
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, aku akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum pulang aku menyempatkan diri menengok keadaan Al. Keadaannya sudah membaik. luka di sepanjang dadanya mendapat lima belas jahitan. Sedangkan luka yang aku buat di punggungnya mendapat tiga jahitan. Untung saja kesemua lukanya tak terlalu dalam.
Saat aku sampai di ruang rawat Al, kulihat Al tertidur. Kata ibunya, dia baru saja tidur, jadi aku tak ingin membuatnya terganggu. Melihatnya baik-baik saja sudah cukup untukku.Begitu sampai di rumah, aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah. Namun nihil, Mina tak terlihat. Mungkin dia ada di kamar kali ya?
"Mah, Pah, Kinar ke kamar dulu ya? Kinar mau istirahat sebentar," kataku pada kedua orang tuaku yang juga baru masuk rumah.
Saat aku membuka pintu kamar, tetap tak ada sosok Mina. Aku hanya melihat sosok anak kecil dengan kepala penuh darah sedang berdiri di samping ranjang. Aku tak ingat pernah melihat bocah ini. Ah, mungkin dia baru datang saat aku dirawat di rumah sakit.
Aku berjalan mendekati sosok itu. Tak ada salahnya, kan kalau aku bertanya mengenai keberadaan Mina padanya, "Hai," sapaku, "kamu..... sejak kapan ada di sini?" tanyaku kemudian.
Bocah laki-laki itu hanya diam memandangku.
Aku memandang bocah itu dengan tatapan sendu, "Kamu gak mau jawab, ya? Gak pa-pa, kok. Aku.... mau tanya. Boleh, gak?" tanyaku pelan.
Bocah itu menganggukan kepala dua kali.
Aku menghembuskan napas lega, "Kamu.... ada lihat sosok perempuan bermata berlubang dan berambut panjang, gak?" kataku sambil membuat garis dengan telapak tangan di punggung.
Bocah itu menggeleng, "Pergi."
Hah? Apa katanya? Dia mengusir aku? Yang benar saja! Sebenarnya ini salah satu yang membuat aku tidak suka memiliki kemampuan melihat makhluk gaib. Terkadang mereka adan bertindak tidak tahu diri dan seenaknya sendiri. Yah, meskipun tidak semuanya juga. Hanya saja, bukankah itu menjengkelkan?
"Dia.... pergi."
Aku kembali memusatkan perhatian kala bocah itu berbisik pelan. Aku tak mengerti maksudnya. Saat hendak menanyakan maksud ucapannya, bocah itu telah berjalan pelan dan menghilang di balik tembok.
Aku terduduk di ranjang. Pikiranku melayang pada kejadian beberapa bulan ini. Tak dipungkiri, aku juga memikirkan awal pertemuan kita dengan sosok Mina. Saat itu, Mina muncul kala terror di sekolah mulai muncul. Dan kini saat terror itu telah berakhir, Mina malah menghilang.
__ADS_1
Tunggu!
Mungkinkah yang dimaksud bocah tadi adalah Mina? Mina pergi? Tapi kemana? Seharusnya dia masih di sini. Meledekku karena jatuh cinta pada sahabat sendiri atau mungkin saat ini sedang tertawa tidak jelas di atas lemariku.
Mina, kuntilanak itu kenapa harus menghilang di saat aku sudah nyaman mengenalnya? Lagipula, kalau dia memang mau pergi, kenapa tidak bilang kepadaku terlebih dahulu? Tidak sopan sekali dia itu.
👻👻👻👻👻
Keesokan harinya, aku memulai aktivitasku seperti biasa. Karena Al masih di rawat di rumah sakit, hari ini aku berangkat diantar oleh Papah.
Omong-omong soal Papah. Malam itu, beliau baru sampai di kesatuan kala mendapat kiriman share location yang sempat aku kirimkan pada Mamah. Beliau yang bahkan masih berseragam lengkap tanpa pikir panjang menyambar senapan dan mengajak dua temannya pergi.
Alasannya hanya satu, khawatir aku berada dalam bahaya. Terlebih lagi, beberapa waktu belakangan berita tewasnya murid di sekolahku tengah santer dibicarakan di seluruh penjuru negri.
"Kinar berangkat dulu, Pah." aku mencium punggung tangan Papah sebelum keluar dari mobil.
Aku bergumam sebelum keluar dari dalam mobil.
Sejauh ini, kedua orang tuaku seperti lebih berhati-hati kala berbicara denganku. Mereka sangat menjaga ucapannya. Bahkan satu kata tentang kejadian malam itu tak pernah mereka bahas meski aku yakin mereka sangat penasaran tentang keberadaan ku di sana bersama Al. Aku sangat menghargai keputusan mereka yang mungkin berniat menjagaku dari ingatan yang mengerikan itu.
Sesering apapun aku melihat penampakan mengerikan yang ada di depan mata, namun menurutku masih lebih mengerikan tawa tan binar di mata Bagas malam itu. Aku masih tak habis pikir, bagaimana mungkin selama ini dia begitu tenang menyembunyikan kejahatannya.
"Kinar! Kamu sudah dengar berita kalau kepala sekolah ditangkap polisi?"
Suara yang muncul dari sampingku membuat aku menoleh. Kulihat Deva berjalan bersisian denganku.
Tentu saja aku tahu karena aku berada di lokasi kejadian. Namun, apa yang ada di pikiranku itu tak mungkin aku ucapkan.
__ADS_1
"Oh, iya. Ada kabar duka lagi," kali ini Deva mengucapkannya dengan nada sendu, "kamu tahu Bagas anak jurnalis, kan? Dia... meninggal."
Aku menatapnya penasaran. Apakah kenyataan bahwa Bagas adalah pelaku dari pembunuhan sebelumnya sudah diketahui, "Kamu.... tahu meninggalnya karena apa?" jujur, malam itu aku tidak terlalu memperhatikan bagaimana keadaan Bagas.
Deva menggeleng, "Kecelakaan kayaknya. Waktu itu, aku dengar kata anak jurnalis yang mau melayat, Bagas dikuburkan di kampung halaman ibunya. Jadi, saat mereka ke sana, rumahnya kosong."
Huft! Untung saja.
"Oh, iya! Kalau kepala sekolah ditangkap polisi karena apa?" tanyaku kemudian.
"Korupsi. Gila ya! Ternyata selama ini dia korupsi uang donasi untuk siswa tidak mampu. Dengar-dengar juga dia ikutan terjun dalam pasar gelap. Hiiihhh!!! Gak kebayang, kan?" katanya sambil meminta persetujuan. "oh iya, katanya kamu abis jatuh sama Al, ya? Ah, akhir-akhir ini kok banyak yang kecelakaan sih? Bagas, terus kamu dan Al. Kok bisa sih? Gimana ceritanya?"
Aku bahkan belum tahu apa yang dikatakan orang tuaku pada pihak sekolah tentang absensi ku. Dan aku baru tahu kalau dikira kecelakaan.
"Oh, aku gak pa-pa, kok. Cuma memar-memar dikit. Al yang dapat beberapa jahitan." jelasku. Tentu saja berbohong. Karena skenario sudah disusun, aku hanya perlu mengikuti alurnya, kan?
"Syukurlah kalau gak parah."
Aku hanya mengangguk mengiyakan sebelum memasuki kelas dan kami berpisah di kursi masing-masing. Aku menyusuri penjuru kelas untuk memastikan keberadaan Mina. Namun nihil. Kuntilanak itu hilang entah kemana.
Dalam keterdiamanku, beberapa teman sekelas mendekat untuk menanyakan keadaanku yang aku balas dengan kata 'baik-baik saja'. Beberapa dari mereka juga ada yang menceritakan sedikit berita yang menerpa sekolah sebelum jam pelajaran dimulai.
Aku lega, setidaknya kenyataan mengenai Bagas dan kepala sekolah tidak terungkap. Seandainya saja mereka tahu kebenarannya, aku tidak jamin kalau aku akan lebih kesulitan kala diberondong pertanyaan untuk memutuskan rasa penasaran mereka.
Sudah bagus begini saja. Setidaknya, kehidupanku di sekolah akan baik-baik saja. Biar. Biarkan kisah malam kelam itu hanya aku dan Al yang tahu.
👻👻👻👻👻
__ADS_1