
Dengan tangan gemetar, aku mengambil pisau yang kuselipkan di ban pinggang celana sebelum menghunuskan ke seseorang di belakangku.
"Arrggghhh!!"
"Al?!"
"Sakit..... Kin," rintih Al sambil memegangi pundaknya yang berdarah.
Aku menatap luka Al dengan pandangan khawatir sebelum menatap heran wajahnya. Seingatku, aku menghunuskan pisau cukup dalam, kemungkinan Al harus mendapatkan beberapa jahitan untuk lukanya itu.
"Kamu..... ngapain disini? Ah, enggak! Kamu hutang penjelasan sama a--" ucapanku terpotong saat Al menempelkan jari telunjuk tepat di bibirku.
"Sssstttt!! Mereka mendekat," katanya.
Tubuh Al merapat ke batang pohon--yang entah pohon apa--di belakangnya. Tangannya yang tadi berada di depan bibirku, kini beralih menarik pinggangku untuk mendekat ke arahnya.
Dalam posisi yang tanpa jarak, jantungku berdentum keras. Entah karena dua orang yang tadi mengejarku semakin dekat atau malah karena kedekatanku dengan Al saat ini. Entahlah, aku tidak tahu.
Masih dengan salah satu lengan Al yang melingkari pinggangku, aku membekap mulut dengan kedua telapak tangan begitu dua orang yang mengejarku tadi melewati tempat kami bersembunyi. Seiring dengan tanganku terlepas dari mulut, aku menghembuskan napas lega begitu pula dengan Al.
"Kamu ngapain disini, Al?" bisikku kala yakin kalau dua orang tadi sudah benar-benar jauh.
"Aku yang harusnya tanya itu. Kamu kenapa bisa sampai ada disini?" pandangan Al beralih ke kakiku yang telanjang, "gak pakai alas kaki pula. Sandalmu kemana?"
"Aku lepas biar gak menimbulkan bunyi yang cukup menarik perhatian. Ponselku..... ada sama mereka. Tadi sempat bunyi."
Al mengangguk mengerti. Kedua tangannya bertengger di pindakku, "Kinar..... dengar aku! Habis ini, kamu harus kembali ke arah darimana kamu masuk tadi! Disini gak aman. Setidaknya, kalau kamu kembali kesana, mereka perlu waktu buat ngejar kamu. Sebisa mungkin aku bakalan alihkan perhatian mereka."
Aku menggeleng tidak setuju.
Al menepuk pundakku sekali, "Kinar, disini terlalu bahaya. Mereka bersenjata! Kamu harus pergi--"
"Dan tinggalin kamu sendirian? Enggak Al. Lagian aku disini bukan cuma mau main atau uji nyali! Aku mau cari Bagas! Dia ada disini."
"Bagas aman. Yakin sama aku."
"Aku gak bakalan yakin sebelum memastikan dengan mata kepalaku sendiri!"
"Kinar!"
"Al! Dugaanku benar kan Al? Semua korban itu mati karena aku! Aku harus bertanggung jawab. Setidaknya aku harus memutus rantai teror itu!"
"Hey!!!"
__ADS_1
Aku dan Al terkesiap sebelum kami berlari tunggang langgang.
Ah, sial! Kenapa juga mereka harus menemukan keberadaan kami, sih?!
Aku dan Al memutuskan berlari berlawanan arah, meski sebenarnya Al sempat tidak setuju. Katanya terlalu berisiko kalau aku harus berpisah dengannya. Ditambah lagi dengan kondisi kakiku yang sepertinya memang cidera. Sebenarnya apa yang dibilang Al ada benarnya juga. Tapi kalau tidak begini, kemungkinan kami berdua akan tertangkap malah lebih besar. Lebih baik salah satu dari kami bisa keluar dan memanggil bantuan kalau-kalau memang diperlukan.
Aku mohon.... penghuni wilayah ini, keluarlah dan hadang seseorang yang sedang mengejarku itu! Ah, kenapa dalam keadaan mendesak begini mereka malah tak menampakkan diri.
Bugh!
Aku merasakan sesuatu yang keras menghantam kepalaku sebelum aku hilang kesadaran.
👻👻👻👻👻
Kepalaku berdenyut nyeri kala aku baru membuka mata. Dari kepala bagian kiri, aku merasakan sesuatu yang basah. Entahlah, mungkin itu darah? Saat hendak meraba bagian kepala yang mungkin terluka, aku baru sadar kalau kedua tanganku terikat di belakang tubuh. Pun dengan tubuhku yang terikat di batang pohon besar di belakangku.
Sial! Apakah ini akhir dari hidupku? Enggak! Aku gak rela kalau harus mati seperti ini. Dengan gerakan berlawanan, aku mencoba untuk menggerakkan sampul yang mengikat tanganku. Namun sial, sampul ini terlalu kuat. Bukannya semakin kendor malah tanganku yang sakit.
Gerakan tanganku berhenti sejenak kala mataku menangkap bayangan seseorang di sisi lain pohon. Aku menoleh dan melihat bayangan seseorang yang aku yakini berjenis kelamin laki-laki.
Aku memusatkan perhatian sebelum menyadari kalau orang itu adalah orang yang aku kenal, "Bagas....." bisikku.
"Bagas..."
"Sudah bangun? Gimana tidurnya? Enak?"
Mataku otomatis terpejam karena cahaya senter yang langsung diarahkan ke mukaku.
"Kalau saja kamu gak ikut campur, kamu gak bakalan kayak begini..... Ckckck..."
Masih dengan mata terpejam, tubuhku menegang kala mendengar suara itu lagi. Suara itu persis seperti suara yang hampir setiap hari senin memberi amanat pada saat upacara.
"Sudah tahu siapa saya?"
Suara itu kini terdengar sangat dekat. Aku membuka mata pelan dan menoleh ke samping, tepat ke arah orang yang baru saja berbicara, "Bapak......"
"Kenapa? Terkejut?"
"Ba-pak yang bu-nuh me-re-ka?" tanyaku terbata.
Sosok yang ternyata Kepala Sekolahku itu mengusap dagunya beberapa kali, "Jangan asal tuduh! Saya pembeli disini. Saya cuma butuh organ mereka, bukan nyawa mereka. Lagian... saya cuma terima beres. Dia," Kepala Sekolah mengarahkan telunjuknya ke arah orang yang sedari tadi mengarahkan cahaya senter ke mukaku, "yang bunuh mereka semua."
"Ck! Bapak kan tadi sudah janji gak bakal buka kartu!" rajuknya dan diikuti tawa Kepala Sekolah.
__ADS_1
Deg!
Suara itu!
Aku buru-buru menoleh ke seseorang yang terikat di belakangku. Karena cahaya dari senter, aku sedikit bisa mengenali seseorang yang tak sadarkan diri itu, "Al???"
Arrrggghhhh!!!
Kenapa jadi begini akhirnya?
"Al!! Please, bangun!!"
"Dia gak bakalan bangun sampai beberapa jam kedepan, Kinara....." sosok itu mematikan senternya kemudian mendekat ke arahku, "mungkin.... pas temanmu itu bangun, dia udah gak ada di dunia ini lagi."
"Biadab!! Lepasin kita!!" aku berteriak sambil menggerakkan tubuhku.
"Semakin kamu gerak, kamu bakalan semakin kesakitan. Jadi lebih baik kamu diam saja dan lihat apa yang bakalan aku lakukan ke temanmu itu!"
Aku melihat sosok itu mengeluarkan benda yang aku yakini adalah pisau, "Enggak!! Jangan! Aku mohon!" aku berteriak kala sosok itu mendekati Al.
"Cepat selesaikan tugas kamu! Saya butuh organnya segera!"
Aku semakin kalap kala mendengar suara Kepala Sekolah. Air mataku turun dengan deras, "Dasar iblis! Biadab kamu! Apa salah kita? Hah!"
"Ck!" sosok itu kembali mendekat ke arahku. Ia kemudian mengarahkan pisau ke daguku. Aku meringis kala mata pisau berhasil menggores dagu, "Kamu gak salah.... mereka yang salah."
"Apa salah mereka?" tanyaku di sela isak tangis.
"Kamu ingat yang kita bicarakan siang itu? Ini memang berhubungan sama kamu."
"Sialan! Apa salah aku?! Kalau kamu ada masalah sama aku, kenapa kamu harus melibatkan mereka? Hah!"
"Kamu gak salah sih. Yang salah itu mereka! Kenapa mereka deketin kamu? Dan aku.... gak suka itu!"
"Dasar gila!" teriakku.
"Benar Kinara! Aku gila karena udah suka sama kamu! Dan sepertinya rasa suka ini udah berubah jadi obsesi."
Kenyataan apa lagi ini, Tuhan?
Dengan isak tertahan, aku berteriak, "Udah gak waras kamu, Bagas!"
👻👻👻👻👻
__ADS_1