Obsesi

Obsesi
Mayat di Sekolah


__ADS_3

Entah kenapa, di saat jarum jam masih menunjuk pada angka setengah enam pagi, aku sudah rapi dengan seragam yang kukenakan. Tak lupa tas sekolah sudah aku tenteng di tangan begitu aku memasuki area dapur.


"Tumben udah rapi, sayang?" tanya Mama heran.


Sama. Sebenarnya aku juga heran dengan diriku sendiri. Ini benar-benar bukan seperti aku yang biasanya.


"Sarapan dulu," kata Mama sembari mengangsurkan sepiring nasi goreng di hadapanku.


"Makasih, Ma. Mama gak sarapan juga?" tanyaku ketika hanya melihat seporsi nasi goreng. Biasanya, Mama akan membuat dua porsi makanan saat pagi untuk kita sarapan bersama.


"Mama bentar lagi mau keluar. Kalau udah makan duluan, nanti di sana jadi gak makan," jawabnya.


"Memangnya Mama mau kemana habis ini?"


Mama melepas apronnya, "Mama ada acara sama ibu-ibu persit di asrama."


Aku hanya mengangguk mengiyakan sebelum mulai menyendok nasi di piringku.


Biasa lah, ibu persit memang memiliki banyak acara bersama. Terkadang mereka akan berkumpul untuk membahas sesuatu atau sekedar untuk acara rutin yang biasa mereka lakukan. Dan menurutku itu cukup melelahkan. Karena itu aku sangat berharap semoga jodohku kelak bukan salah satu anggota abdi negara. Yah, aku cukup malas dengan acara-acara seperti itu.


"Ma, aku berangkat, ya!" kataku sambil sedikit berteriak. Kalau kalian bertanya kenapa aku tidak pamitan dengan sopan, jawabannya adalah karena Mama sedang berada di kamar mandi.


Begitu kau keluar dari rumah, sinar matahari belum terlalu tinggi untuk menyinari sebagian halaman. Maklum lah, ini bahkan belum pukul enam pagi. Udara masih cukup dingin. Pun dengan bapak penjual sayur terlihat masih baru saja datang. Biasanya, saat aku berangkat sekolah, bapak penjual sayur itu bahkan sudah pergi.


Naik angkot mungkin bukan alternatif yang bagus untuk berangkat ke sekolah mengingat hari yang masih terlalu pagi. Aku tidak ingin mengambil risiko berlama-lama di dalam angkot yang sedang mencari penumpang. Maka dari itu aku lebih memilih membuka aplikasi ojek online dan memesan saat ini juga. Sembari menunggu ojek yang aku pesan datang, aku menghampiri bapak penjual sayur dan membeli tiga buah roti goreng yang masing-masing hanya seharga seribu perak.

__ADS_1


"Mau berangkat Kinara?" tanya seorang ibu yang saat itu sedang belanja sayur. Ibu ini tetanggaku, rumah beliau berjarak dua rumah dari samping kanan rumahku.


"Iya, bu."


"Tumben pagi sekali?"


"Iya. Dapat tugas piket harian," alasanku.


Tuh kan, apa aku bilang, berangkat sepagi ini memang bukan seorang Kinara Malik Khan banget! Tetanggaku bahkan sampai heran.


"Dengan Mbak Kinara?"


Aku menoleh begitu seorang bapak berjaket hijau khas ojek online berujar. Aku buru-buru mendekati si bapak driver dan menerima helm yang beliau angsurkan. Begitu helm terpasang di kepala dengan benar, aku naik ke boncengan motor. Tak lupa kaca helm tidak aku tutup untuk aku bisa memakan roti yang baru saja aku beli.


👻👻👻👻👻


Aku menoleh begitu mendengar suara sirene mobil polisi yang meraung begitu keras. Satpam sekolah berlari dari balik gedung yang pernah aku datangi saat mengikuti Ilham. Satpam berdiri tepat di samping mobil polisi yang ternyata berhenti di depan gerbang sekolahku. Dua orang berseragam polisi keluar dari dalam mobil sebelum berjalan tergesa mengikuti langkah satpam sekolah.


Mengikuti rasa penasaran, aku juga ikut berjalan tergesa ke balik gedung. Begitu melihat bagian depan gudang yang ada di balik gedung dan dua orang siswa juga salah satu polisi yang tadi aku lihat, mataku terbelalak terlebih lagi saat melihat seorang perempuan paruh baya terkapar tak bernyawa dengan leher menganga. Darah di bawah perempuan itu menggenang.


Aku mendekati tempat mayat si wanita dan lebih terkejut saat mengetahui kalau wanita itu adalah salah satu penjaga kantin sekolah. Belum berhenti di situ, aku kembali terkejut saat satpam sekolah keluar dari dalam gudang dan aku sedikit bisa melihat apa yang ada di dalamnya.


Di dalam gudang, satu orang lagi terkapar dengan cairan yang terlihat berkilau saat terkena cahaya dari luar. Dengan langkah ragu, kakiku mulai melangkah mendekati gudang. Dalam batin aku terus berdoa semoga apa yang aku mimpikan semalam tidak menjadi kenyataan.


Aku langsung terduduk lemas kala melihat si korban dari dekat. Tanpa sadar, air mata mulai menetes dari kelopak mataku. Pada saat ini aku merasa sangat tidak berguna.

__ADS_1


"Kinara, ayo bangun! Kamu keluar dulu, ya!" seorang pria berseragam guru sekolah mendekatiku. Aku tak tahu siapa pasti beliau karena pandanganku buram oleh air mata.


"Itu..... bukan Anjar, kan Pak?" tanyaku pelan.


"Ayo. Bapak bantu!" guru itu membantuku berdiri dan hendak menuntunku untuk keluar dari dalam gudang. Namun, aku kekeh ingin melihat si mayat dari dekat. Begitu berhasil mengenali mayat yang ada di dalam gudang, air mataku mengalir lebih deras. Mimpiku menjadi nyata. Atau mungkin apa yang aku mimpikan semalam adalah kenyataan?


Aku menunduk sambil memejamkan mata kala melihat sosok Anjar dengan rantai di sekeliling tubuhnya menatapku. Aku benar-benar merasa bersalah. Dalam hati aku berkali-kali mengucapkan kata maaf.


Maaf, aku terlambat.


Selain sosok Anjar, aku juga melihat sosok Ilham yang juga memandangku dengan tatapan datar. Dia seakan-akan menghakimiku meski hanya dari tatapan saja.


Ya, aku tahu. Aku bersalah dalam hal ini. Tapi hantu berkepala bolong itu seharusnya juga sadar diri kalau semua ini tidak sepenuhnya salahku. Kalau saja dia mau memberitahu secara langsung siapa pembunuhnya--ah tidak. Kalau saja Ilham memberi tahu orang seperti apa yang akan dijadikan korban, kejadian saat ini tidak mungkin terjadi.


Ah, nasi sudah menjadi bubur. Kejadian ini sudah menjadi kenyataan dan nyawa Anjar tidak akan bisa kembali lagi ke raganya. Meski merasa tidak berguna dan sangat menyesal atas kejadian ini, aku tidak boleh berhenti di sini. Aku masih harus memecahkan misteri dan menghentikan teror ini. Ya, aku harus.


Aku sekali lagi memandang sosok Anjar yang ada di pojok ruangan. Ia hanya diam sambil sesekali menahan kesakitan akibat rantai menyala di tubuhnya.


Menghembuskan napas perlahan, aku menatap mata Anjar dengan tatapan tegas.


"Aku janji akan melepaskan rantai itu dari tubuh kamu dan mengakhiri semua ini."


"Ini bukan salah kamu. Ini mungkin memang sudah menjadi takdirku. Jadi, jangan pernah merasa bersalah. Ya?"


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2