
Sudah hampir satu minggu berlalu sejak kematian Anjar. Namun, si pembunuh belum menunjukkan tanda-tanda untuk mendekati Al. Mengamati jangka kematian korban yang hampir berjarak satu minggu, besar kemungkinan si pembunuh akan melancarkan aksinya di minggu ini. Itu berarti, keselamatan Al sedang terancam.
"Kin?"
Kibasan tangan Al tepat di depan muka membuat aku segera kembali ke dunia nyata, "Kenapa, Al?"
"Tuh kan, ngelamun lagi. Kamu sadar gak sih Kin, kalau akhir-akhir ini kamu lebih banyak melamun?" tanyanya kemudian.
"Masak sih?"
Al mengangguk dua kali, "Apa sih yang ganggu pikiran kamu? Sini cerita sama aku! Apa masalah teror itu lagi?"
Aku mengangkat bahu, "Kamu bahkan udah tahu jawabannya."
Al terlihat menghembuskan napas kasar. Air mukanya berubah sendu, "Seandainya aku bisa lakuin sesuatu buat hentikan teror itu...."
Kini giliran aku yang menghembuskan napas kasar sebelum mengalihkan pandangan ke luar jendela. Menatap birunya langit dari balik kaca, "Kamu gak perlu lakuin sesuatu, Al. Ini, murni urusan aku dan para penghuni sekolah ini."
Al menatapku tak percaya, "Memangnya kamu bisa apa kalau pembunuh itu balik menyakiti kamu nantinya?"
Masih dengan menatap keluar jendela, aku mengangkat bahu acuh, "Setidaknya..... aku bertanggung jawab atas semua ini. Kalau seandainya aku tidak meremehkan apa yang dikatakan hantu Ilham saat itu.... ini semua pasti tidak akan pernah terjadi. Seandainya.... waktu itu aku lebih fokus pada masalah ini--"
"Cukup, Kin! Ini semua bukan salah kamu," Al menggenggam telapak tangan kananku seakan menyalurkan energi tak kasat mata, "aku... bakalan selalu ada buat kamu. Aku juga janji bakalan bantu kamu buat pecahin misteri ini."
Aku menatap wajah Al sendu kemudian beralih menatap telapak tangan yang sedang Al genggam. Ah, seandainya keadaan tidak sepelik sekarang, aku pasti akan sangat bahagia menikmati hal yang bisa dikatakan romantis ini.
"Intan!"
Aku dan Al melepas genggaman tangan kami lalu menoleh serempak ke arah pekikan.
__ADS_1
"Kamu mimisan! Banyak banget!" beberapa teman sekelasku berkumpul mengelilingi Intan. Sinar merah yang selama ini aku lihat, kini berwarna semakin gelap. Saking gelapnya, warna merah itu bahkan hampir menyerupai warna hitam. Entah hanya prasangka atau bukan, firasatku mengatakan hal yang buruk.
Tak ingin larut dalam pikiran di saat seperti ini, aku buru-buru bangkit menghampiri di mana Intan berada. Aku langsung merebut sekotak tissue yang dikeluarkan temanku, menariknya sehelai dan mengarahkannya tepat di bawah hidung Intan. Intan hanya diam dengan tangan bergetar yang berlumuran darah saat aku berusaha menghentikan mimisannya. Hampir satu kotak tissue aku habiskan, namun darah yang mengalir dari dalam hidung Intan tak juga berhenti. Dalam keadaan panik, aku menoleh ke arah sekitar.
"Ini pada ngapain diem aja sih?! Panggil guru atau siapa pun buat minta bantuan!!" bentakku.
Siluet teman sekelasku berlari keluar kelas begitu aku membentak. Lagian heran deh, lagi keadaan genting seperti ini mereka kok malah diem cuma nonton doang?
Seorang guru perempuan masuk ke kelas, "Kita ke rumah sakit. Mobilnya sudah siap. Intan bisa jalan, gak?"
Intan hendak berdiri, aku dengan sigap memegang lengannya. Sebelum itu, aku menyerahkan beberapa lembar tissue bersih untuk ia pegang.
Mobil sekolah sudah dalam keadaan menyala saat aku dan Intan sampai di lapangan. Tanpa banyak bicara, aku membantu Intan masuk ke dalam mobil. Di sana sudah ada seorang guru perempuan yang akan menemani Intan ke rumah sakit.
Begitu mobil berlalu, aku memperhatikan tanganku yang ternyata terkena darah Intan sebelum berjalan ke arah toilet terdekat. Karena ini masih jam pelajaran, tidak banyak siswa yang tahu kejadian barusan. Hanya beberapa siswa yang kebetulan keluar kelas yang memperhatikan dengan pandangan iba.
Begitu air mengalir dari keran, aku menggosok noda darah di tangan. Sembari membersihkan tanganku, aku memikirkan kejadian barusan.
Apakah selama ini Intan sering mengalami hal seperti itu?
Pertanyaan itulah yang terus bermunculan di pikiranku. Aku tak bisa membayangkan betapa sakitnya itu. Ah iya, mengenai sinar di tubuh Intan, apakah selama ini sinar merah yang aku lihat itu adalah bawaan dari penyakit Intan?
Ah, kini aku ingat di mana aku pernah melihat sinar semacam itu. Dulu sekali, saat tetanggaku sakit parah dan hanya bisa berbaring di tempat tidur, aku melihat sinar yang sama seperti sinar yang mengelilingi Intan. Dan tetanggaku itu sakit karena terkena gangguan gaib.
Mungkinkah Intan juga?
👻👻👻👻👻
Saat aku kembali ke kelas, suasana kelas berubah tidak kondusif. Beberapa dari mereka sibuk membicarakan apa yang baru saja terjadi pada gadis periang ini. Mereka juga sibuk menerka-nerka penyakit apa sebenarnya yang menyerang Intan.
__ADS_1
Hah! Seandainya mereka semua tahu bahwa Intan menderita penyakit yang cukup serius, aku penasaran reaksi seperti apa yang akan mereka tunjukkan.
"Aku kira kamu ikut ngantar ke rumah sakit, Kin!" kata salah satu teman perempuanku.
Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Aku kemudian berjalan ke tempat duduk Intan, mengemasi semua alat tulis untuk dimasukkan ke dalam tasnya, lalu aku membawa tas milik Intan ke mejaku.
"Nanti biar aku anterin kamu buat balikin tasnya Intan," kata Al setelah duduk di depanku.
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan Al.
"Tapi aku gak tahu di mana rumahnya," lanjutnya.
"Aku tahu," kataku.
Al terlihat terkejut, "Dari mana kamu tahu?" tanyanya.
Kali ini giliran aku yang terkejut. Ah, ngomong apa aku barusan! Rasanya aku ingin menabok mulutku yang terlalu jujur ini. Jelas lah Al terkejut mendengar ucapanku barusan. Selama ini kan aku tidak terlihat dekat dengan Intan untuk sekedar tahu tempat tinggal masing-masing! Malahan, aku terkesan agak ketus kalau menyangkut Intan.
"Gak sengaja lihat waktu itu datanya Intan di meja guru," alasanku.
Al menatapku penuh selidik, "Datanya Intan doang?"
"Ya enggak lah! Punya kita semua, satu kelas!"
Al menganguk-angguk mencurigakan. Matanya memicing menatapku, "Satu kelas ya? Coba kasih tahu aku di mana rumah ketua kelas?"
Sumpah. Al ini kenapa sih? Gak biasanya dia kayak begini. Biasanya apa yang aku ucapin pun dia percaya-percaya saja. Lagian gak mungkin, kan, aku mengatakan sempat memata-matai Intan waktu itu?
"Kamu ini kenapa sih, Al? Kan udah lama kejadiannya. Aku juga udah lupa. Karena Intan pas itu masih murid baru aja aku jadinya ingat."
__ADS_1
Seperti tak ingin memperpanjang masalah, Al mengangguk mendengar perkataanku. Kali ini giliran aku yang menatap Al curiga. Sebenarnya, Al ini kenapa sih? Kenapa sekarang Al terlihat berbeda dari sosok Aldan yang selama ini aku kenal? Huh, sepertinya ada yang tidak beres dengan Al. Apapun itu, aku harus mencari tahunya!
👻👻👻👻👻