Obsesi

Obsesi
Di Ambang Kematian


__ADS_3

Udara terasa sangat panas kala aku berhasil membuka mata. Ruangan bewarna merah adalah hal yang pertama kali aku lihat. Bangku-bangku berjajar dengan rapi dengan papan tulis di depannya. Ruangan ini cukup familiar. Mungkinkah ini ruang kelasku? Tapi sejak kapan catnya ganti warna merah? Aku bangun---dari yang entah sejak kapan---tertidur di mejaku. Aku berjalan ke arah pintu kelas yang ternyata dikunci.


Brak! Brak! Brak!


"Ada orang gak sih di luar? Siapa pun yang denger bukain, dong!" teriakku sambil menggedor pintu. Ck! Gak lucu sekali. Ini siapa sih yang mau main-main?


Tak kehilangan akal, aku beralih ke jendela di samping pintu. Seingatku jendela ini muat dimasuki oleh satu orang.


Sial! Kenapa gak bisa dibuka? Lalu, gimana aku bisa keluar dari dalam sini? Ah, ya. Ponsel.


Aku bergegas kembali ke tempat semula untuk mencari ponsel di dalam tas. Namun, jangankan ponsel, tasku saja tidak ada. Hah! Ini gimana sih?


Deg!


Di tengah kekalutan, aku baru sadar kalau aku tak memakai seragam sekolah. Hanya kaos tipis berlengan panjang yang dipadukan dengan celana training hitam.


Brak!


Bunyi benturan keras tiba-tiba terdengar. Suaranya cukup memekakkan telinga sehingga aku menutup kedua telinga dengan menggunakan telapak tangan.


Arrggghhh!!!


Tidak sampai di sana, tiba-tiba kepalaku berdenyut sakit. Saking sakitnya, aku sampai jatuh terduduk di lantai sambil memegang kepala dengan sebelah tangan. Bayangan motor yang tertabrak mobil box tiba-tiba muncul. Samar-samar orang berdatangan dan bau anyir darah mulai tercium. Badanku menggigil ketakutan kala aku melihat gadis yang terpapar mengenaskan di jalan adalah aku.


Aku ingat itu. Aku ingat kalau sebelumnya aku mengalami sebuah kecelakaan. Lalu, di mana aku sekarang? Mungkinkah ini alam Barzah? Mungkinkah aku sudah mati?


"Arrgghhh!!!" sebuah suara jeritan membuat aku mendongak. Perlahan, aku mulai bangkit dan mengintip dari jendela. Sesuatu sedang terjadi di luar sana. Beberapa orang berkumpul. Aku tersenyum senang, itu artinya aku selamat.


Baru saja hendak berteriak, mendadak suaraku tertahan di ujung lidah. Pasalnya pemandangan di depan sana seperti pernah aku lihat sebelumnya. Tidak salah lagi. Aku menatap horor ke sekeliling. Sialan! Situasi ini adalah situasi yang aku mimpikan di sekolah. Bagaimana bisa aku kembali ke sini? Apa aku sedang bermimpi lagi? Atau....

__ADS_1


Aku menelan ludah gugup dengan pemikiranku sendiri. Aku kembali mengintip dari balik jendela. Beberapa sosok di depan sana terlihat sedan berlalu dengan menyeret tubuh seseorang yang terlihat cukup mengenaskan. Begitu sosok itu pergi, aku mulai mencari cara agar dapat keluar dari ruangan ini. Pandanganku berkeliling mencari sesuatu yang kiranya dapat digunakan untuk membuka pintu atau jendela. Merasa tak menemukan sesuatu, aku mulai beranjak dan meraba loker tiap meja, barangkali menemukan sesuatu. Di loker ke tujuh belas, gerakan tanganku terhenti kala menemukan sesuatu. Perlahan, aku mengeluarkannya dari dalam loker.


Hah, obeng? Orang gabut mana yang ke sekolah membawa obeng?


Persetan lah, mengenai pemilik obeng ini. Aku hanya perlu mengutak-atik lubang kunci pintu menggunakan alat ini lalu keluar dari ini. Cukup lama berjongkok di depan pintu, namun nihil. Aku tetap tak bisa membuka pintu ini!


Tak ingin patah semangat, aku mencoba membuka jendela. Karena kelas ini berada di lantai dua, terpaksa aku harus membuka jendela bagian depan. Lama aku mengutak-atik baut gerendel dan voila, jendela terbuka.


Tanpa membuang waktu, aku menggeser meja terdekat ke tepi tembok. Tak terlalu susah memanjat karena kebetulan aku menggunakan celana. Tanpa banyak waktu, aku melompat dari jendela setinggi satu setengah meter.


Brugh!


"Ouchhh!!! Kakiku....." rintihku kala kaki kanan tak mendarat mulus.


"Rawwrrrrr!!!"


Gluk!


Aku menelan ludah kasar kala melihat sesuatu yang buruk. Buru-buru aku bangkit dan berlari dengan sebelah kaki pincang.


"Mamah!!!"


👻👻👻👻👻


Setengah jam setelah kecelakaan.....


Prangggg!!!


Adonan kue yang baru akan masuk ke oven terlepas dari pegangan seorang wanita. Perlahan, adonan kental berwarna kekuningan merembes dan menyebar luas di lantai berkeramik putih.

__ADS_1


"Kinar!!!"


Sebuah mobil sedang berpacu di jalanan yang cukup padat. Klakson berkali-kali ditekan kala kendaraan di depannya tak kunjung mempercepat laju kendaraan.


"Hiks.... Pah... Kinar, Pah...."


Pria yang sedang menyetir mobil itu menginjak gas lebih dalam. Matanya begitu fokus memandang jalanan.


Ketukan sepatu dan keramik yang menggema di lorong IGD sebuah rumah sakit membuat beberapa keluarga pasian yang berjaga di luar menoleh penasaran. Sebenarnya, bukan hal baru lagi bagi mereka. Terlebih di saat cukup lama menjaga keluarga yang sakit, cukup banyak kejadian yang menyita perhatian. Contohnya seperti pasangan suami istri yang baru tiba itu.


"Benturan di kepala pasien kemungkinan cukup kuat dilihat dari luka yang didapat. Darah merembes masuk ke dalam otak. Bagaimana pun juga, tindakan satu-satunya yang bisa untuk menyelamatkan pasien adalah dengan operasi." seorang dokter yang membawa rekap medis menerangkan.


Papah Kinar terdiam, "Apakah ada harapan untuk putri saya?"


"Dalam atau setelah operasi, segala kemungkinan bisa terjadi, Pak."


"Pah...." Mamah Kinar memegang lengan suaminya. Air mata yang sempat surut tadi, kini kembali deras, "Mamah gak mau kehilangan Kinar, Pah." isaknya.


Mungkin berat bagi Papah Kinar. Ia menatap mata istrinya dalam sebelum menatap sang dokter pria di hadapannya. Hatinya sedang bimbang. Menimbang segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Lama berperang dengan pikiran, akhirnya tanpa pikir panjang ia mengambil kertas yang diberikan sang dokter dan menandatanganinya, "Lakukan yang terbaik, Dokter. Saya mohon."


Dua jam berlalu sejak Kinar masuk ke dalam ruang operasi, namun, tak ada tanda-tanda para petugas medis di dalam sana akan keluar. Mamah Kinar sedari tadi tak berhenti menangis. Sedangkan di sampingnya, sang suami terus memanjatkan doa untuk putrinya yang sedang berjuang di dalam sana. Kinar adalah gadis yang kuat. Ia yakin putrinya itu akan bertahan.


Jarum jam terus berputar. Kini, sudah empat jam lampu ruang operasi di dalam sana menyala. Doa masih terus dipanjatkan kala lampu ruang operasi padam. Melihat itu, orang tua Kinar langsung bangkit tanpa diperintah. Dua orang dokter keluar masih dengan seragam biru lengkap minus sarung tangan. Tak lama, beberapa lainnya terlihat mendorong sebuah brankar pasien keluar. Terlihat Kinar yang memejamkan mata di atasnya. Kepala gadis itu terlilit perban.


Papah Kinar berjalan mendekat ke arah fokter yang memimpin operasi. "Bagaimana, Dok?"


Dokter itu menggeleng, "Kami akan memindahkan pasien ke ruang ICU. Bapak dan ibu mohon bantu doa, semoga....akan datang sebuah keajaiban."


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2