
Setelah semalaman memikirkan risiko dalam menghentikan teror di sekolah, aku memutuskan untuk melakukannya sendiri. Jika nekat melibatkan Al, aku tak tahu ke depannya akan jadi seperti apa. Aku benar-benar tidak ingin Al berada dalam bahaya.
Dan pagi ini, saat aku baru sampai di sekolah, dari kejauhan aku sudah nampak sinar merah pekat itu. Tentu saja bersama Intan.
Aku yang berjalan di samping Al langsung mengernyit begitu Intan menghampiri kami. Dan dengan lancangnya, tangan Intan langsung bergelayut di dengan milik Al.
Sumpah Demi apapun, aku benar-benar muak melihat pemandangan ini. Dan yang lebih memuakkan lagi, Al terlihat seperti biasa saja. Apa dia tidak risih? Aku saja yang hanya melihat sudah risih?
Menghembuskan napas perlahan, aku berjalan melewati mereka berdua.
Tidak ada cara lain, sedari awal aku terus memperhatikan pergerakan Intan. Bahkan hingga Intan izin ke kamar mandi pun, aku melakukan hal yang sama. Pokoknya, dia tidak boleh lepas dari pengawasanku.
Jam pulang sekolah pun telah tiba. Sedari awal pelajaran hingga selesai, menurutku gerak-gerik Intan masih berada di dalam hal yang wajar. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan memulai aksinya dalam mencari korban.
"Hai, Kinar!"
Aku terkesiap saat seseorang menepuk pundakku pelan. Sambil sesekali melihat Intan, aku menoleh ke seseorang yang baru saja berujar.
Aku mengatupkan mulut, berusaha mengingat siapa pemuda di hadapanmu. Namun nihil. Aku sama sekali tak mengingatnya. Atau mungkin aku memang tidak mengenal pemuda ini? Ah, entahlah.
Melihat kebingungan, pemuda itu mengangsurkan tangan kanannya, "Anjar," katanya memperkenalkan diri.
Aku mengangguk, "A--ah.... anak kelas dua belas, kan?"
Pemuda itu mengangguk senang, "Yep! Aku udah lama lho perhatiin kamu," katanya.
Huh? Apa katanya?
"Boleh gak kalau kita temenan?"
__ADS_1
--Oh.... Temenan....
"Siapa tahu habis jadi temen, kita bisa lebih dari sekedar temen, kan?"
What the......
Gara-gara pemuda di depanku, saat aku beralih untuk melihat Intan lagi, dia sudah menghilang. Haissshhh.... Bagaimana pun, hari ini Intan tidak boleh lepas dariku! Sinar merah yang mengelilinginya hari ini berwarna lebih pekat. Dan kalau aku tidak salah ingat, setiap sinar yang mengelilingi tubuh Intan berwarna pekat, keesokan harinya akan ada kabar murid sekolah ini meninggal dengan cara yang sama.
Tanpa banyak kata, aku mengiyakan ucapan pemuda bernama Anjar itu. Aku hendak bergegas pergi, namun tangan Anjar menangkap pergelangan tanganku. Aku berbalik dan bertanya maksud perbuatan Anjar dengan isyarat mata.
Anjar yang mengerti maksudku langsung melepas cekalan tangannya, "Oh, maaf!"
"Ada yang mau dibicarakan lagi, kak? Kalau enggak aku mau pulang!" kataku dengan tidak sabaran.
"Oh, itu..... karena kita udah temenan, boleh dong aku minta nomer ponsel kamu?" tanyanya seraya mengeluarkan ponsel dari saku celana.
Tanpa banyak bertanya lagi, aku segera mengucapkan beberapa digit angka. Anjar mengulang ucapanku sebelum mengucapkan terima kasih sambil mengacungkan ponselnya tepat di samping kepala.
Al berhenti di sampingku lengkap dengan motornya. Namun di saat yang sama, seorang driver ojek online melintas di depanku dengan seorang gadis yang sejak tadi aku cari duduk di boncengannya.
"Eh, aku masih ada urusan. Kamu pulang duluan aja!" kataku sambil berlari menyusul angkutan umum yang hampir berjalan.
"Pak!!! Tungguin!!!" teriakku.
Begitu angkutan umum itu berhenti, tanpa kata aku langsung menaikinya. Aku menghembuskan napas lelah ketika isi angkot itu hampir penuh. Untung saja masih ada sedikit ruang tersisa tepat di belakang sopir.
Angkot yang kunaiki mulai berjalan. Tanpa mempedulikan keadaan sekitar, aku fokus melihat ojek online yang dinaiki Intan. Beberapa kali angkot berhenti dan itu membuat jarak antara angkot yang kunaiki dan Intan semakin jauh.
"Pak, bisa lebih cepat gak?" tanyaku.
__ADS_1
"Ya kalau mau cepet jangan naik angkot lah, dek!" jawab si sopir.
Asem! Pedes banget itu ngomongnya. Sarapan cabe sekilo kali ya si bapak sopir ini? Aku mengamati seisi angkot yang tersisa tujuh orang beserta aku dan si sopir, keempat penumpang yang duduk di belakang bersamaku, menatapku dengan pandangan yang sedikit membuatku risih. Kalau saja aku tidak sedang mengikuti seseorang, sudah dari tadi aku turun dari angkot ini.
Tanpa mempedulikan sekitar, aku kembali mengamati ojek online Intan yang sudah cukup jauh di depan. Saat itu juga, motor mereka berbelok di kiri jalan.
Begitu angkot yang aku naiki hampir dekat dengan tempat Intan tadi berbelok, aku segera mengisyaratkan sopir untuk berhenti. Aku merogoh saku kantong baju dan menemukan selembar lima ribuan di sana. Tanpa menunggu kembalian, aku segera melesat, berlari masuk ke dalam gang yang ternyata sebuah perumahan elit.
Hoo... Tidak heran kalau gaya Intan cukup berkelas. Lha wong dia orang kaya.
"Mau kemana, dek?" tanya seorang satpam begitu aku hendak langsung masuk ke kawasan perumahan.
Ck! Cobaan apa lagi ini, Tuhan? Intan bahkan sudah tak terlihat.
"Ah, anu pak..... Saya mau kerja kelompok, di rumahnya Intan. Yang tadi lewat itu lho, pak!" alasanku.
"Tapi tadi neng Intan gak ada ngomong apa-apa. Biasanya kalau mau ada tamu, orang sini pasti ngomong dulu ke satpam. Atau gak telepon deh!"
Ck! Boro-boro mau telepon, lha nomornya saja aku tidak punya. Lagian ini perumahan ketat banget peraturannya!
"Intannya mungkin lupa bilang kali, pak! Tadi dia bilang mau siapin camilan buat kerja kelompok, makanya buru-buru!" kataku meyakinkan, "lagian ponsel saya mati. Ini tadi ceritanya mau nebeng nge-charge di rumah Intan. Ayo lah, pak! Rumah saja jauh ini..... Kalau saya kelamaan disini, bisa-bisa ngerjainnya tambah telat. Terus saya pulangnya kesorean!" lanjutku sambil memelas.
Satpam itu berbalik menuju pos penjaga dan sepertinya sedang berdiskusi dengan rekannya.
Aku yang berdiri di depan gerbang perumahan mulai merasa was-was. Kalau aku tetap tidak diizinkan masuk, bisa gagal rencanaku!
Ck! Aku mulai merasa tidak sabar kala satpam tadi tak kunjung selesai berdiskusi. Ini waktu yang terasa lama atau aku yang saking tidak sabarnya?
"Yaudah, masuk aja dek! Udah tahu kan rumahnya nomor berapa?"
__ADS_1
Aku menghembuskan napas lega, tanpa bertanya lagi aku langsung masuk begitu selesai mengucapkan terimakasih. Ya kali mau tanya nomor rumahnya berapa, buat alasan mau masuk aja udah deg-degan takut ketahuan. Kalau aku nekat tanya nomor rumahnya, yang ada aku malah benar-benar ketahuan kalau sedang berbohong.
👻👻👻👻👻