebar tentang Intan, mungkinkah si pembunuh memang sudah merencanakan hal itu? Dia sengaja menumbalkan Intan untuk dijadikan kambing hitam.


Aku tersenyum miring dengan pemikiranku barusan. Bisa saja, kan?

__ADS_1


Bunyi pesan masuk terdengar dari ponselku. Aku meraihnya, begitu melihat pesan yang baru saja masuk dari kontak Bagas, tanpa pikir panjang aku langsung membukanya. Ia mengirimkan sebuah lokasi. Entah maksudnya apa. Tapi tak lama, titik lokasi itu terlihat bergerak. Aku sedikit was-was sebelum segera mengganti celana tidurku dengan celana jeans. Aku juga meraih hoodie hitam di gantungan. Aku bergegas keluar kamar sembari mengenakan hoodie.


"Mau kemana malam-malam begini, sayang?"


Suara mama menghentikan langkahku yang baru saja sampai di ruang tamu, "Anu.... Kinar mau ke rumah Al sebentar ya, Ma."


Ya. Aku memutuskan ke rumah Al terlebih dahulu untuk memastikan keadaan Al. Kalau dugaanku dan Bagas ternyata memang benar, bukan tidak mungkin kalau Al saat dalam bahaya. Aku harus memastikannya terlebih dahulu sebelum menemui Bagas di lokasi yang ia kirim.


"Udah malam, lho!"


"Sebentar, Ma. Nanti pulangnya dianterin Al, kok."


"Jangan pulang malam-malam lho," kata beliau mengingatkan, "naik ojek online aja daripada jalan kaki. Meskipun rumahnya gak jauh-jauh banget, tetap saja ini sudah malam."


"Oke. Aku ambil uang dulu kali gitu, Ma," aku kembali masuk. Bukan ke kamar untuk mengambil dompet seperti yang aku bilang tadi, melainkan berjalan ke ruangan papa.


Aku memandangi sebentar senapan yang dimiliki papa. Sepertinya bukan ide bagus kalau aku membawa salah satunya. Selain aku tidak bisa menggunakannya, aku juga takut ketangkap polisi kalau berkeliaran dengan membawa senjata api.


Aku beralih memandangi beberapa senjata tajam, sebelum memutuskan untuk mengambil pisau lipat saja. Bukan apa, hanya saja pisau lipat berukuran kecil, jadi lebih mudah untuk disembunyikan.


👻👻👻👻👻


Hampir jam setengah sembilan kala aku sampai di rumah Al. Aku memencet berkali-kali hingga akhirnya ibu Al keluar.


Ibu Al terkejut melihat kedatanganku, "Lho? Kinar?"


Aku tersenyum pada ibu Al, "Iya Bude. Al-nya ada?" tanyaku.


Ibu Al terlihat bingung, "Lho? Al kan udah keluar dari maghrib tadi. Kamu gak ketemu?"

__ADS_1


Kali ini giliran aku yang menunjukkan muka bingung, "Enggak Bude. Memangnya Al gak bilang dia mau kemana?"


"Al tadi bilangnya mau ke tempat kamu, lho. Masa sih gak jadi?"


Aku menggeleng, "Al gak ada bilang apa-apa sih, Bude."


Ibu Al terlihat cemas, "Lha kemana anak itu pergi? Bude pikir ya ke rumah kamu kayak biasanya gitu. Kata Al papa kamu lagi dinas, jadi dia disuruh mama kamu buat nemenin kalau malam, kayak biasanya gitu."


"Kayak apa, Bude?" tanyaku memastikan.


"Kayak biasanya. Dia kan sering ke rumah kamu sampai pulang subuh, kan? Katanya disuruh mama kamu buat nginep."


Hah? Kenyataan apa ini? Sejak kapan Mama bilang kayak gitu ke Al? Lalu, kapan Al sering nginep di rumah? Kenapa Al berbohong pada ibunya? Sebenarnya apa yang dilakukan Al selama ini?


"O--oh, mungkin Al lagi ada urusan dulu di luar, Bude. Nanti palingan ke rumah. Ini tadi disuruh mama buat memastikan Al jadi nginep apa enggak soalnya dia gak ada chat apapun ke Kinar," aku membuka chat dari Bagas sekali lagi. Posisi dia berada kini sudah berhenti. Tidak terlalu jauh dari posisiku saat ini. Hampir empat kilometer, "Kinar boleh pinjam motornya sebentar gak bude? Kinar mau beliin titipan Mama. Tadinya kalau Al ada mau sekalian minta antar dia," kataku kala melihat motor matic yang ada di ruang tamu rumah Al.


"Oh, boleh. Bentar, bude ambilkan kuncinya dulu."


👻👻👻👻👻


Memikirkan alasan berbohong bukan waktu yang tepat untuk saat ini. Aku memacu motor matic yang dipinjamkan ibu Al dalam kecepatan 70km/jam. Enggak terlalu kencang sebenarnya, hanya saja saat ini aku berada di jalan yang memungkinkan ada binatang malam tiba-tiba lewat. Kan tidak lucu kalau aku nabrak kucing terus jatuh.


Lokasi yang dikirimkan Bagas mengarah ke sekitar sungai besar yang tidak mungkin bisa dilewati motor. Alhasil, aku meninggalkan motor pinjaman di pinggir jalan. Tak lupa aku menguncinya sebelum pergi. Aku hanya berharap semoga motor milik ibu Al ini baik-baik saja sampai aku kembali.


Huft!


Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai memasuki area hutan bambu. Ya, sungai besar ini melewati hutan bambu yang cukup menyeramkan saat malam hari. Ah, tidak. Saat siang pun suasana di sini sudah sangat horor. Aku memejamkan mata sebentar, berharap semoga mahluk-mahluk yang nanti aku temui di dalam sana tidak akan menggangu. Demi apapun ini bukan saat yang tepat kalau aku harus berurusan dengan mahluk yang sedikit iseng sementara aku tidak tahu bahaya apa yang mungkin sedang dihadapi Bagas.


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2