Obsesi

Obsesi
Mungkinkah?


__ADS_3

Pemandangan sekolah yang kembali gempar membuat aku menghela napas. Ini benar-benar bukan pemandangan yang aneh lagi untukku. Mungkin untuk yang lainnya juga. Bayangkan saja, belum genap satu bulan, tiga kematian sudah melanda sekolah. Dari yang aku dengar saat melewati beberapa siswa, mereka mulai bertanya-tanya. Suatu ketakutan menelusup dalam hati mereka. Takut kalau mereka mungkin bisa saja menjadi korban berikutnya. Suatu hal yang wajar terjadi bukan?


Keesokan harinya, pemandangan di sekolahku malah hampir parah. Dari lima ratus lebih penduduk sekolah, kini yang terlihat hanya segelintir saja. Bayangkan saja, di kelasku yang jumlah siswanya empat puluh orang, kini tinggal tiga belas yang tersisa. Sama dengan siswanya, beberapa guru memilih untuk tidak datang ke sekolah karena takut kemungkinan mereka akan menjadi korban selanjutnya.


Pukul sembilan pagi, suara kepala sekolah terdengar dari pengeras. Kelas dipulangkan secara mendadak, melihat banyaknya kelas dan guru yang datang sangat berlawanan.


"Mau langsung pulang, Kin?" tanya Al begitu mendapati ku ikut mengemas tas.


"Bentar. Aku masih ada urusan. Kalau kamu mau pulang duluan gak pa-pa," kataku.


"Aku tungguin aja deh. Lagian masih pagi juga ini."


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Terserah Al saja.


Aku keluar dari dalam kelas dan berhenti tepat di beton pembatas. Dari lantai dua tempat kelasku berada ini, aku dapat melihat beberapa siswa mulai meninggalkan sekolah.


"Kin, aku ke bawah duluan, ya! Nanti kalau udah mau pulang, kabarin aja!" kata Al sambil mengacungkan ponsel.


Kelasku sudah kosong. Pun dengan sekolah yang mulai sunyi. Cukup menyeramkan sebenarnya saat tak ada seorang pun yang menemani. Terlebih lagi bagi anak sepertiku. Aku merasa seperti ditarik ke dalam dimensi lain, di mana seluruh penghuni dimensi itu tampak menyeramkan. Muka pucat dan darah di mana-mana. Bau-bau aneh mulai tercium. Bau wangi, bau busuk dan bau anyir darah tercampur menjadi satu.


"Indigo....hihihi..."


Di antara banyaknya makhluk astral yang menampakkan diri, Mina terlihat dari kejauhan, melayang perlahan mendekatiku.


"Aku lelah, Mina," aduku pada kuntilanak itu.


Tubuhku merosot dengan punggung bersandar di beton pembatas. Aku membenamkan wajah di antara kedua lutut dan mulai terisak pelan. Demi apapun, aku merasa sangat menyedihkan. Aku ingin marah pun memaki. Tapi aku tak tahu harus melampiaskan itu semua kepada siapa.


"Aku yakin kamu bisa menghentikan teror ini, Indigo... hihihi..."


Ah, hantu kurang ajar. Bisa-bisanya dia tertawa di saat aku menangis seperti ini.

__ADS_1


"Bisa tinggalin aku, gak? Aku pengen sendiri!" perintahku pada Mina.


"Huh? Mana bisa kamu sendiri.... hihihi.... di sini rame tahu... hihihi..." katanya namun tetap melayang meninggalkanku.


Begitu Mina menghilang dari radar, aku kembali terisak. Aku.... harus apa? Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan semua ini. Aku lelah. Aku tidak sanggup.


"Kamu harus, Indigo!"


Aku mengangkat kepala begitu mendengar suara. Itu Ilham, "Kalau begitu katakan! Katakan aku harus bagaimana?!" ucapku putus asa.


"Kin? Kamu gak pa-pa?"


Aku mendengar suara Al dari kejauhan. Tepat, Al berjalan cepat menuju ke arahku. Begitu aku kembali menoleh ke arah Ilham, hantu dengan kepala berlubang itu sudah menghilang. Arrggghh! Sialan!


"Kamu kenapa nangis, Kin?" tanya Al cemas.


Aku mengusap air mataku kasar, "Gak pa-pa kok. Pulang, yuk!" ajakku seraya menarik lengan Al.


👻👻👻👻👻


Dasarnya, orang cari uang itu menghalalkan segala cara memang. Lihatlah, bukankah itu namanya mencemarkan nama baik secara tidak langsung?


Aku semakin geram kala membuka kolom komentar. Puluhan, enggak, ratusan komentar membanjiri video itu. Dan yang membuat geram adalah komentar negatif di sana. Mereka seakan-akan membuat petisi untuk memboikot almamater ku saat ini.


Tak ingin lebih geram, aku segera menutup aplikasi. Aku beranjak keluar kamar untuk mengambil air minum. Ah, membaca komentar negatif orang-orang langsung membuat aku kehausan.


"Kinar, lihat deh! Sekolah kamu masuk berita," ujar Mama ketika aku melewati ruang tengah sekembalinya dari dapur.


Fiuhhh!


Ada apa sih dengan semua ini? Kenapa semua orang menganggap sekolahku adalah sekolah yang buruk?!

__ADS_1


"Ma, jangan kemakan berita kayak gitu. Itu belum tentu benar tahu, Ma," kataku.


"Kalau benar gimana? Bisa saja kan nyawa kamu dalam bahaya!" kekehnya, "kamu jangan masuk sekolah dulu deh, sayang! Tunggu situasinya reda dulu aja, ya?"


Aku memutar bola mata malas. Mama ini ada-ada saja. Tapi ucapan Mama memang benar. Secara tidak langsung, sekolahku saat ini semacam sedang berada di zona merah. Dan seseorang yang berada di dalamnya mungkin saja tidak akan bisa selamat. Dan karena alasan itulah, aku harus bertahan dan berusaha untuk menghentikan semuanya.


"Kalau aku gak masuk sekolah, nanti aku gak naik kelas lah, Ma....... memangnya Mama mau punya anak yang tinggal kelas?" alasanku.


"Tapi kan, sayang...... kamu lihat sendiri, kan di berita?"


"Ma!" aku menatap Mama dalam. Telapak tanganku mengusap pundak Mama pelan, berusaha mengurangi kecemasannya, "aku janji sama Mama kalau aku akan baik-baik saja, ya?"


Mama menatapku dengan mata sendu, "Mama cuma gak mau kamu kenapa-napa."


Aku mengangguk, "Semua akan baik-baik aja, Ma."--aku harap.


Aku sangat tahu betapa khawatirnya Mama. Berita buruk tentang sekolahku mulai bertebaran dimana-mana. Para pemburu berita mulai menunjukkan kebolehannya. Mereka berbondong-bondong meng-upload video hingga artikel tentang sekolahku. Orang tua mana yang tidak akan khawatir begitu membaca atau melihat semua itu?


Aku kembali memikirkan awal teror ini dimulai. Satu tahun lebih aku sekolah di sana, keadaan tenang. Tak ada hal menakutkan semacam ini.


Pasti ada sesuatu yang salah!


Deg.


Sinar itu! Sinar berwarna semerah darah yang mengelilingi si anak baru di kelasku. Sebelum Intan datang, sekolahku masih dalam keadaan baik-baik saja.


Kematian demi kematian dimulai sejak kedatangan Intan. Ya, aku yakin itu. Tunggu! Sinar yang mengelilingi Intan akan mengeluarkan warna lebih pekat pada saat-saat tertentu. Seingatku, hanya tiga kali sinar Intan berwarna seperti itu. Dan tiga kali itu tepat hari sebelum jasad korban ditemukan.


Mungkinkah?


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2