Obsesi

Obsesi
Last Part


__ADS_3

Aku sangat percaya pada hal di luar nalar. Bagaimanapun juga, aku memiliki kemampuan di luar nalar itu. Kemampuan yang sangat menyiksa itu. Kemampuan yang terkadang membuat aku terlihat aneh di mata orang-orang. Bagaimana tidak, jika sedang tak tahu tempat aku akan asik berbicara sendiri, padahal sejujurnya bukan seperti itu. Aku sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata.


"Gimana perasaannya sayang? Akhirnya setelah hampir satu bulan dirawat kamu sudah boleh pulang."


Aku yang masih termenung di atas brankar hanya tersenyum menanggapi ucapan Mamah. Rasanya masih seperti mimpi kala mengingat dunia merah waktu itu. Aku pikir, aku akan berakhir di sana selamanya. Ternyata, Tuhan masih sayang padaku. Dia bahkan memberikan kesempatan kedua untuk aku menjalani hidup.


"Kalau luka di kepala kamu sudah benar-benar kering, kemungkinan satu minggu lagi jahitannya bisa dilepas kata dokter," lanjut Mamah masih dengan mengemas barang-barangku ke dalam sebuah totebag ukuran besar.


Aku menggangguk meski kutahu Mamah tak melihatnya, "Papah..... ke mana, Mah?" tanyaku.


Mamah menoleh, "Papah lagi ngurus administrasi sebentar---" ucapan Mamah terpotong kala pintu ruangan terbuka dan menampilkan Papah yang tersenyum lebar.

__ADS_1


"Sudah siap pulang?" tanya Papah padaku.


"---nah, itu Papah."


Aku balas tersenyum dan mengangguk. Dibantu Mamah, aku turun dari brankar dan berjalan pelan meninggalkan ruangan diikuti Papah yang membawa barang-barang kami di belakang.


Begitu sampai di parkiran rumah sakit, aku dikejutkan dengan kehadiran Al yang sedang melambai di samping mobil milik Papah. Raut wajah sahabatku itu terlihat bahagia dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.


"Kamu..... ngapain?" tanyaku.


Aku menggeleng samar mendengar jawaban Al, lalu masuk ke dalam mobil begitu Mamah membuka pintu penumpang bagian belakang. Di luar sana, Al terlihat membantu Papah mengangkat barang-barang dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Tak lama, Papah pun masuk dan duduk di balik kemudi diikuti Al yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Di sepanjang jalan pulang, mataku terus tertuju pada jalanan yang cukup ramai. Perlahan, aku menurunkan kaca jendela di sampingmu. Memejamkan mata, aku menghirup segarnya udara yang melegakan dada. Entah sejak kapan, bernapas seperti ini sangat melegakan. Mungkin sejak aku terbangun dan mendapati diriku di dunia penuh dendam yang menyesakkan itu.


Aku mendapati tahu-tahu telapak tangan Mamah menuntun kepalaku pelan untuk bersandar di bahunya, "Kalau pusing, sandaran sama Mamah aja." katanya yang kusetujui. Jadi, sepanjang perjalanan aku hanya terus menyandarkan kepala di bahu Mamah dan memejamkan mata.


Entah berapa lama aku tertidur, tahu-tahu aku terbangun kala mobil telah berhenti tepat di depan rumah. Pintu mobil telah terbuka dengan aku dan Mamah di dalamnya. Sedangkan Al dan Papah bahu membahu membawa barang kami ke dalam rumah.


"Selamat datang di rumah!"


Suara Al membuat aku tersenyum, "Aku suka sama kamu, Al." kataku sambil lalu. Aku tak berharap Al mendengar, tapi Mamah yang berada di sampingku jelas mendengarnya. Biarlah, lagipula aku tak berharap balasan. Aku hanya ingin mengungkapnya seperti yang pernah aku katakan sewaktu di alam merah. Yah, lagipula ini bukan cerita cinta. Sepertinya tak perlu aku bercerita panjang lebar.


Aku yakin, kali ini rumah akan menjadi tempat yang lebih nyaman dari sebelumnya. Aku terus menguatkan diriku sendiri. Ini, hidup baruku. Hidup keduaku. Dan hidupku yang akhirnya menjadi normal. Kenapa aku bilang normal? Karena setelah sekarat di dunia merah itu dan terbangun kembali di dunia nyata, aku mulai sadar kalau suara-suara aneh yang sering kali terdengar sudah mulai menghilang. Dan bayangan juga penampakan yang sering terlihat mulai tak terlihat lagi. Finally, setelah drama teror panjang itu hingga masuk ke dunia arwah, aku bisa terbebas dari kemampuan melihat makhluk astral.

__ADS_1


TAMAT


👻👻👻👻👻


__ADS_2