
"Hah! Hah! Hah!"
Aku bersandar di balik tembok tikungan lantai dua. Napasku terengah karena berlari dari kejaran sosok-sosok mengerikkan itu.
Tuhan....
Dunia apa ini? Sebenarnya, aku berada di mana?
"Rawwwrrr!!!"
Mendengar geraman yang terasa semakin dekat, perlahan aku berjalan menuruni tangga. Kupastikan langkahku ringan agar tak memancing sosok itu mendekat. Begitu sampai di lantai satu, aku berlari melewati lapangan dengan kaki pincang.
Aku sedikit heran, sedari tadi kenapa aku tak menemukan orang sama sekali? Apa tidak ada satu pun di sini yang bisa menolongku?
"Rawwwrrr!!!"
Aku terlonjak dan langsung menoleh ke belakang.
Sial! Sial! Sial!
Apa sosok itu terbang? Kenapa cepat sekali mereka menyusulku? Karena takut tertangkap, Aku masuk ke salah satu kelas yang pintunya tidak terkunci.
"Indigo..."
Suara itu....
Aku buru-buru menoleh dan menemukan sosok familiar di sana, "Mina?"
Sosok itu mengangguk. Namun, aku masih tak percaya. Pasalnya, sosok Mina yang selama ini aku kenal adalah seorang kuntilanak bermata satu.
"Ka--kamu beneran Mina?" tanyaku memastikan.
Sosok itu kembali mengangguk.
Aku masih memandangnya heran. Sosok di depanku ini adalah seorang gadis cantik dengan sebelah mata terluka. Alih-alih menyeramkan seperti penampakan kuntilanak, sosok ini malah terlihat menyedihkan.
"Indigo.... bagaimana bisa kamu ada di sini?"
__ADS_1
"Maksudnya? Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada di sini. Lalu, tempat apa ini? Kenapa dari tadi aku tidak menemukan seseorang?"
Mina mendekat ke arahku lalu memejamkan mata. Dia mengendus tubuhku layaknya seekor kucing yang mengendus makanan. Ini aku.... tidak akan dimakan, kan?
"Kamu masih hidup, Indigo."
Aku terbelalak. Heh! Memangnya ini alam akhirat??? Tapi kenapa aku tidak bertemu malaikat Raqib Atid?
"Kamu seharusnya tidak berada di sini."
"Aku juga tidak ingin berada di tempat aneh ini. Memangnya tempat apa ini?"
"Ini tempat kami.... para arwah yang masih terjebak dengan dendam selama di dunia."
Aku terkejut. "Lalu kenapa aku bisa ada di sini, Mina?!"
Mina menggeleng, "Itulah yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa kamu ada di sini?"
Kini giliran aku yang menggeleng. Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai berada di tempat seperti ini. Mungkinkah aku sudah mati? Tapi kata Mina tadi aku masih hidup. "Apa yang harus aku lakukan, Mina?"
"Keluar dari sini." Mina berkata mantab, "semakin lama kamu di sini, tubuhmu di dunia sana akan semakin melemah. Bukan tidak mungkin kamu akan berakhir di sini selamanya, seperti aku. Terjebak dendam yang bahkan aku tak ingat dendam apa itu atau pun kepada siapa."
Mina mengangguk.
Sial!
Aku menutup mata dengan telapak tangan kanan. Air mataku lolos begitu saja. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini kalau seluruh penjuru sekolah ini terhalang tembok yang tingginya tanpa batas itu?
"Dengan semua tembok aneh itu," aku menunjuk ke luar jendela, "aku tidak akan bisa keluar dari sini. Itu artinya aku memeng ditakdirkan mati di sini..... begitu, kan?"
Mina menepuk bahuku pelan, "Pasti ada satu cara. Percaya itu."
Bagaimana aku bisa percaya padanya kalau ia saja tak bisa keluar dari sini?
Kenapa aku harus terjebak di dunia aneh ini, Tuhan?
👻👻👻👻👻
__ADS_1
Tiit... tiiit.... tiiiiit....
Bunyi dari mesin EKG terdengar nyaring di sebuah ruangan. Beberapa perawat yang sedang bertugas di ruangan dengan delapan pasien koma itu berlari mendekat ke salah satu brankar.
Seorang dokter pria berlari mendekat. Dengannya dengan sigap menekan-nekan dada si pasien, berharap apa yang dilakukannya itu dapat mengembalikan detak jantung yang telah berhenti.
"Siapkan defibrillator!"
Seorang perawat dengan sigap mengoleskan gel pada dua permukaan mesin. Tak lama, dokter mulai menekan permukaan mesin pada dada telanjang pasien.
"360 joule!"
Dua alat berbentuk hampir seperti setrika itu kembali di tekan di dada pasien.
Raut cemas beberapa perawat turut menemani dokter yang masih berusaha menyelamatkan pasiennya itu. Dari tiga perawat di sana, salah seorang perawat perlahan mundur dan kembali ke meja jaga. Jemarinya dengan sigap menekan tombol interkom sebelum melakukan panggilan untuk keluarga pasien yang nyawanya tengah di ujung antara hidup dan mati.
Tak lama, seorang wanita paruh baya berlari masuk ke dalam ruang ICU. Ia ingin mendekat ke salah satu brankar namun dihadang oleh seorang perawat yang tadi melakukan panggilan. Alhasil, wanita itu hanya bisa menangis melihat tubuh anaknya terangkat sebelum kembali jatuh ke ranjang berkali-kali. Dalam derasnya air mata, ia hanya bisa memanjatkan doa yang turut deras pula.
Di lain sisi, dokter menghentikan kegiatannya lalu kembali meletakkan alat defibrillator ke atas meja. Sorot mata beberapa orang yang sedari tadi menyaksikan ketegangan itu berubah sendu. Mereka saling pandang sebentar sebelum sang dokter menggeleng pelan.
Kematian.
Mungkin rumah sakit adalah tempat umum di mana berita kematian terdengar. Namun percayalah. Meski sering dihadapkan dengan kematian, para dokter dan perawat di sana juga sangat terpukul. Bayangkan, kau merawat seseorang dengan sepenuh hati, lalu orang itu pergi tanpa permisi. Rasa sesak sungguh mendominasi.
Sang dokter berlalu, mendekat ke arah keluarga pasien yang telah menunggu. Meski bukan kabar membahagiakan, dokter tetap harus memberitahu keluarga. Rasanya sangat sulit untuk menyampaikan kabar duka. Lebih sulit lagi ketika mendapati respon keluarga pasien yang meraung histeris seperti saat ini. Ingin rasanya menenangkan, mengucapkan kata 'semua akan baik-baik saja', tapi sekali lagi dokter tahu bagaimana rasanya kehilangan tanpa kalimat perpisahan.
"Dokter! Kebalikan putri saya!"
Kalimat itu bukan satu dua kali petugas rumah sakit dengar. Berkali-kali bahkan mungkin hampir setiap hari. Tapi mereka bisa apa selain hanya diam. Sekali lagi, porsi manusia berbeda-beda. Maut, jodoh, rezeki bukan ketentuan kita. Semua sudah diatur bahkan sebelum manusia menyapa indahnya dunia untuk kali pertama.
"Putriku, kenapa kamu meninggalkan Mamah, nak?!"
Tubuh di atas ranjang itu tetap diam meski beberapa kali terguncang. Tubuhnya kaku seperti patung.
Beberapa perawat yang menyaksikan kepiluan itu mendekat, menuntun tubuh lemah wanita yang baru saya kehilangan orang yang disayanginya keluar dari ruang ICU dan berhenti di tepat di depan ruangan, sembari menunggu perawat melepas alat yang sempat terpasang di tubuh putrinya.
Di tengah kepiluan yang sedang terjadi, di tengah duka yang masih terselimuti, masih di ruang yang sama, salah satu pasien di brankar paling ujung mulai menunjukkan reaksi. Perlahan tapi pasti, jemari tangannya mulai bergerak. Namun sayang, orang sehat di dalam sana sedang sibuk dengan kematian salah satu pasien.
__ADS_1
👻👻👻👻