Obsesi

Obsesi
Keraguan


__ADS_3

Pagi ini, aku kembali melihat sinar merah yang mengelilingi Intan. Aku menebak, Kira-kira sinar apa itu? Sinar ini belum pernah aku lihat sebelumnya. Atau mungkin pernah? Namun aku lupa.


Apa iya gadis secantik dengan senyum manis dan pembawaan riang itu mampu membunuh orang? Huh, rasanya aku hampir tidak percaya.


Di tengah sibuk dengan pikiranku, aku melihat Intan berjalan menghampiri mejaku, "Aldan mana, Kinara?" tanyanya.


Haisss!


Di samping kecurigaan pada Intan, satu lagi yang aku tidak suka darinya. Sikap centilnya pada Al. Bagiku, Intan terlalu memperlihatkan kalau ia tertarik pada sahabatku itu. Dan itu membuat aku sedikit sebal.


"Ada tadi. Bentar lagi palingan juga masuk," jawabku.


Intan mengangguk, kemudian berlalu.


Bulu kuduk tiba-tiba meremang. Udara yang berhembus terasa semakin dingin. Tapi aku tahu, hanya aku yang bisa merasakannya. Dan aku melihat sosok itu. Sosok hantu berkepala bolong.


Ilham berdiri di dekat pintu kelas, memandangku lurus. Matanya bersinar merah. Bibirnya tetap bungkam. Namun aku melihat kemarahan yang cukup jelas di sana.


Dia kenapa? Mungkinkah marah padaku karena tidak cepat menghentikan teror ini?


Sosok Ilham berjalan pelan keluar dari kelas. Entah mengapa, aku merasa seperti perlu mengikutinya. Bersamaan dengan aku bangkit dari tempat duduk, Bel masuk sudah berbunyi. Aku terdiam, menimbang keputusan mana yang akan aku ambil. Mengikuti Ilham atau tetap di kelas dan mengikuti pelajaran yang akan segera dimulai.


Ah, persetan! Mengikuti Ilham jauh lebih penting untuk saat ini. Masalah pelajaran, aku bisa bertanya pada anak lain.


Aku buru-buru keluar kelas sebelum guru mata pelajaran datang. Karena tergesa, aku bahkan sampai menabrak seseorang. Aku mendongak dan menemukan wajah Rafa di sana, dia adalah teman sekelasku, "Ugh! Hati-hati kalau jalan!" katanya pelan.


"Maaf, maaf," ucapku.


"Kamu mau kemana, Kin? Bentar lagi pelajaran mulai, lho!" tanya Al yang berada di belakang Rafa.


Aku menatap Al sebentar. Pandanganku beralih pada sosok Ilham yang sudah hampir menghilang di ujung jalan. Ah, masa bodoh! Mengikuti Ilham jauh lebih penting untuk sekarang.

__ADS_1


Tanpa memedulikan Al, aku segera berlalu. Berlari mengejar Ilham yang sudah menghilang di ujung gedung. Dari sini, aku masih mendengar Al yang memanggil-manggil namaku.


Sosok Ilham berjalan pelan menuruni tangga. Melewati laboratorium yang saat ini kosong, melewati kantin sekolah sebelum berbelok menuju belakang gedung. Tanpa banyak berpikir, aku mengikuti hingga tiba di gudang yang ada di belakang gedung. Di sini terasa sunyi, suara ramai murid ataupun guru yang sedang mengajar sama sekali tidak terdengar. Yang ada hanya bunyi gesekan daun yang tertiup angin dan suara burung yang mencicit bersahutan.


Aku mengikuti Ilham yang sudah masuk ke dalam gudang terlebih dahulu. Huh, mentang-mentang hantu, dia bisa keluar masuk dengan menembus pintu. Lha aku? Aku masih harus menyingkirkan beberapa kayu dan bangku yang sepertinya digunakan murid laki-laki untuk nongkrong.


Aku langsung membuka pintu begitu berhasil menyingkirkan beberapa kursi dan kayu. Aku langsung terbatuk kala debu menyerbu tenggorokan dan indra penciumanku.


Sambil mengkibaskan tangan di depan wajah, pandanganku mulai mengamati sekitar. Aku menghentikan gerakan tangan saat melihat hal yang tertangkap oleh indra penglihatan ku. Coba tebak apa yang aku lihat saat ini?


Di ruangan penuh debu dan sarang laba-laba ini, beberapa makhluk halus berkumpul seakan sedang melakukan musyawarah. Berbagai macam rupa dan bentuk mereka. Dan di antara mereka, ada sosok Ilham yang berdiri di sana. Juga Mina.


Aku terjengkang ke belakang saat suara mereka menggema bersamaan, memasuki gendang telinga.


"HENTIKAN INI SEMUA, INDIGO!"


Demi apapun, mereka nampak menakutkan. Mereka terlihat seperti binatang buas yang siap menerkam mangsa.


Debu mulai berterbangan. Angin juga bertiup kencang sehingga membuat helai demi helai rambutku berterbangan. Aku mulai terbatuk. Bahkan pengelihatanku mulai samar.


Masih dalam keadaan duduk di lantai yang kotor, wajah pucat Ilham tiba-tiba sudah berada tepat di depan wajahku.


Sekujur tubuhku gemetar hebat. Kepalaku mulai pusing. Bahkan aku mulai dapat merasakan cairan mengalir dari dalam hidung. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Dalam antara sadar dan tidak sadar, aku memandang Ilham dengan pandangan sayu, "a--aku ja--nji akan meng--henti--kan ter--ror i--ini!"


Sosok Ilham mengangguk pelan, "Kamu harus! Sebelum semakin banyak korban berjatuhan!" katanya tegas.


Aku mengangguk lemah, "A--aku ja--nji!"--dan setelah itu semuanya gelap.


👻👻👻👻👻


Aku menyerngit begitu mencium bau yang sangat menyengat. Pelan-pelan kubuka mata dan mengerjap saat menemukan langit-langit berwarna putih. Ugh, aku di mana?

__ADS_1


"Kamu ada di UKS, Kin. Tadi ada anak kelas dua belas yang nemuin kamu gak sadarkan diri di gudang," jelas Al. Huh? Jadi sejak tadi dia menemaniku.


Hah, aku ingat. Aku sebelumya berada di gudang untuk menemui Ilham dan aku melihat banyak makhluk halus di sana.


"Kamu sebenarnya dari mana sih, Kin? Tiga jam lho kamu pergi dan balik-balik dalam keadaan pingsan kayak gitu. Aku bahkan panik banget lho saat ada yang kasih kabar kamu di UKS. Kamu dari mana, Kin?" tanya Al panjang lebar.


"Setidaknya bagi aku minum dulu, dong! Udah tahu aku habis pingsan!" ujarku pelan.


"Oh, iya!"


Aku mendudukkan tubuh begitu Al menyodorkan gelas berisi teh hangat padaku. Tanganku terangkat hendak memegang gelas saat tangan Al yang bebas menangkis tanganku pelan, "Aku bantu," katanya.


Aku memandang Al sebentar sebelum mulai menyeruput teh secara perlahan.


Al meletakkan gelas ke atas nakas begitu aku selesai minum, "Masih pusing, gak?" tanyanya pelan.


Aku menggeleng sebagai jawaban.


"Baringan aja lagi!" kata Al sambil membantuku untuk berbaring.


Untuk sesaat hatiku terasa hangat mendapat perlakuan lembut dari Al. Ah, Aldan! Jangan salahkan aku kalau suatu saat aku tidak bisa lepas dari kamu! Sadar atau tidak sadar, Al benar-benar membuat aku menggantungkan harapan.


"Kamu tadi kenapa, hm? Kok bisa pingsan?" tanya Al setelah menyelimuti setengah tubuhku.


"Aku...." pertemuanku dengan Ilham tadi dan banyak makhluk halus penghuni sekolah ini, apakah tidak apa kalau aku menceritakannya pada Al? Aku takut Al akan semakin khawatir padaku. Meskipun Al tahu akan teror yang sedang menghantui sekolah kami, apa tidak apa kalau Al tahu lebih jauh? Aku takut jika Al tahu, seseorang di balik teror ini akan mengincar Al. Aku tidak mau membahayakan keselamatan Al, "ah enggak! Aku gak tau kenapa bisa pingsan di sana."


Al memandangku penuh selidik, "Kamu gak sedang menyembunyikan sesuatu kan, Kin?"


Aku menggeleng tegas sebagai jawaban.


Maafin aku, Al.

__ADS_1


👻👻👻👻👻


__ADS_2