
saat ini Chastella sedang berada di mobil Eneas, mereka dalam perjalanan menuju rumah Wira
hening
Chastella yang merasa tak nyaman berinisiatif memecah keheningan "Eumm, N" panggil Chastella dengan ragu, Eneas hanya berdehem sebagai jawaban
"Alfred bakal telat karna mamih nya hari ini pulang, sedangkan Misaki sama Ivona telat karna masih belum pulang, yah gimana pun kita pulang cepet karna pak Anand ada urusan haha" Chastella menjelaskan dengan di akhiri tertawa garing, tak ada jawaban dari Eneas dan keheningan pun kembali
Chastella yang jengkel memutar bola mata nya lalu membuka jendela mobil membiarkan rambut nya yang telah lepas dari ikatan terkena angin "ckck" cebik Chastella mengingat Eneas yang diam saja
Eneas melirik ke arah Chastella, ia bukan pria yang tak peka dan saat ini ia sangat paham bahwa gadisnya sedang kesal, 'gadisnya?' apa yang Eneas pikirkan
"tella" panggil Eneas namun tak ada sahutan dari sang pemilik nama, tak menyerah Eneas terus memanggil namun tetap tak ada jawaban, sebuah ide pun terlintas di kepala nya
"mau es krim?" Chastella yang mendengar hal tersebut lantas menoleh kesebelah nya dengan tatapan berbinar
"vanilla" Chastella mendekatkan wajah nya kepada Eneas
"gak usah deket-deket anjir gue gak budek" Eneas mendorong kepala Chastella dengan telunjuk tangan kiri nya
"bilang aja lo deg-deg an" Chastella kembali ke posisi nya
saat ini mobil Eneas sudah terparkir di rumah Wira tentunya setelah membeli es krim, mereka memasuki rumah tersebut dan langsung menuju kamar sang pemilik rumah
saat memasuki kamar terlihat ketiga sahabat Eneas sudah berkumpul, mereka sudah mengetahui bahwa ketiga sahabat Chastella akan telat lewat grup chat yang mereka buat
"makin nempel aje ini pasangan" Revdian yang melihat Chastella dan Eneas baru saja masuk dengan segera menggoda nya
"cih taruhan doang jadi gak usah sok serius, tella duduk deket abang sini" entah mengapa Nathan masih tak suka saat mengingat saudara kesayangan nya berhubungan dengan sahabat nya
"abang konon" sindir Eneas, namun Chastella mengikuti apa kata Nathan dan duduk di sebelah saudara nya
mereka tenggelam dengan obrolan masing-masing sebelum pertanyaan Chastella mengalihkan perhatian semuanya
"gimana kalau ternyata di antara ketiga sahabat gue ada pengkhianat" ucap Chastella tertunduk seraya menggaruk telunjuk nya karna gelisah
"jaga omongan lo, mereka sahabat lo gak layak kalau curiga sama orang yang lo mintain tolong" Wira menjawab dengan sedikit meninggikan suara nya, Chastella menatap ke arah Wira dengan mata yang berkaca-kaca
__ADS_1
"gue juga gak mau ngomong kayak gini karna kita udah bareng sejak lama, tapi kalian bisa bayangin dari mana Lucifero tau waktu gue menuju kantor polisi gue minta antar Alfred, sedangkan yang tau hal itu cuman gue, Al juga kedua sahabat gue yang tinggal sama Al, gue yakin itu bukan cuman kebetulan" Chastella ikut meninggikan suara
"maksud tella apa? ada yang masih belum tella ceritain?" kali ini Nathan ikut bersuara
"sewaktu Eneas masuk kantor polisi gue minta antar Al ke kantor polisi, sebelum Al dateng Lucifero nelfone gue lewat ponsel Eneas setelah itu dia tau kalau gue lagi nunggu Al, dia bilang gimana kalau tiba-tiba Al gak datang sama sekali dan di temuin di tempat lain dalam keadaan mengenaskan, dia juga bilang mau liat ekspresi apa yang bakal gue tunjukkin, gue cukup tenang hari itu"
"gue tau gue salah karna gak ngasih tau soal itu, tapi kak Aruna kemarin ngebisikin gimana kalau seandainya ada pengkhianat di antara ketiga sahabat gue, dia juga bilang mau bertaruh sama gue, gue gak tau harus gimana" Chastella terus berbicara tanpa berhenti menggaruk jari telunjuk nya hingga saat ini mengeluarkan darah
"tenangin diri lo, kita juga bakal cari tau tentang hal itu, bersikap biasa aja disaat mereka ada" Eneas meraih tangan Chastella lalu mulai membersihkan darah nya
"gue kira Lucifero sama kayak kakak lo N, ternyata dia lebih berani" -Revdian
"kakak gue?" Chastella hanya mengangguk sebagai jawaban, Wira tampak berpikir namun tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar nya, dengan segera dia membuka pintu dan terlihat ART nya membawa sebuah kotak
"dari siapa tuh" tanya Revdian saat Wira sudah berada di hadapan nya
"kata asisten gue tadi ada yang nganter ini buat gue, pengirimnya... " Wira tampak mencari tulisan di luar kotak tersebut namun tiba-tiba setetes darah jatuh dari kotak, lalu tercium bau busuk yang sangat menyengat
Wira segera membuka kotak tersebut dan terlihat pemandangan yang tidak mengenakkan, dengan segera Eneas memeluk Chastella agar dia tak melihat nya walaupun sebenernya percuma karna Chastella sudah melihat semua nya
kotak tersebut berisi sebuah tikus yang sudah mulai membusuk bahkan tubuh nya mulai di gerogoti belatung, Wira mengambil sarung tangan dari laci lalu sedikit mengacak acak kotak tersebut
"Kuro... " ucap Wira menemukan sebuah kartu di bawah mayat tikus tersebut, mendengar nama tersebut tubuh Chastella bergetar
"itu Lucifero" pekik Chastella lalu menangis, dengan sigap Eneas menenang kan dan mengelus surai nya
"tella kenapa" Alfred di ikuti Misaki dan Ivona berlari ke arah Chastella yang sedang menangis namun belum sampai mereka menutup hidung mereka saat mencium bau yang menyengat
"apa itu" Misaki yang memang tidak takut dengan hal tersebut mendekati Wira
"lo punya sarung tangan lagi, juga kasih gue pisau kecil" Wira mengambil sarung tangan juga sebuah pisau kecil dan memberikan nya kepada Misaki, namun gerakan tangan nya tertahan oleh Chastella, terlihat Chastella yang menggeleng ke arah Misaki
"tella tenang, gue calon dokter jadi ini bukan masalah" Misaki tampak melihat mayat tikus tersebut lalu menyayat bagian perutnya yang tampak terluka dan mengambil sebuah peluru, setelah itu ia membuka sarung tangan nya lalu menutup kotak tersebut
saat ini semua perhatian mengarah pada sebuah peluru yang di taruh di atas tissue oleh Misaki
"pertama kalinya gue liat peluru asli" takjub Nathan
__ADS_1
"gue gak akan pernah narik kata-Kata gue kalau nih orang brutal" ucap Wira
"tella, are you okay?" Chastella segera menghambur ke dalam pelukan Ivona dan menangis
setelah beberapa saat akhirnya Chastella tenang, kotak berisi mayat tikus tadi sudah di bawa keluar oleh asisten Wira
"target dia kali ini gue kan" -Wira
"sorry" lirih Chastella
"kenapa minta maaf? keputusan gue sama yang lainnya untuk terlibat dalam hal ini" -Wira
"tella, kita disini bukan gak tau sama resiko yang bakal terjadi, jadi stop nyalahin diri lo sendiri" Eneas menggenggam tangan Chastella
"peluru.. bagian perut.." gumam Eneas tampak berpikir
"kode" ucap Ivona "anggap tikus itu Wira, terus tikus itu tertembak di bagian perut, gimana kalau selanjutnya Wira yang di tembak?" jelas Ivona
"wah gila kagak di tembak cewek malah mau di tempat mati gue" Wira tampak heboh mendengar perkataan Ivona
"hmm, gini aja jawir lo mulai besok Revdian antar jemput, hindari keadaan yang buat lo sendirian, di liat dari kelakuan dia selama ini sebenernya ini gak ada ngaruh nya, tapi kita antisipasi aja" jelas Eneas
"maksud lo gue jadi sopir endoro gitu? ogah banget" jawab Revdian
"Nathan.." panggil Eneas, Nathan yang mengerti memutar bola matanya
"rev gue bayar kalau lo mau antar jemput Wira, lagi pun ke temen sendiri juga" -Nathan
"saya akan selalu mengikuri tuan muda" jawab Revdian berlagak seperti seorang bawahan
"mata duitan lo" -Wira
"kayak hari ini gak membuahkan apa-apa lagi, tapi setidak nya kita dapetin yang gak kalah penting" ucap Alfred melirik peluru tadi
"kalau gitu kalian pulang sekarang, untuk sekarang bahaya kalau kalian pulang malem" Wira mengantar semua teman nya ke luar rumah, setelah melihat seluruh kendaraan melaju hingga tak terlihat Wira memanggil salah satu bodyguard nya
"perketat keamanan, besok mamih papih sama kakak-kakak pulang kan, perketat juga pengawalan mereka" Wira berbisik kepada bodyguard tersebut lalu memasuki rumah nya
__ADS_1