
Begitu melangkah masuk dari pintu gerbang, aku mulai mengamati samping kiri dan kanan. Jaga-jaga kalau aku menemukan rumah Intan.
Mungkin ada sekitar lima ratus meter aku berjalan, namu aku belum menemukan rumah Intan. Aku hampir menyerah saat melihat seorang driver ojek online mendekat ke arahku--tidak, maksudku mengendarai motor ke arah aku masuk tadi. Dan aku sangat yakin kalau driver itu adalah driver ojek online yang tadi Intan naiki. Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung men-stop si bapak driver.
"Pakai aplikasi dulu dek kalau mau naik!" kata si driver.
Aku mengibaskan tangan di depan wajah, "Enggak, pak! Saya cuma mau tanya," kataku.
"Oh... saya kira mau naik," kata bapak driver sambil tersenyum malu.
Aku ikut tersenyum juga. Sebenarnya agak malu juga saat menyetop ojek online tapi tidak ingin naik, "Anu..... bapak tadi nganterin anak rumah nomor berapa, ya? Saya mau kerja kelompok. Tapi dia lupa ngasih tahu nomor rumahnya. Tepat sekali ponsel saya mati kehabisan baterai," jelasku yang tentu saja hanya sebuah alasan.
"Oh..... nomor lima puluh tiga," kata si driver, "kamu lurus aja ngikutin jalan, mungkin dua ratusan meter lagi dari sini. Rumahnya hampir tepat berseberangan sama Kafe Mentari," jelas bapak driver secara mendetail.
Aku mengucapkan Terima kasih sambil sedikit membungkukkan badan. Ah rupanya masih ada orang baik di dunia ini. Si bapak driver pamit yang langsung aku iyakan.
Kata bapak tadi hampir dua ratusan meter lagi. Haduh, hampir satu kilo aku berjalan. Lagian rumah Intan ini kok ya jauh banget dari gerbang masuk?
Sambil berjalan pelan, aku menghitung nomor setiap rumah yang aku lewati, hingga sampai tepat di depan rumah nomor lima puluh tiga. Ah, rupanya benar kata bapak driver tadi, letak rumah ini dekat dengan kafe yang ada di seberang jalan. Dan sepertinya, dari kafe itu, rumah Intan masih tetap terlihat jelas. Ah, sepertinya aku tidak akan mencolok kalau mengawasi dari dalam kafe itu.
"Siang kak, mau pesan apa?"--adalah kalimat sambutan begitu aku membuka pintu kafe.
Aku mendekat ke meja barista yang letaknya dekat dengan pintu masuk. Mataku mulai menjelajahi deretan menu yang tertulis di belakang si barista. Setelah berhasil memindai semua daftar menu, aku menelan ludah. Makanan orang kaya apa memang semahal ini? Menunya bahkan sama dengan yang pernah aku makan di tempat lain, tapi kenapa di sini harganya sampai dua kali lipat? Haduh.
__ADS_1
"Emmm..... Saya mau es cappucino satu," putusku.
"Ada lagi kak?" tanya si barista laki-laki sekaligus orang yang tadi mengucapkan kalimat selamat datang.
"Udah, itu saja."
"Baik, ditunggu ya, kak!"
Sambil menunggu si barista membuatkan pesanan, pandanganku mulai berkeliling mengamati seisi ruangan yang cukup luas ini. Ah, tak heran kalau harga makanan di sini mahal, lha tempatnya saja bagus banget. Instagramable lah bahasa gaulnya.
Kafe ini cukup luas dengan dinding full kaca. Di tiap-tiap meja, ada sebuah lampu yang menggantung cukup rendah. Kira-kira dua setengah meter lah dari lantai. Ah, iya, keseluruhan furnitur disini berwarna coklat kayu. Berbagai bunga hias juga di letakkan tepat di samping dinding kaca. Ah, satu lagi. Sebuah gambar doodle besar terpampang di salah satu dinding yang non kaca.
"Silakan kak, pesanannya."
Sambil membawa segelas cappucino dingin, aku berjalan menuju meja yang berada tepat di dinding kaca pojok ruangan. Tempatnya cukup jauh dari pintu masuk. Jadi seandainya aku akan berada di sini dalam waktu yang cukup lama, aku tidak akan terlalu malu. Toh tempat duduk jauh dari lalu lalang orang.
Diberkatilah tempat ini karena kacanya yang gelap kalau di lihat dari luar, aku bisa leluasa mengamati Intan ketika dia keluar dengan gerak-gerik mencurigakan.
Huft!
Waktu berlalu dengan cepat. Bahkan aku hampir satu setengah jam duduk di sini, namun aku tak melihat Intan keluar dari rumah sama sekali. Aku sudah mulai bosan. Es cappucino ku bahkan sudah tandas sejak tadi. Mau pesan lagi pun malas, bisa tekor aku. Tanpa diamati juga, aku bisa langsung menebak kalau pengunjung di kafe ini sudah berganti. Untung saja aku sedang kedatangan tamu bulanan, jadi aku tak bingung kala jam sholat telah lewat.
Seorang gadis berambut sebahu keluar dari rumah nomor lima puluh tiga. Aku buru-buru bangkit begitu tahu kalau gadis itu adalah orang yang sejak tadi aku tunggu.
__ADS_1
Sebuah mobil hitam keluar dari rumah yang sama sebelum berhenti tepat di samping Intan. Tak lama, Intan membuka pintu di samping kemudi dan masuk kedalamnya.
Beruntungnya, seorang driver ojek online berhenti di kafe tempatku berada setelah menurunkan penumpangnya.
"Pak, ikutin mobil depan itu, ya! Saya pesennya pake aplikasi kok ini. Ini kan, punya bapak?" tanyaku sambil memperlihatkan layar ponsel.
"Siap, dek!"
Mobil yang dinaiki Intan berhenti sebentar di gerbang perumahan. Si sopir terlihat seperti berbincang dengan satpam. Begitu mobil di depan kembali berjalan, ojek yang kunaiki pun berjalan kembali setelah berhenti sesaat. Aku memalingkan muka begitu melewati gerbang. Harap-harap cemas takut si bapak satpam mengenaliku.
Aku langsung menghembuskan napas lega begitu ojek yang kunaiki bergabung dengan padatnya kendaraan di jalan raya. Mobil Intan berjarak satu mobil dengan motor yang kunaiki. Untung saja bapak ojek ini cekatan, jadi kami tak kehilangan jejak mobil Intan.
Setelah cukup lama beradu dengan padatnya kendaraan, mobil yang dinaiki Intan berjalan pelan sebelum berbelok ke arah kiri. Ojek yang kunaiki pun berhenti di tempat yang sama. Aku memandang gedung besar di depanku, dalam hati bertanya-tanya untuk apa Intan datang ke tempat ini.
"Kayaknya yang naik mobil tadi lagi sakit itu," kata si bapak driver.
Aku memandang gedung di hadapanku sekali lagi sebelum turun dari boncengan motor. Begitu melepas helm, aku mengangsurkan uang pecahan sepuluh ribu pada bapak ojek.
"Makasih, pak!"
Aku melangkah pelan ke halaman rumah sakit begitu bapak ojek berlalu. Sambil memandang gedung di hadapanku, aku mulai menebak untuk apa Intan datang ke sini. Kalau misalkan dia sakit kayaknya tidak mungkin, Intan terlihat terlalu sehat untuk orang yang sedang sakit. Ah, mungkin saja dia sedang menjenguk orang. Keluarga atau teman misalnya.
Ah, itu sudah pasti. Intan ke sini pasti untuk menjenguk orang sakit. Lalu, aku harus ikut masuk ke dalam sana atau menunggu di luar sini?
__ADS_1
👻👻👻👻👻