
Aku hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat kala pisau yang di bawa Bagas siap mendarat di dada telanjang Al. Aku tidak ingin ini terjadi. Berteriak meminta tolong pun percuma. Hutan bambu ini jauh dari pemukiman. Tenggorokanku bahkan sampai sakit karena berteriak memohon pada si sialan Bagas.
"Kinara..... buka matamu! Kamu gak mau lihat sahabatku ini untuk yang terakhir kali? Barangkali kamu mau ucapkan salam perpisahan? Aku gak pa-pa banget kalau nunggu lima menit lagi," suara Bagas mengalun pelan yang entah mengapa terdengar mengerikan di telingaku.
"Bi--adab kamu!" ucapku lemah.
"Hahaha."
Tawa Bagas terdengar seperti nyanyian malaikat maut. Mengerikkan.
Tuhan.... kumohon jangan biarkan Al mati.
sreettt....
"Ah, darah segar," Bagas berkata dengan nada takjub.
Aku menundukkan kepala dalam. Isak tangis lolos dari bibirku, "Hen--tikan!" pintaku.
"Buka mata kamu, Kinara! Lihat, sahabatmu ini sedang menjemput ajal!"
"Kamu bisa lebih cepat gak, Bagas?" Kepala sekolah yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
Bagas melirik kepala sekolah sinis, "Bapak bisa diam gak?! Saya lagi menikmati ini!"
Bapak kepala sekolah hanya diam mendengar balasan Bagas.
Angin malam berhembus kian kencang. Suara jangkrik dan binatang malam yang bersahutan mendadak berhenti. Hening. Bahkan deru napasku pun terdengar keras. Dalam kegelapan malam, aku melihat Mina menembus pepohonan.
"Hihihi..."
Sialan. Sempat-sempatnya dia tertawa di saat kondisi sedang seperti ini.
"Hihihi..... menunduk Indigo... hihihi"
Hah? Kuntilanak ini mau ngajak main apa gimana?
"Hihihi.... menunduk Indigo, menunduk... hihihi..."
Teriakan melengking Mina membuat aku mau tak mau mengikutinya. Aku menundukkan kepala dalam sambil memejamkan mata.
__ADS_1
Tisss!
Brugh!
"Semua telah berakhir Indigo... hihihi..."
Suara Mina yang terdengar lemah membuat aku cepat-cepat mendongakkan wajah. Namun yang ada di hadapanku kini bukan lagi sosok Mina, melainkan berbagai wujud mahluk mengerikkan berkumpul. Aku menoleh ke sekitar sebelum melihat badan Bagas tersungkur dengan kepala mengeluarkan darah.
"Sialan!" Kepala sekolah mengambil langkah untuk berlari namun terlambat. Dua sosok berpakaian tentara telah lebih dahulu meringkusnya.
"Kamu gak pa-pa, Kinar?" tanya seseorang yang aku kenali suaranya. Orang itu memotong tali yang mengikatku dengan pisau lipat kecil.
"Papah?"
Seseorang yang ternyata adalah ayahku itu mengangguk, "Maaf, Papah terlambat."
Aku hanya menggeleng dengan air mata berlinang.
"Al?"
"Al selamat. Dia akan segera mendapat pertolongan!" jelas Papah.
Aku tak sadarkan diri.
👻👻👻👻👻
Hal yang pertama kali aku lihat kala membuka mata adalah langit-langit berwarna putih. Bau obat-obatan yang cukup menyengat menusuk indra penciumanku. Kala aku ingin menggerakkan tangan kiriku, sebuah jarum terpasang di punggung tangan yang membuat aku yakin kalau saat ini aku berada di rumah sakit.
"Mah...." ucapku pelang kala melihat sosok perempuan yang melahirkanku.
Mamah berdiri menghampiri ranjang tempat aku terbaring. Beliau mengelus rambutku sebelum berkata pelan, "Ada yang sakit?" Yang kubalas dengan gelengan.
"Kamu sudah sadar, sayang?"
Papah yang baru masuk langsung menghampiriku. Beliau mengelus pundakku. Aku tahu Papah pasti memiliki banyak pertanyaan di pikirannya. Tapi beliau lebih memilih memendamnya.
"Mau minum...." kataku pelan.
Mamah dengan sigap mengambil segelas air putih di atas nakas. Sedangkan Papah membantuku duduk dengan sangat hati-hati. Begitu selesai minum, aku kembali berbaring.
__ADS_1
"Pah? Gimana keadaan Al?" tanyaku.
Al baik-baik saja. Lukanya sudah mendapat jahitan.
Huft, syukurlah. Untuk sesaat tadi aku benar-benar takut kalau Al akan meninggalkanku. Aku sangat tidak siap untuk hal itu seandainya memang terjadi.
"Kamu istirahat, ya? Kalau nanti keadaan kamu sudah pulih, nanti boleh langsung pulang," ucap mamah.
Aku mengangguk mengiyakan. Aku mulai memejamkan mata. Namun, bukannya beristirahat seperti kata mamah, pikiranku malah terbayang keadaan di hutan bambu. Bayangan Bagas, bayangan kepala sekolah serta bayangan Al yang terikat tak sadarkan diri membuat aku tak bisa benar-benar tertidur.
Suara tawa Bagas, tangisan memohon yang keluar dari bibirku serta suara binatang malam masih terasa terdengar jelas di telinga.
Aku masih tak habis pikir dengan apa yang telah Bagas dan kepala sekolah perbuat. Lebih tidak habis pikir lagi kala aku mencurigai Al yang ternyata sama sekali tidak ada hubungannya.
Aku tak tahu bagaimana keadaan Bagas. Yang aku lihat terakhir kali, Bagas tergeletak dengan kepala mengeluarkan darah. Entah dia masih hidup atau tidak, aku tak ingin menanyakan keadaan psikopat gila itu.
Dalam keheningan, aku merasa udara dari AC terasa semakin dingin, "Mah, AC nya dikecilin, dong," kataku dengan mata terpejam.
"Lho? Ini bahkan mati lho, sayang? Kamu kedinginan? Tapi ini gak dingin, kok. Mamah panggilkan dokter, ya?" Mamah berjalan keluar dari ruang rawat kulit. Kini tersisa lah aku sendiri.
Mataku langsung terbuka kala Mamah bilang kalau AC nya mati. Benar dugaanku. Mereka datang. Bukan penghuni rumah sakit ini, melainkan korban kekejaman Bagas. Iya, Aril, Anjar, kak Riki dan Intan ada di sini.
"Terima kasih, Kinara.... berkat kamu, kini kami bisa pergi dengan tenang," kata Intan. Seulas senyum tipis terpatri di bibir pucatnya.
Mataku berkaca-kaca, "Maaf. Seandainya aku bisa mencegah ini lebih awal.... kalian pasti masih bisa berkumpul dengan keluarga kalian," aku mengusap air mata yang sudah menetes, "seandainya aku percaya pada ucapan Ilham lebih awal.... pasti gak akan ada yang harus menjadi korban.... maaf...."
"Enggak Kinara.... ini bukan salah kamu. Ini sudah ketentuan Tuhan," ucap sosok kak Riki.
Air mataku semakin deras mengalir. Kak Riki benar. Seandainya mereka dapat menentukan tadinya masing-masing, mereka pasti tak ingin mati dengan cara seperti itu. Mengingat kematian tragis mereka membuat dadaku sesak.
"Itu benar," sahut Anjar.
Mereka berempat tersenyum tulus sebelum menghilang dalam cahaya menyilaukan di belakang mereka. Aku mengusap air mata yang membasahi pipi. Setidaknya, mereka tidak menjadi arwah penasaran itu sudah cukup. Omong-omong soal arwah penasaran, kenapa aku tak melihat Mina sama sekali? Biasanya kuntilanak itu akan merecokiku dalam setiap kesempatan. Kemana dia?
Aku ingin mengucapkan Terima kasih pada hantu kesayanganku itu. Setidaknya karena dia juga misteri terror jin bisa terungkap. Haisshh!!! Kemana sih dia itu? Setidaknya kalau ada Mina aku tidak akan kesepian hanya ditemani sosok nenek di pojok ruangan yang sedari tadi diam.
Deg!
Sosok nenek itu menoleh sambil tersenyum memperlihatkan robekan panjang di bibir hingga ke pipi. Aku berisik hanya dengan melihatnya. Ini kenapa Mamah lama sekali ya, memanggil dokternya? Lama-lama, kan aku juga ngeri di tatap nenek itu!!!
__ADS_1
👻👻👻👻👻