Obsesi

Obsesi
Mimpi Aneh


__ADS_3

Entah sejak kapan aku sampai di sini. Berdiri di dalam gudang tempat ditemukannya salah satu korban. Namun, gudang ini tak terlihat seperti biasanya. Warna merah pekat mengelilingi seluruh penjuru gedung.


Uhuk!


Sebuah benda terbang tepat di depanku membuat aku terbatuk kecil. Terlebih lagi sesuatu itu terbang dengan menjatuhkan serbuk seperti debu yang langsung masuk ke dalam indra pernapasan.


Tak hanya sampai di situ, udara di dalam gudang terasa pengap. Sesuatu yang panas seakan menekan dari segala sisi. Aku mulai tersenggal. Rasanya seperti terjebak di dalam mobil yang pintunya terkunci.


Masih belum cukup, tubuhku terasa mendapat tekanan dari segala sisi. Layaknya botol berisi udara yang ada di kedalaman laut, aku merasa seperti akan meledak.


Sakit..... ini sangat sakit....


Hah... hah...


Aku berjalan tertatih menuju pintu. Sungguh, rasanya sangat menyesakkan. Tempat apa sebenarnya ini???


Belum sempat aku sampai pintu, badanku terjatuh. Rasa lemas karena hampir kehabisan napas membuat aku tak kuat walah hanya untuk mengangkat badan.


Prang!!!


Prang!!!


Tiba-tiba beberapa kaca jendela pecah dan berhamburan ke dalam seakan mendapat tekanan dari luar. Aku yang takut terluka langsung melindungi wajah dengan kedua lengan.


Brugh!!!


Brak!!!


Tak hanya sampai di situ, meja kursi yang disusun tinggi di tepi dinding jatuh bergelimpangan. Keadaan semakin mencekam kala pintu gudang tiba-tiba terbuka lebar. Angin dari luar bertiup kencang menerbangkan dedaunan kering hingga ke dalam gudang. Saking kencangnya angin yang berhembus, pandanganku terus terhalang rambutku yang berterbangan.


"Awhhss...."


Sekilas, suara rintihan seseorang mulai terdengar. Dari balik rambut yang masih berterbangan tertiup angin, aku mengintip. Seseorang terlihat kesakitan tepat di depanku. Badannya tersungkur seperti ada seseorang yang habis mendorongnya. Niat hati ingin menolong, namun apa daya, badanku sungguh tak bertenaga.


Angin bertiup semakin kencang, seakan-akan aku merasakan kalau badai sedang terjadi di ruangan sempit ini. Debu yang memang bertumpuk di dalam gudang bercampur daun kering dari luar sana berputar-putar membuat penglihatan berkurang.


Tiba-tiba bulu kuduk merinding. Dari arah pintu, beberapa sosok tinggi besar berjalan pelan memasuki gudang. Salah satu dari sosok yang aku lihat, sosok yang sangat kukenali memimpin di depan. Sial, bukankah itu Ilham? Bagaimana dia bisa berubah menjadi sosok yang menyeramkan seperti ini? Dia tidak seperti Ilham yang aku tahu selama ini.


Belum reda keterkejutan melihat sosok Ilham, badanku dibuat gemetar hebat hanya dengan melihat sosok macam apa yang ada di belakang Ilham. Mereka lebih dari sepuluh. Dengan badan besar dan tinggi menyentuh daun pintu. Muka mereka lebih terlihat menyeramkan kala tersenyum lebar dengan gigi yang semuanya merupakan taring.


Di tengah sulitnya membuka mata, aku masih berusaha melihat apa yang sesungguhnya terjadi di depan mata. Samar-samar, beberapa sosok itu mengelilingi seseorang yang masih tersungkur di lantai gudang. Aku tak bisa melihat lebih jauh apa yang terjadi karena sosok tinggi besar itu memunggungiku, sampai suara teriakan dan sesuatu yang menyembur dari kerumunan itu membuat aku terbelalak. Lantai di hadapanmu basah akan warna merah pekat. Aku tidak bodoh untuk tahu kalau itu bukan air. Itu darah.

__ADS_1


"Arrggghhhh!!!"


"Rawwrrr!!!"


"Arrrggghhhh!!!"


"Rawwwrrr!!!"


"Arrggghhhh!!!"


"Rawrrhhhh!!!"


Suara teriakan dan gerakan bersahut-sahutan terdengar. Tak lama, suara cekikikan terdengar begitu familiar. Mina, aku tidak mungkin salah dengar.


Lama dalam pikiran akan kedatangan Mina, aku dikejutkan dengan suara tangisan memilukan.


"Ampuunn..... tolong...."


Angin kencang tiba-tiba berhenti berhembus, menjatuhkan dedaunan kering ke lantai. Meski debu masih berterbangan, samar-samar aku dapat melihat tubuh yang hampir terkoyak di depan sana. Para sosok yang dipimpin Ilham tadi entah pergi kemana.


Deg!


Bagas?


Keadaan udara yang tak lagi pengap membuat aku mendapatkan kembali energiku. Aku bangun, sedikit menyeret langkah berjalan mendekati Bagas dan kupegang beberapa lukanya, "Kamu gak pa-pa? Kamu kenapa bisa sampai begini?"


Bagas terbelalak, "Ki--kinar?"


Aku mengangguk, "Kamu bisa bangun?"


Mendapati anggukan Bagas, aku memegang telapak tangannya erat. Aku berlari dengan Bagas, bergegas sebelum sosok tadi kembali. Kami berlarian di sekitar area sekolah yang tampak sepi. Seingatku, gerbang sekolah ada di depan sana. Namun, begitu aku sampai area yang kuyakini tempat gerbang itu berada, di tempat itu hanya terdapat pagar tinggi yang ketika kami mendongak, ujungnya tidak terlihat saking tingginya. Tak kehilangan akal, kami berlari menuju gerbang belakang, namun tetap sama. Arrgghh!!! Sebenarnya tempat apa ini???


"Kinar...."


Aku menoleh kala Bagas memanggilku pelan. Tatapan kami bertemu dalam satu garis lurus, "Jangan bilang apapun!" kataku memperingatkan.


"Kenapa kamu menolongku?" rupanya dia tak mempan dengan peringatanku.


Aku menatapnya dengan bengis, "Ya, menurutmu saja! Coba pikirkan kenapa aku masih mau tolongin kamu padahal kelakuanmu sungguh jahat?!"


"Kamu.... suka juga sama aku?"

__ADS_1


Sialan! Seandainya aku tidak ingat luka di sekujur tubuh Bagas, sudah pasti aku akan menghajarnya yang begitu percaya diri itu, "Jangan mimpi! Dalam sekedar mimpi, pun, aku tidak akan jatuh cinta pada manusia psikopat sepertimu!" kataku ketus.


"Hahaha...."


"Masih bisa tertawa kamu dengan luka sebanyak kitu?" kataku heran.


Masih dengan tawa di bibir, Bagas berceletuk, "Aku kira perasaanku terbalas. Setidaknya kalau memang begitu, mati pun aku tak masalah."


"Jangan mimpi!"


Sadar kalau tanganku masih bergandengan dengan Bagas, aku menghempaskannya, "Kita gak lagi mau nyebrang jalan!"


"Padahal kamu tadi yang pegang tanganku erat banget!"


Aku masih bisa dengar ya, Bagas! Tapi males aja buat ditanggapin. Nanti yang ada malah dia besar kepala lagi.


Di tengah keheningan antara kami, Aku berjalan pelan menyusuri tembok tanpa ujung di atasnya ini, sialnya lagi, tembok serupa mengelilingi satu sekolah. Sebenarnya tempat macam apa ini?


Saat aku kembali ke tempat di mana Bagas berada, aku melihat sosok menyeramkan tadi terlihat menyeret Bagas. Aku berlari, menahan kaki Bagas, "Enggak! Lepasin!"


Sosok itu berhenti, menoleh padaku.


"I--ilham?"


"Minggir Indigo! Ini bukan urusan kamu!"


"lalu.... apa urusanmu dengan dia?" tanyaku tanpa menghilangkan nada gugup.


"Dia pantas dihukum atas perbuatannya!"


"Kamu bukan Tuhan! Kamu gak berhak menghukum dia!" teriakku.


Bugh!


Badanku terpelanting ke belakang dan menabrak tembok. Di tengah menahan sakit di punggung, aku hanya bisa menatap Bagas yang terlihat pasrah diseret sosok Ilham, sebelum penglihatanku gelap.


"Kinara, kamu kalau masih sakit ke UKS saja gak pa-pa!"


Tepukan pelan di bahu membuat aku membuka mata. Hal yang aku lihat pertama kali adalah seorang guru yang berdiri tepat di sampingku.


Huh? Jadi itu tadi hanya mimpi?

__ADS_1


👻👻👻👻👻


__ADS_2