Obsesi

Obsesi
Bocah Misterius


__ADS_3

Jika benar dugaanku tentang alasan korban dibunuh adalah karena mereka sempat berinteraksi denganku, mulai saat ini aku harus lebih berhati-hati. Terlebih lagi mungkin keselamatan Al akan terancam. Ya, aku benar!


Dering ponsel mengalihkan aku dari pikiran. Melirik nama si penelepon, aku bergegas menggeser tombol hijau. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat aku sedang memikirkan Al, dia secara kebetulan menelepon terlebih dahulu.


"Aku di depan rumah kamu ini," begitu dia menyelesaikan kalimat itu, panggilan langsung terputus. Sialan. Selalu saja seperti ini. Kalian, ingatkan aku suatu saat untuk membalas kelakuan menyebalkan Al yang satu ini!


Tak peduli dengan kaus kedodoran yang saat ini aku kenakan, aku berjalan untuk membuka pintu rumah. Benar, sosok Al sudah bertengger di atas motor yang berhenti di halaman rumah.


"Keluar yuk, Kin! Lama-lama pusing juga bolak-balik dapat kabar kematian di sekolah. Bisa gila aku kalau cuma diam aja!" katanya ngegas.


Aku hanya memutar bola mata malas, "Lha terus kamu mau apa? Mau mencoba menghentikan dan menangkap si pembunuh yang bahkan identitasnya saja belum jelas?!" balasku. Sekata-kata ini si Al. Aku aja yang sudah lama mikirin ini kasus masih belum nemu solusinya. Lha dia?


"Ya..... gak gitu juga konsepnya kali, Kin! Coba deh kamu bayangin satu persatu teman kita jadi korban pembunuhan! Ya apa gak takut juga? Tiap waktu kepikiran, tiap mau berangkat sekolah masih harus mikir--apa kalau hari ini sekolah, apa tidak bahaya?"


"Mikirmu kejauhan kayaknya deh, Al. Tapi oke lah, suntuk juga lama-lama di rumah!"


Seketika senyum di wajah Al nampak merekah. Tanpa basa-basi, aku kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaket dan ponsel. Enaknya kalau diajak Al keluar itu aku gak perlu keluar uang. Jadi ya aman saja kalau aku tidak bawa dompet.


"Mau kemana kita?" tanyaku saat sudah duduk diboncengan Al.


Al menghendikkan bahu, "Entahlah. Kamu ada rekomendasi, gak?"


Aku mulai memikirkan beberapa tempat yang kami tuju. Ke taman kota? Kayaknya enggak deh. Suasananya sangat tidak cocok dengan keadaan kami berdua. Ke perpustakaan kota? Ah, lagi males baca-baca. Dalam suasana begini itu enaknya makan. Memikirkan makanan, aku jadi teringat kalau belum makan siang padahal hati sudah beranjak sore. Aku mengelus perutku pelan, "Gimana kalau kita makan aja deh, Al?"


Al tertawa meski tanpa suara. Aku dapat melihat itu dari pundaknya yang terguncang, "Pergi sama kamu tuh bawaannya mengarah ke makanan terus perasaan!"


Aku mendesis, "Yaudah sih terserah kamu aja! Lagian aku gak kepikiran tempat bagus buat saat ini."


Beberapa menit bergabung dengan para pengendara di jalan raya, motor yang dikendarai Al melambat sebelum akhirnya berhenti. Bukan taman, bukan tempat wisata ataupun tempat makan. Al malah menghentikan motornya tepat di pinggir jalan raya. Meski agak kesal, melihat beberapa pedagang kaki lima yang berjejer membuat senyumku perlahan berkembang.


"Aku lagi malas makan yang berat-berat. Gak pa-pa kan kalau kita jajan kecil-kecilan di sini?"

__ADS_1


"Gak pa-pa juga sih, asal dibayarin!"


Al tersenyum kemudian mengacak rambutku pelan, "Yaudah, ayo!"


Yes! Lihat saja, aku bakalan jajan banyak banget! Biar Al tahu rasa kalau mengajakku keluar itu harganya mahal.


Sembari menunggu antrian telor gulung yang cukup banyak, aku mengamati suasana sekitar. Dalam hati memilih jajanan apa lagi yang akan aku beli setelah ini. Saat mataku berkeliling ke jalanan sekitar, aku tak sengaja melihat seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki berjongkok di pagar pembatas jembatan. Kira-kira umurnya baru enam tahun menurutku. Anak itu sendirian. Diam dalam posisinya sembari mengamati setiap kendaraan yang lewat. Dari raut wajahnya, sepertinya anak itu sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Al, aku ke sana bentar, ya!" kataku pada Al yang saat ini sedang berbicara dengan abang-abang penjual telor gulung.


"Eh, kemana? Jangan jauh-jauh lho, ya!"


Ck! Sudah macam bapak yang sedang mengingatkan anaknya untuk tidak bermain terlalu jauh saja Al ini. Tanpa mengindahkan perkataan Al, aku bergegas menghampiri si bocah laki-laki.


Begitu melihat kedatanganku, bocah itu mendongak.


"Hai! Kamu kok sendirian di sini?" sapaku setelah berjongkok tepat di sampingnya.


Lha? Orangtuanya anak ini gimana sih? Masa tinggalin bocah sekecil ini di jalan yang cukup ramai begini? Kalau keserempet kendaraan yang lewat gimana? Untung aja anak ini anteng di pinggir jalan.


"Mungkin Mama kamu lagi beli apa gitu," kataku menenangkan, "kamu mau kakak temenin gak nungguin Mama?" tawarku. Aku benar-benar tidak bisa tutup mata untuk meninggalkan anak ini begitu saja dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin bisa terjadi.


"Mau kak. Temenin sampai Mama datang, ya!" katanya dengan mata berbinar.


Aku hanya tersenyum tipis dan mengusap kelapa anak itu sebagai balasan, "Oh iya, kamu udah sekolah belum?" tanyaku. Basa-basi sih sebenarnya. Yakali aku mau diam saja padahal posisinya berdampingan gini? Suasananya gak enak banget.


"Udah. Aku udah mau masuk SD. Kalau kakak? Kakak kelas berapa?"


"Kakak kelas dua SMA."


"Wah.... kakak hebat. Katanya temen-temenku kalau sudah SMA itu pelajarannya sulit. Iya kah, kak?"

__ADS_1


Aku pura-pura berpikir sebentar, "Sulit sih..... tapi kan kakak rajin belajar. Jadinya gak sulit lagi deh!"


Mata bocah itu semakin berbinar, "Wah.... kakak pinter pasti, kan? Kata Mama kalau rajin belajar pasti jadi anak yang pinter. Makanya Mama selalu nyuruh aku belajar terus. Kadang aku capek deh, kak. Kakak gak capek emangnya belajar terus?" tanyanya polos.


"Eng---"


Suara Al membuatku terkejut. Pun dengan bocah di sampingku. Aku menoleh ke arah Al yang datang dengan sepeda motornya, bermaksud hendak memarahinya.


"Kamu ngapain teriak-teriak?!" kataku kesal.


"Lha kamu yang ngapain ngejogrog di situ sendirian?"


Lha? Sekata-kata Al ini. Aku sedikit menggeser posisi agar Al dapat melihat bocah laki-laki yang sejak tadi bersamaku, "Mana ada aku sendirian! Aku lagi nemenin i---ni?" aku kebingungan saat menemukan sampingku kosong. Aku menoleh ke arah sekitar, takut kalau bocah tadi tiba-tiba berjalan ke jalan raya.


"Ini apa? Orang dari tadi aku perhatiin kamu sendirian kok! Kamu bahkan sampai dipandangi beberapa orang yang lewat lho tadi."


Hah? Apa katanya? Dari tadi aku sendirian? Tapi, bocah itu.... dia tidak terlihat seperti sosok astral.


"Kamu yakin aku dari tadi sendirian, Al?" tanyaku memastikan.


"Yakin! Emang kamu tadi sama siapa?"


"Aku ngobrol sama bocah laki-laki tadi."


Al menoleh ke arah sekitar dengan was-was, "Udah yuk, Kin, kita pulang! Aku udah merinding ini," ucapnya sambil mengusap belakang lehernya.


Aku memutar bola mata malas, badan aja yang gede. Nyatanya nyali Al benar-benar ciut. Aku kemudian naik ke boncengan Al. Begitu motor baru berjalan, aku mendengar sebuah bisikan.


"Aku takut..... kak."


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2