
"Rama..." saat Chastella berbalik terlihat sebuah tangan yang terkubur di dalam tanah, tangan tersebut menggunakan gelang, Eneas tau itu gelang siapa
dengan segera Eneas berlari dan memeluk Chastella untuk menenangkannya, ia merobek bajunya lalu menutup luka Chastella
para guru tanpa berkata apapun langsung menghubungi polisi dan ambulan
"N, kenapa Rama bisa ada disitu" Chastella terus menangis di dalam pelukan Eneas, tidak ada yang berani mengeluarkan suara
"ini mungkin bukan Lucifero, pembunuh gak cuman dia tella" Nathan berkata seperti itu namun tak merubah apapun, dia tau itu ulah Lucifero
"kain hitam kecil yang terlilit di tangan kiri nya, setiap mayat korban Lucifero di iket sama kain itu, Atsume sama Hamaru juga sama, iyah kan mis" yang di tanya hanya mengalihkan wajahnya, benar! dari awal mereka sangat tau jelas bahwa pelakunya Lucifero
saat ini ambulan dan polisi telah datang, Chastella di beri pertolongan pertama karna untuk di jahit dia harus datang ke rumah sakit, namun sejak tadi dia tak mau bergerak sama sekali dari tempat nya
dari tempat nya terlihat jelas mayat Rama yang terbujur dingin, saat penggalian mayat Chastella tak berhenti menangis melihat wajah Rama yang di keluar dari tanah
"dia gak salah apa-apa kan" isak Chastella tak henti
"seharusnya yang dia bunuh gue bukan dia" semua yang mendengar hal tersebut membelalakkan matanya, bagaimana bisa dia berbicara hal tersebut
"kita pulang, biar polisi yang urus ini" Eneas menggendong Chastella dan membawa nya ke area perkemahan
seluruh siswa sibuk membereskan barang dan tenda, mereka terlalu sibuk dengan kegiatan mereka yang terlihat sangat terburu-buru hingga tak perduli siapa dan mengapa gadis tersebut di gendong oleh Eneas
ting
Lucifero : gimana? keren kan, aku takjub banget sama ekspresi kamu, kamu selalu cantik mau apapun ekspresi yang kamu buat. sampai jumpa di pertunhukkan selanjutnya
Eneas mengumpat saat membaca pesan tersebut, Chastella tertidur di pangkuannya jadi dia tak akan makin terguncang dengan pesan tersebut. Eneas meminta teman-temannya membereskan barangnya dan Chastella, lalu dia menuju bis duluan tentu saja dengan izin para guru
.
.
"gue udah bilang kan jangan jadiin target orang gak bersalah" teriak seseorang dengan ponsel nya
__ADS_1
"kenapa? lo gak liat betapa cantik nya gadis gue yang kayak gitu, itu lebih dari kata layak untuk di lakuin" jawab seseorang dari seberang sana dengan kekehan kecil nya
"lo masih gak bisa hargain gue, jangan hanya karna gue cinta sama lo jadi lo bisa seenaknya"
"cih padahal lo aja ngekhianatin temen-temen lo karna cinta jadi gak usah sok suci, gue bisa seenaknya karna gue tau lo gak akan bisa pergi dari gue walaupun cinta gue buat orang lain"
"AYOKK SEMUANYA KITA AKAN KEMBALI KE SEKOLAH SEKARANG JUGA, PERIKSA BARANG BAWAAN JANGAN SAMPE ADA YANG TERTINGGAL"
"lo udah di panggil tuh, pulang sana. nanti dateng aja ku rumah gue"
sambungan telfone pun terputus, sang gadis pun menghela nafas lalu kembali pada teman-temannya, tanpa curiga teman nya pun merangkul gadis tersebut dan mengajak untuk menuju bis
.
.
Eneas merebahkan tubuh nya pada kasur miliknya, dia baru saja sampai setelah mengantarkan Chastella ke rumah sakit juga mengantarnya pulang
"kak, N gak akan pernah bisa lupain apa yang terjadi 2 tahun yang lalu, kakak harus tau sekarang N ngehadapin hal yang sama bahkan lebih parah dari pada 2 tahun yang lalu" Eneas menatap foto yang tergantung di dinding kamar nya
Ia pun meraih ponsel nya lalu menghubungi seseorang "Wira, izinin gue ketemu sama Kak Aruna, besok kalau bisa karna ada yang mau gue tanyain"
"kalau gitu lusa"
"ada hubungan sama insiden ini?"
"kurang lebih ada hubungan nya sama pengkhianat yang Chastella bahas tempo hari, gue agak risih sama hal itu"
"kalau gitu sekarang gue coba hubungin kakak dulu" mendengar hal tersebut Eneas mematikan sambungan nya lalu beranjak menuju meja belajar nya
Ia meraih salah satu berkas yang menumpuk di meja nya, lalu membolak balikkan dan membaca dengan seksama kata demi kata "Ivona yer zamora, entah kenapa gue selalu gak suka sama aroma yang nempel di tubuh lo"
ceklek
"gue udah bawain apa yang lo minta" Revdian datang dengan sebuah totebag di tangannya lalu menyerahkan nya pada Eneas
__ADS_1
"ternyata bener ini yang gue cium malam itu" ucap Eneas setelah mencium perfume yang Revdian bawa, sama dengan yang Chastella sebutkan malam itu
"juga sama dengan aroma tubuh Ivona? Yah walaupun samar" ucap Revdian, Eneas mengangguk
"berarti pertanyaannya malam itu memang Lucifero yang datang langsung atau Ivona sebagai kaki tangan? tapi di liat dari pesan nya dia kirim ke Chastella artinya dia ada di tempat" jelas Revdian
"mungkin, tapi bisa juga dia ada di tempat cuman sewaktu mayat nya Rama di temuin doang kan" jawab Eneas
"kita pikirin kemungkinan terburuk nya, untuk saat ini jangan kasih tau siapa pun soal yang kita bahas sekarang, biar gue yang urus gimana caranya nanganin Ivona" Revdian mengangguk lalu mengambil kue yang ada di kamar Eneas
"kita udah terlanjur terlibat yah gak mungkin tiba-tiba kita nyerah" ucap Revdian dengan santai mengunyah kue tersebut
"gue gak mungkin biarinin cewek gue tersiksa, lagi" -Eneas
"anjir udah bukan sekedar taruhan yah tapi serius ini, udah lupa sama Rose berarti" goda Revdian
"cih lo kata novel apa segala kayak begitu, udah lah yah gak usah banyak drama. nyebut Rose terus lo" -Eneas
"minggu depan kan peringatan nya" tanya Revdian, Eneas tak menjawab dia pura-pura sibuk dengan berkas nya
"ckck lo udah cerita ke Chastella?" Revdian mendengus lalu bertanya kembali
"emang harus?"
"goblok, lo serius gak sama Chastella?" tanya Revdian kesal
"niat nya sih gitu, lagi pun kalau gak serius gue di hajar Nathan" jawab Eneas santai
"yaelah mantapin tuh hati, kalau gak Chastella gue rebut" jawab Revdian tak kalah santai
"jangan berani-berani lo atau gue hajar"
"makanya serius, setelah itu ceritain semua nya ke dia" jawab Revdian, saat Eneas berbalik dia melihat pemandangan yang sangat mengesalkan menurutnya, Eneas mengambil bantal yang tak jauh dari nya lalu melemparkannya ke arah Revdian
"kurang ajar yah lo pantes anteng dari tadi, itu buatan Nini buat gue, sialan banget mana udah habis" sedangkan Revdian hanya menjulurkan lidah dan melanjutkan kegiatan makan nya
__ADS_1
"tapi kenapa banget harus Rama yah" gumam Eneas
"kita gak akan pernah tau motif nya apa kalau kita pun gak tau cerita hidup Lucifero, mungkin kita harus minta penjelasan ke mereka berempat" jawab Revdian, Eneas mengangguk setuju bagaimana pun mereka masih sangat jauh dari kata bisa menangani nya