Obsesi

Obsesi
Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang, aku akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit ini. Untung saja ini masuk jam besuk, jadi aku bisa bebas masuk tanpa ditanyai atau pun harus menunjukkan kartu keluarga pasien.


Begitu masuk ke dalam rumah sakit, aku mengernyit kala bau menyengat menusuk hidungku. Tidak, buka bau obat-obatan atau antiseptik dan semacamnya, melainkan bau anyir darah. Hah! Aku juga benar-benar tidak suka suasana di sini.


"Permisi! Permisi!"


Teriakan di belakangku membuat aku sedikit menepi. Bunyi roda brankar dan kaki yang berlari memasuki indra pendengaranku. Begitu brankar itu melewatiku, kulihat seorang pemuda terbujur dengan banyak darah di kepala. Beberapa perawat yang ada di sekitar lorong langsung mendekat sebelum ikut mendorong brankar.


Begitu brankar tadi hilang dari radar, beberapa orang mulai sibuk membicarakannya. Entah membicarakan hal yang terjadi pada pemuda tadi sebelum datang ke rumah sakit atau pun memperkirakan nasib si pemuda ke depannya.


"Kamu bisa lihat aku?"


Aku mengalihkan pandangan, berusaha tidak melihat sosok yang baru saja bertanya. Seorang pemuda bermuka pucat juga darah yang hampir menutupi kepala dan sebagian wajah mendekat padaku. Kalau aku tidak salah lihat, pemuda ini adalah pemuda yang sama dengan pasien yang baru saja datang.


"Kamu bisa lihat aku, kan?"


Aku berusaha tetap santai saat pemuda itu bergerak semakin mendekat. Aku menghembuskan napas kasar saat wajah penuh darah itu hanya berjarak 5 cm dari wajahku. Fiuh! Gak bisa apa ya makhluk semacam ini tidak mengganggu satu hari saja?


"Ah, benar! Kamu bisa melihatku."


"Ya terus kenapa? Kamu mau minta tolong aku? Aku gak bisa," kataku ketus. Untuk sesaat, aku lupa kalau sedang ada di tempat umum. Alhasil, beberapa orang melihatku dengan tatapan aneh. Aku merutuki kebodohan yang satu ini. Segera, aku mengambil ponsel dan menempelkannya di telinga seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang di telepon, "aku enggak bisa bantuin kamu. Aku hanya bisa lihat saja tanpa bisa berbuat apa-apa selain doa. Untuk saat ini kamu hanya bisa sabar dan mengikuti arus takdir kamu," lanjutku pelan sembari berlalu meninggalkan pemuda ini.


Meski aku tidak dalam kondisi di antara hidup dan mati, aku bisa merasakan apa yang dirasakan pemuda itu. Dia bukan satu-satunya orang bernasib naas di dunia ini. Dia mungkin masih ada kemungkinan untuk kembali ke raganya. Tapi aku tahu, banyak orang seperti dia yang bahkan sudah tidak bisa melihat raganya. Mereka hanya bisa pasrah dengan takdir mereka.


Terkadang rasanya sesak saat melihat mahluk yang seperti itu. Aku tahu jiwa mereka merana. Mereka juga tak ingin bernasib seperti itu. Namun mereka bisa apa kala takdir Tuhan adalah sebuah ketentuan yang mutlak dan tak bisa diganggu gugat?


Aku berjalan di sepanjang koridor rumah sakit tanpa tahu sebenarnya arah mana yang harus aku tuju. Aku hanya mengandalkan kaki yang berjalan sesuai keinginannya. Lagi pula, aku tak sempat melihat Intan pergi ke arah mana.


"Kinara?"


Aku menoleh kala seseorang memanggil namaku. Kulihat Intan keluar dari ruangan yang baru saja aku lewati. Aku menoleh sebentar pada nama yang tertempel di pintu ruangan. Spesialis Onkologi.

__ADS_1


Sebentar, biar aku ingat-ingat dulu. Bukankan itu spesialis yang menangani penyakit kanker? Hah, untuk apa Intan di sini?


"Kinara?"


Aku terkesiap begitu Intan memanggil untuk yang kedua kali, "Eh? Lho, Intan? Kamu ngapain di sini?"


Intan tertawa kecil melihat responku yang gelagapan, "Harusnya aku lah yang nanya, kamu ngapain di sini? Masih pakai seragam sekolah lagi?"


"Eh? Oh, anu---jenguk saudara," elakku.


Intan hanya mengangguk kecil.


"Kamu nganter orang sakit?" tanyaku sambil mengintip dari balik pintu yang setengah terbuka itu.


Intan menggeleng. Ia kemudian bergerak untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan. Entah dorongan dari mana, aku bergerak duduk di samping Intan.


"Lha terus ngapain kamu di sini?" tanyaku. Seriusan, aku benar-benar penasaran alasan Intan berada di sini. Setahuku, Intan tadi pergi bersama seorang, lalu kalau Intan tidak mengantar orang itu apa mungkin--


"Kamu mau kuliah ambil kedokteran? Masih lama, lah! Kan, baru juga kelas sebelas," kataku heran.


Intan tertawa kecil seperti dipaksakan, "Bukan itu. Aku sakit," Intan menarik napas dalam sebelum menghembuskannya, "kanker..... dan udah stadium banyak."


Aku membelalakkan mata. Hah! Intan ini kalau bercanda ekstrem juga, ya? Yakali aku bakalan percaya omongan dia. Lha lihat wajah serta tubuhnya aja benar-benar kayak orang normal.


"Bercanda kamu ekstrem. Jangan gitu, omongan bisa jadi doa, lho!" kataku mengingatkan.


"Aku gak bercanda. Aku emang sakit, kanker otak...... stadium tiga."


Deg!


Kenyataan macam apa lagi ini?

__ADS_1


"Kamu..... gak bercanda?" tanyaku memastikan.


Intan terdiam cukup lama. Pandangan matanya lurus ke depan. Dan lewat tatapan itu, aku tahu dengan pasti jawaban dari pertanyaanku barusan.


"Sayang udah, ayo pulang!"


Ucapan seseorang barusan membuat aku dan Intan serempak menoleh ke arah pintu. Seorang pria paruh baya keluar dari sana.


Intan berdiri dan langsung merangkul lengan si pria paruh baya, "Aku duluan ya, Kinara," kata Intan. Aku mengangguk sekali pada si pria paruh baya ketika tatapan kami bertemu.


Aku masih duduk di depan ruang spesialis onkologi saat Intan dan pria paruh baya--yang aku tebak ayahnya--menghilang dari pandangan.


Sungguh, aku hampir tak percaya kalau di balik senyum centil pada Al itu ada sedih yang disembunyikan. Aku juga tak percaya kalau di balik wajah cantik itu ada pucat yang sewaktu-waktu akan datang.


Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana selama ini Intan hidup dalam kepalsuan. Dia..... menderita. Dan di balik penderitaannya itu aku bahkan masih menambah dengan opini yang tak masuk akal.


Aku benar bukan? Aku sudah mencurigai Intan sebagai dalang di balik teror sekolah. Bagaimana bisa---ah, bodohnya aku!


Lalu, sinar merah apa yang mengelilingi Intan itu?


Tidak! Bukan Intan pelakunya, aku yakin. Pasti ada orang lain. Tapi, siapa orang itu? Aku rasanya ingin membenturkan kepala ke dinding dengan keras.


Aku membuang-buang waktu engan menguntit Intan sampai sejauh ini. Namun hasil yang aku dapatkan--ah, sialan! Bukan, bukan aku tak bersimpati dengan keadaan Intan, hanya saja mungkin orang itu--dalang di balik teror--sedang melakukan aksi kejinya dan aku malah terjebak dalam dugaan ngawur yang aku buat sendiri.


Aku mengusap wajah dengan telapak tangan.


Huft!


Semoga saja orang itu belum melakukan aksinya atau aku akan sangat merasa bersalah bila ada korban lainnya.


👻👻👻👻👻

__ADS_1


__ADS_2