
Aku memejamkan mata sebentar, berharap semoga mahluk-mahluk yang nanti aku temui di dalam sana tidak akan menggangu. Demi apapun ini bukan saat yang tepat kalau aku harus berurusan dengan mahluk yang sedikit iseng sementara aku tidak tahu bahaya apa yang mungkin sedang dihadapi Bagas.
Huft!
Aku menghembuskan napas sekali lagi. Sebelum itu, aku mengirimkan lokasi dimana aku berada saat ini pada Mama. Entahlah, aku tidak bisa berpikir siapa orang yang mungkin bisa aku mintai pertolongan jika terjadi sesuatu di dalam sana. Ingin minta tolong pada Al yang paling memungkinkan, tapi saat ini bahkan Al tidak tahu ada dimana.
Setelah memastikan lokasi yang aku kirim barusan benar-benar telah sampai pada Mama, dengan langkah pelan dan penuh kehati-hatian aku berjalan masuk menuju kegelapan.
Aku sengaja tidak mengaktifkan senter di ponsel, takut-takut kalau sinar ponsel akan menarik perhatian hewan malam seperti ular atau apapun itu.
Tak ada yang dapat diandalkan dalam kegelapan selain sinar bulan yang untungnya malam ini cukup terang. Suara nguing-nguing nyamuk mulai terdengar. Cukup nyaring sampai aku yakin kalau banyak nyamuk yang berputar di sekitar wajah.
Di antara bayangan pohon bambu di tanah, dari ekor mata, aku melihat bayangan hitam besar mengikuti langkahku, namun agak berjarak dari arah kanan.
Demi apapun, aku benar-benar asing dengan tempat ini. Pun dengan mahluk penghuni kawasan ini. Bila mungkin bagi mahluk di area sekolah dan rumah aku sudah cukup dikenal, lain dengan disini. Segala sesuatu yang buruk mungkin bisa saja terjadi.
Aku berusaha setenang mungkin kala bayangan hitam yang mengikutiku berhenti berjalan, aku tidak tahu ia benar-benar telah berhenti mengikutiku atau malah bersiap untuk menggangguku.
Aku menahan napas kala merasakan sesuatu yang besar menabrakku atau mungkin aku yang menabraknya. Entahlah. Dari permukaan tubuhnya yang seperti dipenuhi bulu, aku yakin kalau mahluk di depanku ini adalah sosok genderuwo.
Di tengah nyaringnya suara jangkrik dan nyamuk, aku masih dapat mendengar jelas hembusan napas mahluk di hadapanku. Jantungku berpacu dengan cepat.
"Maaf, urusanku jauh lebih penting daripada meladeni mahluk sepertimu!" kataku sambil berlalu melewatinya.
Aku memejamkan mata dan menghembuskan napas lega kala berhasil melewatinya. Demi apapun, untuk sesaat tadi aku benar-benar takut. Entah sosok seperti apa genderuwo tadi semasa hidup, namun aura yang terpancar dari sosoknya benar-benar terasa mencekik. Mungkin dia sosok yang paling mendominasi di kawasan ini.
__ADS_1
Kakiku berhenti melangkah begitu aku merasa menginjak sesuatu yang sepertinya bukan batu. Begitu aku mengambilnya, sebuah ponsel berada digenggaman ku. Aku mencoba menyalakannya, namun nihil, ponsel itu dalam keadaan mati.
Tunggu! Kupandangi ponsel itu lekat-lekat dengan bantuan sinar bulan. Aku merasa ponsel ini tidak asing! Entah perasaanku atau bukan, aku pernah melihatnya di suatu tempat.
Sreeett..... Sreeett..... Sreeett....
Aku buru-buru bersembunyi di balik rimbunnya pohon bambu kala mendengar suara seseorang berjalan. Entah benar-benar orang atau bukan, tapi aku merasa aku perlu bersembunyi.
Tak lama aku melihat bayangan seseorang berjalan dua meter di depanku. Kali ini aku yakin kalau sosok barusan benar-benar manusia. Mungkinkah itu Bagas? Ah, tidak! Postur tubuh Bagas tidak seperti itu. Postur tubuh orang yang baru saja lewat terlalu besar untuk ukuran tubuh Bagas.
Merasa mungkin akan memberi petunjuk, aku memutuskan mengikuti orang itu secara sembunyi-sembunyi. Meminimalisir suara yang mungkin akan timbul kala aku berjalan dan membuat orang di depan sana curiga, aku memutuskan untuk melepas alas kaki. Tak masalah kau berjalan dengan kaki telanjang, yang penting, aku harus menuntaskan rasa penasaran ini. Syukur kalau ini masih berhubungan dengan teror di sekolah.
Tak lama setelah berjalan cukup masuk ke dalam, aku kembali mendengar langkah kaki yang kian mendekat. Kali ini suaranya berasal dari belakangku. Aku berjongkok di bawah pohon bambu terdekat sambil menahan napas kala sosok itu semakin dekat.
Sosok di depan sana berhenti berjalan, kemudian menoleh ke belakang. Jantungku berdetak semakin kencang kala sosok di belakangku tadi akhirnya berjalan melewatiku dan berhenti di depan sosok yang pertama kali aku lihat. Mereka tak bicara sepatah katapun. Namun dari siluetnya, aku yakin sosok di depan sana sedan menunjuk ke berbagai arah. Sialnya, karena minim cahaya, aku tak bisa melihat wajah mereka.
Sial! Sial! Sial!
Kenapa di saat seperti ini ponselku harus berbunyi? Seingatku aku tadi sudah mematikan data seluler.
"Cari!"
Aku memejamkan mata kala suara dengan nada perintah itu terdengar. Dengan tangan gemetar, aku mengeluarkan ponsel yang sudah berhenti berbunyi dari saku celana. Aku meletakkan ponsel itu di tanah sebelum berjalan mengendap-endap menjauhi lokasi awal. Aku mutuskan lebih baik meninggalkan ponsel daripada ponsel itu akan kembali berbunyi saat aku bawa nanti. Terlalu ketara kalau aku harus mematikan daya terlebih dahulu. Karena aku yakin, cahaya sekecil apapun akan terlihat sangat jelas saat ini.
Krak!
__ADS_1
Aku menahan napas kala kakiku tak sengaja menginjak ranting. Dan yang jelas, suara barusan membuat seseorang yang tengah membawa ponselku mengalihkan pandangan. Ah, sial!
Aku memutuskan berjalan pelan menjauh sebelum berlari cukup kencang semakin ke dalam. Persetan mereka tahu aku disini. Yang lebih penting, saat ini aku harus menyelamatkan diri.
Seiring dengan langkah kakiku yang menginjak dedaunan kering, aku juga mendengar langkah yang berlari ke arahku. Sesuai dugaan, mereka mengejarku.
"Akh!"
Krak! Sreeettttt.......
Karena minim cahaya, aku bahkan tak sadar kalau menginjak sesuatu yang membuatku terjungkal sebelum akhirnya tergelincir menuruni tepi sungai.
Di tengah napas yang tersenggal, aku sedikit mendesis kesakitan. Entahlah, sepertinya punggungku tergores sesuatu kala jatuh merosot tadi.
"Cari! Cari! Jangan sampai hilang! Korban yang tadi bahkan belum ketemu. Kalau sampai mereka berdua lolos, bisa habis kita!"
Masih dengan posisi berbaring, aku mendongak kala mendengar suara dari atas sana. Yang membuatku terkejut bukan karena mereka mengetahui posisiku, namun karena aku mengenal dengan pasti suara itu.
Aku bangkit dari posisiku, masih dengan meringis kesakitan, aku mulai berjalan terseok untuk menjauh. Ah, sial! Sepertinya kakiku terluka saat jatuh atau mungkin menginjak sesuatu tadi. Tapi ini bukan saatnya aku berhenti karena di belakang sana bahaya sedang mengancam.
"Aaaaaa!!! Mmm!!!"
Aku berusaha meronta kala lenganku di tarik dari belakang. Pun dengan mulutku yang kini tertutup tangan orang itu. Tak ada yang terlintas di pikiranku selain mungkin ini akhir bagiku. Jantungku berdebar kencang dan di tengah ketegangan itu aku baru ingat kalau tadi sempat menyelipkan pisau lipat milik Papa. Dengan tangan gemetar, aku mengambil pisau yang kuselipkan di ban pinggang celana sebelum menghunuskan ke seseorang di belakangku.
"Arrggghhh!!"
__ADS_1
"Al?!"
👻👻👻👻👻