Obsesi

Obsesi
Semakin Rumit


__ADS_3

Aku menatap tas Intan yang tergeletak di atas meja belajar. Aku berpikir mungkin akan mengembalikan tas itu saat suasana sudah agak tenang.


Membuka ponsel, hal yang pertama kali aku cari adalah aplikasi chat warna hijau. Begitu berhasil membukanya, grup angkatan sudah dibanjiri ratusan pesan. Di pesan teratas, ucapan bela sungkawa dengan gambar wajah Intan.


"Mama dengar ada berita duka lagi di sekolah kamu, sayang. Benar?" adalah ucapan mama ketika aku baru tiba di meja makan.


"Iya."


"Anak kelas berapa?"


"Temen sekelas Kinar, Ma."


"Meninggalnya kenapa? Sakit atau---"


"Sakit," kataku cepat sebelum mama menyelesaikan kalimatnya. Aku tahu dengan pasti apa yang akan mama katakan. Sudah menjadi rahasia umum mengenai berita kematian yang akhir-akhir ini menghantui sekolahku.


Mama yang mengerti aku terlalu malas diajak bicara langsung diam dan tak menanyakan sesuatu lagi selain menyuruhku menghabiskan nasi dengan ayam kecap yang baru saja beliau angsurkan padaku.


Aku membawa piring kosongku ke wastafel, mencucinya kemudian menaruhnya di rak tepat di samping wastafel.


"Ma, Kinar berangkat. Assalamu'alaikum," kataku sambil mencium punggung tangan beliau.


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan!" kata mama yang aku balas dengan kata 'iya'.


Begitu aku keluar dari rumah, kulihat Al sudah ada di halaman lengkap dengan motornya. Ia tersenyum kecil padaku namun tak kubalas.


"Kamu udah dengar kabar tentang Intan?" tanyanya begitu motor yang kami tumpangi sudah berjalan.

__ADS_1


Aku hanya berdehem sebagai jawaban. Mungkin Al tahu kalau aku sedang malas diajak bicara, jadi selama perjalanan menuju sekolah, keadaan di antara kami cukup hening. Hanya bising kendaraan yang terdengar.


Begitu motor yang kami tumpangi sudah memasuki area sekolah, terlihat sudah cukup banyak siswa yang berdatangan. Aku dan Al memutuskan berjalan beriringan menuju kelas.


"Kamu gak lagi sakit kan, Kin?" tanya Al. Mungkin dia melihat aku yang terlalu lesu hari ini.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Sumpah Demi apapun, rasanya aku terlalu malas datang ke sekolah hari ini. Aku bahkan hanya diam di meja saat teman sekelas berkumpul untuk membicarakan masalah takziah ke rumah Intan.


Di antara malasnya membuka mata, Samar-samar aku melihat sosok laki-laki yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Sosok itu berdiri di antara teman-temanku yang sedang berdiskusi. Sosok itu tak bisa dikatakan tua ataupun muda.


Pandanganku dan sosok itu bertemu dalam satu garis lurus. Sekilas, sosok itu hampir sama dengan sosok-sosok lain yang sering aku temui. Namun, ada yang membedakan antara sosok yang saat ini aku lihat dengan sosok lain yang selama ini aku temui. Entah, aku tak tahu pasti apa perbedaan itu. Namun aku sangat yakin kalau sosok ini berbeda. Menyadari aku yang terus memperhatikannya, sosok itu tersenyum miring sebelum akhirnya memudar dan menghilang.


Aku menoleh ke setiap penjuru, memastikan keberadaan sosok yang baru saja aku lihat. Namun, nihil. Sosok itu benar-benar menghilang.


Aku mengatur napas yang tiba-tiba terasa berat. Entah mengapa, selama beberapa saat tadi, aku merasa udara di sekitarku seakan turun drastis. Sangat dingin. Tapi sepertinya hanya aku yang bisa merasakannya. Terbukti dari teman-temanku yang masih fokus pada pembicaraan mereka tanpa mengeluh akan udara yang berubah dingin selama beberapa saat tadi.


👻👻👻👻👻


Takziah ke rumah Intan diputuskan berangkat saat pulang sekolah. Teman sekelasku semuanya ikut dengan didampingi empat guru yang terdiri dari dua guru perempuan dan dua guru laki-laki.


Begitu sampai di gerbang komplek perumahan Intan, kami masih harus berhenti cukup lama untuk meminta izin. Begitu satpam mengizinkan, hampir lima belas motor masuk ke dalam perumahan dan berhenti tepat di depan rumah nomor lima puluh tiga.


Gerbang rumah Intan nampak terbuka lebar. Bendera putih dengan tanda tambah tertancap di pagar. Di halaman rumah, beberapa bangku lipat ditata berjejer sepanjang jalan menuju pintu.


Kami mengucapkan salam serentak saat seorang wanita cantik--yang kemarin aku lihat di rumah sakit--keluar. Matanya benar-benar tak bisa menyembunyikan kesedihan yang sedang ia rasakan. Matanya terlihat sangat sembab, seakan-akan menunjukkan kalau ia terus menangis sepanjang waktu.


"Kalau Intan ada salah mohon dimaafkan, ya!" katanya dengan suara serak begitu tangan kami bersalaman.

__ADS_1


Begitu aku memasuki rumah, Papa Intan berdiri dan mengalami kami seperti apa yang dilakukan istrinya tadi. Begitu tiba giliranku bersalaman, aku menunduk, menghindari berkontak mata dengan dia. Bukan, bukan papa Intan, melainkan sosok Intan. Ya, dia berdiri tepat di samping papanya.


Sejak kematian Intan kemarin, baru kali ini aku melihat sosoknya muncul. Aku kira dia akan muncul di sekolah atau setidaknya di rumah sakit kemarin. Namun, sepertinya tempat yang ia pilih untuk menampakkan diri adalah rumahnya. Mungkin ia masih tak tega untuk meninggalkan kedua orang tuanya.


Pembacaan tahlil untuk almarhumah dipimpin oleh salah satu guru laki-laki. Di tengah kegiatan tahlil, mataku secara tak sengaja bertemu dengan mata Intan yang kini berdiri di belakang papanya.


Mata itu menyiratkan kesedihan meski tak terlihat ada setitik air mata pun di sana. Perlahan, cahaya kemerahan muncul dari balik punggung Intan sebelum memeluk tubuh itu. Cahaya itu kemudian menjelma menjadi rantai besi yang sama dengan rantai yang melilit keempat tubuh korban teror.


Aku termenung melihatnya. Suara tahlil yang keras di sekitarku perlahan terdengar samar. Aku terlalu fokus pada apa yang saat ini aku lihat.


Tapi kenapa? Kenapa rantai itu sama? Bukankah ciri korban teror itu tak ada satu pun dalam tubuh Intan? Intan jelas meninggal karena sakit. Bukan karena pembunuhan seperti yang sudah-sudah.


Aku memejamkan mata. Kepalaku tiba-tiba terasa sangat pusing. Kenapa ini semua jadi semakin rumit? Kenapa benang merah dari teror itu selalu saja gagal aku temukan? Lalu, apa maksudnya ini? Mungkinkan Intan juga korban? Tapi, bagaimana bisa?


Arrgghhh!


Kenapa jadi semakin membingungkan? Lalu, kesimpulan yang aku buat itu apa tidak ada gunanya? Berbagai tanya semakin lama semakin berlarian di pikiranku. Ah, bisa gila aku!


Saking larut dalam pikiranku sendiri, aku bahkan sampai tak sadar kalau pembacaan tahlil telah berakhir kalau saja Deva tidak menepuk pahaku.


"Kamu gak pa-pa? Dari tadi aku perhatiin kayaknya kamu lagi gak enak badan," kata Deva.


"Aku baik-baik aja, kok," Deva hanya mengangguk mendengar jawabanku. Mataku kini tertuju lagi pada sosok Intan. Bibir pucatnya perlahan bergerak dan terbuka. Meski tanpa suara, aku sepertinya memahami apa yang ia katakan barusan.


'Tolong aku'???


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2