
"Iya. Belum ada dua bulan dan sudah separah itu."
Kali ini aku lebih terkejut. Kenyataan apa lagi ini!
"Maksud Tante?" tanyaku.
Mama Intan terlihat menarik napas dalam sebelum menghembuskan secara perlahan. Genangan air mata yang tadi tidak terlihat, kini muncul dikedua matanya, "Ini mungkin sedikit janggal menurut, Tante. Tapi demi apapun tante gak ikhlas Intan pergi secepat ini," mama Intan mengusap pipinya yang basah, "Tante gak tahu kenapa Intan tiba-tiba ngotot mau pindah ke sekolah itu. Padahal, di sekolahnya yang lama dia punya banyak temen. Malah setahu Tante dia gak lagi berantem atau kena masalah di sekolah lama. Tiga hari sebelum benar-benar pindah, dia pingsan dan dapat diagnosa kanker itu, padahal sebelumnya sehat-sehat saja."
Mama Intan menjeda ceritanya sebentar, "Setelah jadi murid sana, penyakit Intan malah lebih parah sebelum akhirnya meninggal. Apa ini wajar?"
Sepertinya tidak! Itu tidak wajar, kan? Bagaimana mungkin penyakit itu semakin parah dalam kurun waktu hampir dua bulan.
Aku terus mengulang-ngulang apa yang dibilang mama Intan tadi. Berbagai tanya kembali menyerang pikiranku. Masih tentang teror yang belum jelas ini, kini bahkan ada tanda tanya lain tentang Intan.
Kenapa dia memaksa pindah sekolah padahal di sekolah sebelumnya dia baik-baik saja?
Kenapa bisa diagnosis penyakit Intan baru ketika ia memutuskan masuk ke sekolahku? Dan masih banyak kata kenapa lainnya.
Ponsel di saku celanaku bergetar. Terpampang nama Al di layarnya, "Kenapa, Al?" tanyaku begitu menggeser tombol hijau.
"Keluar, yuk!" katanya dari seberang telepon.
"Aku masih di luar ini. Lagian kamu kok akhir-akhir ini sering banget ngajak aku keluar sih, Al?" tanyaku penasaran. Lagian Al ini kok tumben-tumbennya bolak-balik ngajak keluar.
"Ya gak pa-pa. Pengen aja. Kamu ada di mana sekarang? Biar aku ke sana."
Aku menoleh ke pos satpam yang ada di belakangku, "Aku.... di depan komplek perumahan Intan, ke sini aja!"
"Lho? Kamu ngapain di sana?"
"Balikin tas. Jadi ke sini gak? Kalau enggak aku mau naik angkutan umum ini. Mumpung ada yang lewat."
"Jadi. Tunggu aja di situ atau di warung-warung dekat situ!"
Begitu sambungan terputus, aku menoleh ke arah sekitar, mencari tempat yang cocok aku datangi selagi menunggu kedatangan Al.
Begitu mataku memindai warung kopi di seberang jalan, aku memutuskan untuk singgah di sana sembari memesan minum. Tak banyak pembeli saat ini. Hanya ada satu pemuda berkemeja kotak-kotak warna merah yang sedang menikmati gorengan.
"Saya kopi susu, bu," kataku pada ibu penjual.
__ADS_1
"Lho? Kinara?"
Aku terkejut kala pemuda itu mengenaliku. Aku menoleh, memperhatikan wajahnya secara seksama sebelum terkejut, "Bagas, kan? Ketua jurnalistik!"
Pemuda itu tertawa kecil, "Iya. Kamu ngapain disini?"
Hah? Kota ini sempit sekali. Dari sekian banyak penduduknya, kenapa aku harus bertemu dengan teman seangkatan di sini coba?
"Wah... wah... kamu beda banget sama Bagas yang di sekolah!"
Bagas tertawa lagi begitu mendengar penuturanku.
Lha gimana aku gak pangling coba? Bagas yang di sekolah itu cowok berkacamata dan berseragam rapi hingga jam pulang. Lha yang aku lihat malah berbeda sekali. Dia gak pakai kacamata, rambut dibiarkan berantakan dan kemeja tidak dikancing, memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Sumpah sih, saat ini dia terlihat seperti karakter bad boy dalam cerita.
"Hey!! Ngapain jadi ngelihatin aku mulu sih?" Bagas tertawa geli, "oh iya, kamu ngapain disini? Rumah kamu kayaknya gak di dekat-dekat sini, deh?"
Ah, aku baru sadar kalau sedari tadi memperhatikan Bagas. Sumpah demi apapun aku malu, "Anu.... dari rumahnya Intan--almarhumah maksudku."
Bagas mengerutkan kening, "Kamu ngapain ke sana?"
"Balikin tas. Kan sebelum Intan dibawa ke rumah sakit tasnya ada sama aku. Dan baru sempet sekarang balikinnya. Kalau kamu ngapain ada di sini?"
Ah, ini anak kenapa sih dari tadi senyum mulu? Gak tau apa ya kalau senyum dia itu berdamage? Hatiku on the way mobat-mabit ini. Kalau aku berpaling dari Al, gimana?
"Hahaha.... makasih lho tawarannya. Ini bentar lagi aku juga pulang. Lagi nunggu jemputan ini," ibu penjual mengangsurkan kopi susu pesananku, "makasih, bu."
Kali ini Bagas memperhatikanku dengan serius sampai aku dibuat salah tingkah oleh tatapannya, "Kamu ngapain ngelihatin aku gitu, sih?"
"Kinara?" aku berdehem tanpa menoleh ke arahnya karena aku sedang menuang kopi susu ke dalam lepek, "kamu jangan marah, ya! Emm.... kamu ngerasa gak sih..."
Bagas yang menjeda pertanyaannya membuat aku gemas, "Ngerasa apa?"
Bagas terlihat ragu, "Kamu beneran jangan marah, ya!"
"Iya."
"Kamu ngerasa gak sih kalau kematian Aril dan Anjar itu kayaknya berhubungan sama kamu?"
Deg!
__ADS_1
Aku menelan ludah gugup. Ini kenapa tiba-tiba bagas ngomong seperti itu ya? Dia gak mungkin bisa lihat hal aneh seperti aku, kan? Kenapa dia bisa menyadari hal itu?
"Riki juga, kan? Dia siang itu nabrak kamu lho dan malamnya dia..." bagas membuat garis melintang dengan jarinya di leher.
"Kamu...."
"Enggak! Aku bukan anak indigo seperti yang orang-orang rumorkan tentang kamu itu. Kamu kan tahu aku anak jurnalis. Emm.... apa ya.... punya jiwa wartawan sih kayaknya aku ini," Bagas mencoba mencairkan suasana dengan kalimat terakhirnya. Namun, aku sama sekali tak tertawa.
"Kalau kamu merasa dugaan kamu itu benar..... kenapa kamu bicara sama aku saat ini? Kamu.... gak takut jadi korban selanjutnya?"
Bagas tertawa, "Karena aku penasaran. Benar atau tidak dugaan aku ini."
Aku mengangguk mengerti. Boleh juga tekad pemuda ini, "Kamu gak menduga kalau aku yang lakuin itu, kan?" tanyaku sangsi.
Bagas mendekatkan wajah ke arahku. Matanya menyoroti ku curiga, "Dari wajah kamu sih...... kayaknya bukan. Atau.... dugaan aku salah..." tanyanya yang di akhiri senyum jail.
"Emm.... bisa jadi emang aku, sih," kataku pura-pura serius, "eh, Gas! Aku boleh minta nomor kamu gak? Kali ini aku serius. Soalnya apa yang ada di pikiranmu itu juga menghantui pikiranku. Nanti kalau misalnya kamu merasa ada yang mencurigakan.... kamu bisa hubungi aku dan aku bakalan cari bantuan."
Bagas bertepuk tangan sekali, "Wah! Jadi ceritanya ini kamu mau ngajak kerjasama?"
Aku mengangguk antusias dan mengangsurkan ponselku padanya, "Catet nomor kamu!"
"Maaf ya, Kin, lama. Hari minggu, jalanan macet parah!"
Aku dan Bagas sama-sama terkejut begitu Al tiba dan langsung meminum kopi susu milikku.
"Hoy, bro! Kok bisa sama Kinar?" tanya Al begitu menyadari keberadaan Bagas.
"Gak sengaja ketemu tadi. Dari pada dia nungguin pawangnya sendirian mending aku temenin. Berhubung pawangnya udah datang, aku pergi aja deh! Takut ganggu," Bagas berlalu setelah menepuk pundakku sekali.
"Pergi sekarang, yuk!" ajak Al.
"Bayar dulu kopinya!" kataku.
"Lho? Kok aku? Kan kamu yang pesan!" protes Al.
"Kan kamu yang habisin!"
"Haisshhh!!"
__ADS_1
👻👻👻👻👻