Obsesi

Obsesi
Dia Korban!


__ADS_3

Perlahan, aku mendekat ke brankar dorong yang siap masuk mobil jenazah. Salah satu petugas medis membuka resleting bagian atas sehingga aku dapat melihat jelas wajah si korban.


Deg!


Wajah itu masih wajah yang sama dengan wajah yang aku temui di pinggir lapangan kemarin. Pun wajah yang tadi malam sempat aku ikuti. Namun kini, pemilik wajah itu hanya bisa memejamkan mata. Wajahnya terlihat seputih salju.


Entah mengapa, dadaku sesak melihat Aril dalam kondisi seperti ini. Padahal, jika dipikir-pikir dia tidak memiliki hubungan apapun denganku. Kami hanya pernah berpapasan.


"Kamu kenal?" tanya si bapak polisi.


Aku mengangguk membenarkan, "Dia teman saya."


"Bisa ikut kami sebentar? Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan."


Tanpa berpikir, aku langsung menyetujui untuk ikut dengan polisi. Tidak apa, aku rela melakukan apapun untuk memecahkan misteri teror ini.


"Kin?" Al menyangsikan keputusanku.


"Gak pa-pa, Al. Palingan cuma ditanya-tanya aja kok. Kamu kabarin Mama, ya!" kataku sebelum masuk ke mobil polisi.


Mobil yang aku tumpangi melaju mengikuti mobil ambulans di depanku. Tak lama, mobil yang aku tumpangi memisahkan diri di pertigaan jalan. Jenazah Aril akan di autopsi terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada pihak keluarga, itu yang aku dengar.


Aku pikir aku akan diinterogasi di sebuah ruangan kedap suara seperti yang pernah aku lihat di film. Namun ternyata dugaanku salah. Aku hanya duduk di depan meja salah seorang polisi yang sepertinya berpangkat tinggi.


"Kamu kenal sama korban?" tanyanya memulai.


Aku mengangguk sebagai jawaban. Meski bukan teman akrab atau kenalan, tau sekedar nama sudah masuk dalam kategori 'kenal', kan?


Polisi itu mengangguk sebelum menunduk untuk membaca sesuatu di sebuah kertas. Sepertinya itu adalah daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepadaku, "Menurut kamu, korban itu sifatnya atau perilakunya dengan sekitar itu gimana? Adakah kemungkinan korban ini mempunyai seorang musuh?"


"Kayaknya enggak kalau punya musuh, Pak. Dia sama kok seperti siswa laki-laki pada umumnya."


Polisi itu mengangguk lagi, "Kapan kamu kira-kira terakhir kali bertemu dengan korban?"


"Kemarin. Waktu istirahat sekolah. Kira-kira jam setengah sepuluh atau jam sepuluh pagi."

__ADS_1


"Kinara?!"


Aku menoleh begitu mendengar suara Mama. Wajah mama terlihat cemas begitu menghampiriku. Di belakang beliau, sosok Al mengekor.


"Kamu gak pa-pa, kan, sayang?" ucap Mama sambil meraba wajahku.


Aku menggeleng sebagai jawaban.


"Pak, anak saya sudah boleh pulang?" tanya Mama pada polisi yang menginterogasi ku tadi.


"Oh, sudah." kata polisi itu pada Mama. Kini pandangannya beralih padaku, "Terima kasih atas kerja samanya ya, dek!"


"Sama-sama, pak. Kalau begitu kami permisi." balasku.


Begitu aku berdiri dari dudukku, Mama langsung menggandeng lenganku, kami berjalan bersisihan sementara Al memimpin di depan.


Sebelum berjalan jauh, aku sempat mendengar polisi yang menginterogasi tadi berbicara dengan rekannya.


"Ini mungkin enggak kalau ketiga korban adalah korban pembunuhan berantai? Kondisi jasadnya sama. Organ dalam hilang dan salah satu jari tangan putus."


👻👻👻👻👻


"Untung saja langsung boleh pulang. Gak kebayang Mama kalau sampai kamu bermalam di sana," lanjutnya.


"Ya kan---"


"Mama belum selesai bicara!" tegas Mama sambil menunjuk ke arahku.


Oke. Sepertinya ibunda ratu akan memulai sesi persidangan. Apalah daya aku yang kini jadi tersangka. Aku hanya bisa menutup mulut dan memasang telinga baik-baik, mendengarkan beliau dengan seksama. Maklum lah, sepertinya semua ibu memiliki sisi yang satu ini.


"Kamu tahu gak gimana khawatirnya Mama saat Al datang dan kasih tahu kalau kamu ada di kantor polisi?"


"Mama cemas banget. Mama bahkan sampai gak bisa berpikir, takut kalau kamu dapat masalah yang serius!"


"Maaf, Ma. Maaf karena Kinar udah bikin Mama khawatir." kataku sambil menunduk.

__ADS_1


Mama mengangguk, "Kata Al...... kamu gak begitu kenal sama anak yang ditemuin di kebun itu. Terus kamu kenapa mau diajak ke kantor polisi segala.


"Kinar cuma mau memast----" ah, enggak. Mama gak boleh tahu tentang teror yang menghantui sekolah saat ini. Setidaknya sampai misteri ini terpecahkan. Aku gak mau membuat Mama lebih khawatir lagi.


"Kamu mau memas---apa?" todong Mama.


Aku terkesiap, "Ya kan Kinar tahu kalau dia teman satu sekolah Kinar, Ma. Masa Kinar mau diam aja?"


"Udahlah, terserah kamu saja!" kata Mama sambil berlalu.


"Ma! Tapi Mama udah maafin Kinar, kan?" kataku sambil berteriak, takut kalau Mama tidak mendengar.


Begitu Mama menyahut dengan kata 'iya', aku baru bisa bernapas lega. Bagiku, kemarahan sang ratu di rumah ini adalah bencana bagi seisi rumah. Bagaimana tidak, pernah suatu kali Mama marah pada Papa, keesokan paginya seluruh masakan yang dimasak olehnya terasa sangat asin. Dan yang lebih parahnya, aku dan Papa harus menghabiskan makanan yang sudah Mama masak. Mama bahkan sampai mengancam kalau makanan masih tersisa, Mama bakalan mogok masak satu minggu. Ya kali sampai Mama mogok masak. Membayangkannya saja aku dan Papa tidak akan sanggup. Pasalnya, baik Papa maupun aku sama-sama tidak bisa memasak. Sama sekali.


Aku langsung membaringkan tubuh di atas kasur begitu masuk ke dalam kamar. Tas sekolah aku lempar sembarangan di lantai. Masih dengan seragam sekolah melekat di tubuh, aku memikirkan kata-kata bapak polisi tadi.


"Ini mungkin enggak kalau ketiga korban adalah korban pembunuhan berantai? Kondisi jasadnya sama. Organ dalam hilang dan salah satu jari tangan putus."


Ketiga korban ditemukan dalam kondisi yang sama? Organ dalam diambil dan jari tangan terputus.


Ya! Kenapa aku tidak berfikir ke arah sana? Sudah jelas bukan, itu ciri terornya! Bodoh sekali aku selama ini! Kini, aku hanya tinggal mencari tahu, orang seperti apa yang akan menjadi korban? Sudah jelas, kemungkinan besar, tiga korban ini dibunuh karena suatu hal.


Apa ya? Ayolah, berpikir, Kinar!


Aku memejamkan mata, berusaha menemukan motif apa yang membuat mereka dibunuh.


Mungkinkah tanggal lahir mereka sama? Emm... mungkin juga. Tapi aku kayaknya gak terlalu yakin, deh.


Ayolah, berpikir!


Uh, teror ini kan menghantui sekolah, mungkinkah mereka berbuat sesuatu yang tidak baik sehingga membuat penghuni sekolah marah?


Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Enggak! Enggak! Dari ketiga korban ini, hanya kak Riki yang agak bermasalah, itupun dia terkenal baik di lingkungan rumahnya. Aldo malah terkenal cukup supel. Dia gak mungkin berbuat yang aneh-aneh. Aku berani jamin. Kalau Aril, aku gak tahu dia seperti apa.


Huft!

__ADS_1


Kalau begini, apa dong yang membuat mereka dijadikan korban??


👻👻👻👻👻


__ADS_2