
Kemarin saat pulang sekolah, hujan turun cukup deras disertai guntur dan kilat. Rencana awalku ingin mengantarkan tas sekolah milik Intan gagal total. Boro-boro mau mengantar tas, aku dan Al bahkan baru bisa pulang setelah adzan ashar berkumandang. Padahal kemarin cuaca cukup terang, entah kenapa malah berubah drastis saat siang.
Karena ini hari libur dan kupastikan Al masih bergulung dalam selimut, aku memutuskan untuk mengantar tas milik Intan sendirian. Setelah memikirkan kemungkinan kecil akan ada atau tidaknya seseorang di rumah mewah Intan, aku memutuskan untuk mengantarkan tasnya ke rumah sakit saja. Sekalian menjenguk dan membawa beberapa buah tangan. Mungkin parcel buah cocok untuk aku bawa ke sana.
Sembari menggendong tas Intan di punggung dan tangan kanan memegang sekeranjang kecil parcel buah sederhana, aku menghampiri meja nurse station untuk menanyakan ruangan tempat Intan di rawat.
Begitu mengantongi nomor kamar dari seorang perawat, aku langsung menyusuri lorong sambil melihat nomor kamar yang tergantung di setiap pintu.
Begitu menemukan kamar yang kucari, dengan langkah ringan aku berjalan ke sana. Namun, langkahku melambat saat aku hampir tiba di depan pintu kamar. Entah hal apa yang sedang terjadi di dalam sana. Tapi, beberapa perawat tergesa masuk ke dalam kamar yang aku yakin tempat di mana Intan dirawat. Jeritan dan raungan seorang wanita terdengar dari dalam sana. Tangisan keras itu disertai berkali-kali nama Intan terucap. Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Saat aku masuk ke dalam, suasana di sana sangat ribut. Di depan kaki ranjang, seorang wanita cantik menangis sambil berusaha membekap mulut. Di sampingnya, Laki-laki yang kutemui beberapa hari lalu bersama Intan terlihat berusaha menenangkan si perempuan dengan memeluknya dari samping.
Beralih ke samping kanan dan kiri ranjang, keadaan malah semakin menegangkan. Di sana, terbaring satu-satunya pasien yang ada di ruangan ini. Tubuhnya mengejang membuat beberapa perawat dan seorang dokter terlihat sibuk. Terlihat, si dokter menyuntikkan sesuatu ke dalam selang infus Intan. Tak lama tubuh Intan sudah berhenti mengejang. Perlahan, Intan membuka matanya dan entah kenapa tatapannya jatuh tepat ke arah di mana aku berada. Suasana yang tadinya tegang, perlahan mulai tenang. Si dokter terlihat menghembuskan napas lega.
Wanita cantik yang aku yakin adalah ibu Intan berjalan ke samping ranjang. Tangannya terulur untuk mengelus surai Intan yang sedikit berantakan, "Mama takut sekali kamu kenapa-napa," katanya pelan.
Intan tak merespon ucapan mamanya, ia tetap menatap ke arahku tanpa melakukan pergerakan kecil atau berbicara sepatah kata, seakan-akan aku adalah satu-satunya objek yang bisa ia lihat.
Cukup lama mata itu menatapku sebelum tertutup rapat. Mama Intan kembali menangis kencang saat dokter mengumumkan bahwa detik itu juga tanggal serta jam kematian Intan.
Mendengar itu, keranjang buah di tanganku jatuh ke lantai. Plastik yang melindunginya dari luar sobek, menyebabkan beberapa buah menggelinding bebas. Aku terlalu terkejut dengan kejadian yang saat ini aku saksikan. Rasanya sangat tak percaya kalau Intan telah tiada. Padahal kemarin dia masih terlihat sehat sebelum mimisan itu. Aku menunduk, menghapus setitik air mata yang jatuh sebelum perlahan berjalan keluar. Aku sedang tidak ingin mengganggu keluarga yang sedang dilanda duka itu. Pasti sangat berat bagi orang tua Intan. Apalagi seperti yang aku dengar Intan merupakan anak tunggal.
__ADS_1
Aku berjalan lesu di sepanjang lorong rumah sakit. Beberapa penampakan muncul di depanku. Mulai dari yang mukanya hanya pucat saja sampai yang berdarah-darah pun banyak. Tapi entah mengapa aku bahkan tak bereaksi sedikitpun.
Aku berhenti sebentar tepat di lorong depan taman. Aku menumpukan bahuku pada dian bangunan. Menatap langit yang sejak tadi pagi memang tak mengizinkan sinar matahari menyapa. Aku menghembuskan napas kasar. Dadaku rasanya sesak sekali. Bahkan langit pun seakan ikut merasakan kesedihan itu. Terbukti tak lama rintikan hujan mulai jatuh membasahi bumi.
Tuhan.... mengapa Kau ambil dia?
Huft! Mungkin memang ini sudah jalannya. Mungkin dengan mengambilnya, Tuhan ingin menghentikan semua kesakitan Intan selama ini.
"Indigo.... hihihi..."
Aku menoleh pelan saat Mina tiba-tiba muncul tepat di sampingku. Kuamati visualnya sebentar sebelum kembali menatap hujan.
"Intan pergi, Mina...." kataku pelan.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya, "Kamu benar. Tapi kenapa setiap kepergian harus meninggalkan luka yang mendalam?"
Mina terdiam sebentar, "Mungkin karena yang ditinggalkan merasa belum siap.... hihihi..."
"Kamu benar. Bahkan semua orang pasti merasa tidak siap kalau harus ditinggalkan. Yang pamit terlebih dahulu sekali pun apalagi yang langsung pergi begitu aja. Iya kan?" aku menoleh ke arah Mina, meminta jawaban. Namun kuntilanak satu itu hanya diam saja, "aku benar, kan, Mina?"
"Hihihi.... kamu benar. Bahkan kami yang sudah mati pun masih sering menyesal meninggalkan orang yang kami sayangi.... hihihi..." katanya sebelum menghilang. Huft! Selalu seperti ini. Mahluk seperti Mina terlalu tidak nyata. Mereka suka pergi dan muncul secara tiba-tiba. Entah saat dibutuhkan ataupun tidak. Meski sebenarnya, saat ini aku sangat membutuhkan teman bercerita. Lantas aku harus bercerita dengan siapa mengenai kesedihanku ini? Pada rumput yang bergoyang di depan sana?
__ADS_1
Ugh! Seperti tersadar akan sesuatu, aku meraba punggung yang masih mengenakan tas milik Intan. Aku melepasnya, kemudian mendekapnya dengan erat. Aku ingin sekali menyalurkan kesedihan ini.
Huft! Aku tidak menyangka kalau niatku untuk mengembalikan tas harus berakhir seperti ini. Menyaksikan kematian seseorang yang sama sekali tak aku duga.
Ponsel di saku celanaku berdering membuat aku buru-buru mengeluarkannya. Melihat kontak si penelepon, aku malah ragu harus mengangkatnya atau tidak. Dering ponsel di genggamanku berhenti sebentar sebelum kemudian berbunyi lagi. Masih dengan kontak yang sama. Setelah cukup lama berpikir untuk menjawabnya atau tidak, aku akhirnya menggeser tombol hijau.
"Kin, kamu kemana? Kata mama kamu, kamu udah keluar dari tadi. Ini aku lagi di rumah kamu. Katanya kemarin mau nganterin tasnya Intan?" katanya saat panggilan kami terhubung.
"Aku.... di rumah sakit."
"Lho suara kamu kenapa? Kamu sakit? Ngapain ke rumah sakit? Kamu jangan bikin aku khawatir deh, Kin!"
Aku tersenyum kecil mendengar nada khawatir dari balik telepon, "Aku gak pa-pa kok. Ini mau pulang."
"Suara kamu bikin aku khawatir, Kin? Kamu beneran gak pa-pa, kan?"
"Iya, beneran. Ini mau pulang. Aku matiin, ya?"
"Iya. Pulang pakai taksi aja soalnya ini hujan!"
Aku berdehem menanggapi seruan Al. Aku menghembuskan napas kasar sekali lagi, kembali memakai tas Intan sebelum akhirnya berjalan menuju pintu keluar. Hari ini..... benar-benar hari yang tak terduga.
__ADS_1
👻👻👻👻👻