Obsesi

Obsesi
Titik Terang?


__ADS_3

Kenapa? Kenapa mayatnya ada dua? Kenapa ibu penjaga kantin itu juga tewas? Tunggu, korban keempat ini tewas di area sekolah, bukankah itu berarti pembunuhnya adalah salah satu warga sekolah? Lalu, mayat Anjar ditemukan masih dengan celana abu-abu dan kaos, sedangkan mayat ibu penjaga kantin--kalau aku tidak salah ingat--masih dengan pakaian yang dipakainya kemarin. Kalau menurut asumsiku, pembunuhannya terjadi saat hari masih terang. Karena tidak mungkin kalau malam, saat mendekati maghrib seluruh sekolah telah terkunci rapat.


Karena kasus penemuan dua mayat tadi pagi, suasana di seluruh sekolah agak kurang kondusif. Kami--para siswa--dibiarkan begitu saja, sedangkan seluruh guru sejak tadi berkumpul di kantor dengan pintu tertutup rapat. Entah apa yang sedang mereka bahas. Aku bahkan tak ada waktu untuk ingin tahu urusan para guru, sedangkan urusanku sendiri pun masih belum menemukan titik terang.


"Kamu mau kemana, Kin?" tanya Al saat aku bangkit menuju pintu kelas.


"Ke kamar mandi. Kenapa?"


"Oh, enggak!" katanya sebelum kembali duduk lesehan bersama beberapa laki-laki di bagian belakang kelas.


Meski bisa dikatakan jam pelajaran sedang kosong, seluruh pintu kelas yang aku lewati tertutup rapat. Tak ada suara berisik dari dalamnya, hanya beberapa suara yang bahkan nyaris tak terdengar sampai di luar kelas.


Bohong kalau aku benar-benar akan ke kamar mandi. Nyatanya, kakiku malah melangkah sebaliknya, menuju gudang tempat tadi ditemukannya mayat Anjar.


Garis kuning polisi melingkari tempat ditemukannya mayat ibu kantin dengan beberapa kayu sebagai penyangga. Pintu gudang saat ini juga tertutup rapat dengan garis polisi membentuk silang selebar ukuran pintu.


Aku bersandar di tembok gedung, tepat di depan garis polisi dengan kayu sebagai penyangga. Aku mulai membayangkan reka adegan dalam pikiran.


Entah benar atau tidak, si pembunuh yang wajahnya masih samar mengajak Anjar ke balik gedung. Anjar yang saat itu habis mengikuti ektrakurikuler menurut saja karena mungkin ia mengenal si pembunuh. Mereka mengobrol ringan sebelum masuk ke dalam gudang.


Mungkin karena ada ucapan yang menyakiti hati salah satunya, mereka mulai beradu pendapat atau mungkin bahkan berkelahi.


Di lain sisi, ibu kantin yang saat itu bersiap untuk segera pulang mendengar suara ribut dari gudang di balik gedung. Karena keadaan sekolah sudah mulai sepi dan ia tak melihat seorangpun yang bisa dimintai bantuan, akhirnya si ibu kantin berjalan ke balik gedung sendirian.

__ADS_1


Begitu sampai di belakang gedung, si ibu kantin dengan tergesa mendekati gudang dengan maksud ingin melerai perkelahian yang terjadi. Namun saat berada di ambang pintu gudang, ibu kantin memekik terkejut dengan kejadian di depan matanya.


Karena suara pekikan yang cukup keras, si pembunuh yang saat itu baru saja berhasil menumbangkan tubuh Anjar menoleh. Ia kemudian bergegas mengejar si ibu kantin yang berlari. Karena tenaga pria lebih kuat dari wanita, si ibu kantin tertangkap bahkan sebelum ia berhasil keluar dari balik gedung dan meminta bantuan.


Dengan tanpa belas kasihan, si pembunuh mencengkeram tubuh ibu kantin yang meronta dan menangis ketakutan sebelum menghunuskan pisau yang ia bawa tepat di leher ibu kantin lalu menggoroknya. Si pembunuh kemudian meninggalkan ibu kantin yang terkapar meregang nyawa untuk kembali ke dalam gudang.


Korban sesungguhnya belum ia selesaikan.


Di lain sisi, si pembunuh mulai melakukan aksi kejinya. Ia menyayat bagian perut Anjar yang bahkan saat itu masih bernapas. Darah menyembur keluar kala sayatan di perut semakin lebar. Di sinilah Anjar benar-benar tewas. Begitu bagian perut mulai terbuka, si pembunuh mulai memotong setiap organ secara hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam tas punggung yang sudah dilapisi plastik terlebih dahulu. Tujuannya adalah agar aksinya tidak dicurigai orang. Begitu semua organ telah masuk ke dalam tas, sebagai petunjuk terakhir, ia memotong jari telunjuk Anjar.


Begitu aksi kejinya telah selesai, si pembunuh melepas baju yang ia kenakan untuk diganti dengan baju yang bersih tanpa noda darah. Begitu pula sarung tangan yang membuat sidik jarinya tak pernah di temukan dalam tubuh semua korban.


Begitu aksinya telah selesai dengan sempurna, si pembunuh keluar dari sekolah tanpa perasaan takut akan ketahuan sedikitpun.


👻👻👻👻👻


Masih seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun aku kembali tidak bisa tidur. Aku terlalu larut dalam pikiran. Terlebih lagi setelah mendengar ucapan sosok Anjar tadi siang. Apa maksudnya? Ucapan Anjar siang itu terlalu banyak memiliki makna.


Tidak setiap orang yang aku percaya akan selalu berbuat jujur.


Hah, bahkan anak kecil pun tahu kalau setiap orang pasti pernah berbuat bohong, kan?


Ah, kenapa kalimat Anjar tadi serasa seperti benang kusut!

__ADS_1


Kak Riki, Aldo, Aril dan sekarang Anjar.


Tidak! Ini bukan pembunuhan yang dipilih dari abjad nama. Itu sangat tidak mungkin. Orang gila kalau membunuh harus menyesuaikan abjad terlebih dulu.


Aku terus mengulang nama-nama tadi dalam pikiranku hingga aku sampai pada satu asumsi yang aku harap tidak benar.


Kenapa keempat korban adalah orang yang sedikit memiliki sangkut paut denganku? Tidak! Aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengan keempatnya. Namun, kalau aku tidak salah ingat, keempat korban itu pernah berinteraksi denganku sebelum ditemukan tewas.


Anjar, baru saja kemarin mengajakku berteman--dengan maksud lain--dan meminta nomor ponselku.


Aril, si adik kelas yang melempar bola saat aku lewat dan meminta maaf padaku meski dia tahu bukan aku yang terkena lemparannya.


Aldo, dia siang itu menyapaku sambil tersenyum yang kubalas dengan hal serupa.


Kak Riki, si biang masalah yang kala itu menabrakku namun langsung pergi tanpa meminta maaf terlebih dahulu.


Hah! Kebetulan yang sangat 'wah' bukan? Atau ini semua memang saling berhubungan? Demi apapun, kalau mereka mati karena berinteraksi denganku, aku harus apa? Apa aku pembawa sial atau hukum alam apa yang telah aku kacaukan sehingga aku mendapat kutukan?


Apa aku yang membunuh mereka semua saat secara tidak sadar kerasukan? Hah! Pikiran ngawur macam apa itu! Sangat tidak mungkin. Seingatku, kala aku kerasukan, aku akan dengan sadar menyimak dan memperhatikan apa yang sosok dalam tubuhku bicarakan atau lakukan. Ini jelas pembunuhnya adalah orang lain.


Mungkinkah aku pernah menyakiti seseorang dan membuat orang itu dendam padaku sehingga membalasnya lewat orang yang sempat berinteraksi denganku agar aku merasa bersalah?


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2