Obsesi

Obsesi
Bagas dan Masalahnya 2


__ADS_3

Aku hampir tidak percaya! Aku saat ini sedang berdiri di depan makam umum yang sedikit terlihat kuno. Makam ini ada di desa kecil yang letaknya kira-kira tiga belas kilo meter dari tempatku tinggal.


Aku memejamkan mata. Aku tak ada pilihan lain, semoga saja dosaku ini diampuni. Aku hanya tidak mau mengalami kesialan ini terus menerus. Tadi saja saat perjalanan ke sini aku hampir tertabrak truk.


Menghembuskan napas perlahan, aku mulai memasuki area pemakaman. Ini aku cuma harus mencari makam yang mungkin banyak dupanya, kan?


Hah! Akibat nekat tanpa riset terlebih dahulu ya gini! Aku bahkan tak tau rupa makam itu seperti apa. Aku hanya mengira-ngira kalau makam yang sering dikunjungi orang dengan 'maksud tertentu' itu pasti banyak bekas dupa atau minimal sesajen.


Aku mulai berjalan dari ujung ke ujung dan memperhatikan satu persatu makam. Namun, sudah hampir satu jam mencari aku bahkan tak menemukan makam dengan sesajen atau dupa itu. Ah, sial! Kalau saja ini bukan waktu setelah jum'at legi (waktunya orang ziarah makam) dan hampir semua makam terdapat bunga tabur di permukaannya, aku pasti tidak akan mungkin bolak-balik salah.


Hampir satu jam aku berputar-putar di area pemakaman. Rasanya tulang di kakiku terasa hampir rontok. Fiuh! Mungkin memang niat yang tidak baik ini di tolak oleh semesta.


Aku mengusap peluh di dahi sebelum berbalik arah hendak menuju gerbang masuk pemakaman. Namun baru beberapa langkah berjalan, aku menemukan sebuah makam yang terlihat serupa dengan makam lainnya, namun entah mengapa sedikit mencolok menurutku. Aku mendekati makam itu dan melihat beberapa sajen yang hampir kering. Tidak salah lagi! Ini makam keramat yang aku cari. Seingatku, aku tadi sudah melewati area ini tapi aku yakin kalau makam ini tidak berada di sana. Mungkinkah rumor tengah makam yang bisa berpindah tempat itu memang benar adanya? Ah, persetan! Aku kesini hanya untuk meminta umur panjang. Buat apa aku memikirkan rumor itu. Aku menggelengkan kepala pelan sebelum duduk bersimpuh di kaki makam.


Demi apapun, aku kesini tanpa persiapan sama sekali. Jadi wajar kalau aku tidak membawa bunga atau sesajen. Aku mulai menceritakan kesialan-kesialan yang aku alami hingga permintaanku untuk meminta umur panjang.


Tak lama, langit mulai berubah gelap. Angin bertiup sangat kencang hingga aku sedikit merasa kedinginan dari balik hoodie yang aku kenakan. Sebuah asap hitam pekat muncul dari balik batu nisan. Semakin lama asap itu semakin banyak sebelum berkumpul dan memunculkan sosok laki-laki dari dalamnya.


Aku hanya memperhatikan meski sebenarnya tekadku untuk segera melarikan diri kian membesar. Namun entahlah, tubuhku terasa seperti tertancap ke dalam tanah.


"Aku dapat mengabulkan permintaanmu. Memberimu umur panjang. Tapi aku juga minta sesuatu darimu. Apa kamu sanggup memenuhinya?"


Aku hanya terdiam mendengarkan sosok itu berbicara dengan suara paraunya. Aku bahkan tak mengangguk atau menggeleng.


"Aku minta kamu memberikanku lima tumbal. Setiap satu tumbal yang sudah kamu berikan, kamu harus mandi menggunakan darahnya, lalu memakan salah satu bagian tubuhnya. Apa kamu sanggup?"

__ADS_1


Edan! Ini gila! Kalau aku percaya dengan sosok ini, aku akan menjadi penjahat yang sesungguhnya. Aku harus menjadi pembunuh, lalu kanibal belum lagi dosa syirik yang harus aku tanggung.


"Keputusan ada di tanganmu. Entah kamu mau percaya atau tidak itu terserahmu!"


Seakan dapat membaca pikiranku, sosok itu berbicara parau sebelum menghilang layaknya asap. Dan bersamaan dengan itu, aku menemukan diriku terbangun tepat di kaki makam. Tunggu! Apakah sosok yang kau lihat tadi hanya mimpi? Tapi itu serasa sangat nyata. Bahkan hawa dingin yang membuatku merinding tadi masih aku rasakan saat ini. Sekali lagi, aku memandang langit untuk memastikan kebenarannya. Ternyata langit masih terang meski cahaya kekuningan mulai terlihat. Sebenarnya berapa lama aku tak sadarkan diri tadi?


Aku terlonjak kaget saat sesuatu menyentuh pundakku dari arah belakang. Dan pandanganku berubah menjadi bingung kala menemukan sosok yang cukup familiar di belakangku, "Bapak Kepala Sekolah?" aku bangun dari posisiku.


"Kamu Bagas anak kelas XI, kan?" tanyanya.


Aku mengangguk membenarkan, "Bapak lagi apa disini?"


Kepala Sekolah mengawasi suasana sekitar sebelum kembali menatapku, "Seharusnya saya yang bertanya. Kamu lagi apa sore-sore disini?"


Aku gelagapan mendengar pertanyaan kepala sekolah, "Saya.... saya.." ah, sial! Aku harus bilang apa coba? Tidak mungkin kan aku bilang kalau sedang mencari wangsit?


Seketika mataku membulat.


"Bapak--"


"Sssttt!" Kepala Sekolah meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya dan aku langsung mengerti kalau itu adalah isyarat untuk diam. "Ayo pulang. Tapi mampir dulu ke rumah saya!"


Tak mengangguk atau menggeleng, kaki ini mengikuti langkah Kelapa Sekolah keluar dari area pemakaman umum.


👻👻👻👻👻

__ADS_1


Aku mengawasi sekeliling rumah Kepala Sekolah yang cukup sepi. Seakan mengerti maksud perkataanku, kepala sekolah berkata, "Istri dan anak saya sedang di rumah mertua saya."


Aku mengangguk mengerti sebelum mengikuti kepala sekolah yang telah lebih dahulu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


"Kamu benar-benar harus menuruti permintaan makam itu kalau mau keinginanmu terwujud," ujar Kepala Sekolah tanpa basa-basi atau memberiku minum terlebih dahulu.


Aku tertawa hambar, "Saya gak percaya gituan, Pak."


Kepala Sekolah mengangguk beberapa kali.


"Bapak kenapa bisa yakin kalau makam itu benar-benar dapat mengabulkan permintaan?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutku.


"Ah, cuma kenal beberapa orang yang sempat minta sesuatu di makam itu."


"Kalau misalnya permintaan itu tidak dipenuhi?"


"Yah, saya gak tau. Saya gak pernah coba minta disana. Tapi, saya pernah dengar dulu ada yang minta keselamatan dan semacamnya. Ketika tidak dipenuhi, orang itu...." Kepala Sekolah membuat garis horizontal dengan telapak tangannya tepat di leher.


Deg!


Mungkinkah kalau aku tidak menuruti keinginan sosok di makam itu nasib sial yang akhir-akhir ini aku alami masih akan terjadi? Kalau memang benar seperti itu, apakah umurku tidak akan panjang? Tapi, kalau aku menuruti apa yang sosok itu ucapkan, aku akan menjadi penjahat yang sesungguhnya.


Aku memperhatikan kedua telapak tanganku, apa aku tega membunuh orang yang tidak bersalah hanya untuk keegoisanku? Tidak! Aku bukan orang seperti itu. Lagipula kalau aku membunuh dan ketahuan, hukum negara pasti akan menantiku.


Seakan mengerti kegelisahanku, Kepala Sekolah kembali berujar, "Saya gak tahu apa yang kamu minta disana. Tapi, kalau kamu mau saya bisa membantu kamu menutupi apa yang akan kamu lakukan ke depannya."

__ADS_1


👻👻👻👻👻


__ADS_2