Obsesi

Obsesi
Bagas dan Masalahnya 1


__ADS_3

Bagas


 


Saat itu tahun pelajaran baru, baru saja dimulai. Dengan memakai seragam putih abu-abu dan beberapa atribut nyleneh, aku memasuki gerbang yang akan mengantarkanku pada kisah masa SMA.


Jam masuk pun berbunyi. Kami--para siswa baru--berkumpul dengan kelompok masing-masing. Kami mulai menyanyikan yel-yel dari masing-masing kelompok.


Aku yang kala itu memang benar-benar pemalu hanya menyanyi dengan suara kecil. Tak disangka kelakuanku itu mendapat perhatian penuh dari salah satu panitia OSIS. Dengan lantang si panitia itu berteriak keras, "Yang keras dong, dek! Masa laki-laki suaranya kalem begitu?!"


Dalam sekejap hampir semua pasang mata tertuju ke arahku. Aku benar-benar malu. Aku merasa dipermalukan entah karena apa. Dan benar saja, hingga jam sekolah usai, pandangan beberapa siswa baru terasa seperti merendahkan. Memangnya apa yang salah dengan suaraku? Atau dengan penampilanku? Ya, aku tahu, bisa dikatakan aku memang cupu--itu yang dibilang teman SMP-ku dulu--dengan kacamata yang selalu aku kenakan. Tapi, hey!!! Siapa sih yang mau pakai kacamata terus kalau tidak terpaksa?


"Hai!" aku menoleh ke samping, pada seseorang yang baru saja menepuk pundakku, "kita sekelompok lho tadi. Aku Kinara. Kamu siapa?" tanyanya.


Gadis di sampingku ini tersenyum. Untuk sesaat aku terpaku pada kecantikan wajahnya. Dia sangat cantik. Ah, sial! Kenapa aku tiba-tiba jadi grogi gini, sih?


"Hey!!" gadis itu melambaikan tangan di depan mukaku, "nama kamu siapa?"


"Eh? Oh, Bagas. Nama aku Bagas." kataku cepat.


"Oh..... salam kenal, ya." dia tersenyum lagi sebelum menoleh kala namanya dipanggil. Kulihat dia memberi tanda jempol pada orang yang baru saja memanggilnya, "aku harus pulang. Oh, iya..... soal tadi kamu jangan dimasukin hati, ya! Kakak OSIS emang suka begitu," katanya dengan berbisik.


Belum sempat aku membalas perkataannya, gadis itu sudah berlalu pergi, menghampiri seorang pemuda yang menggunakan atribut nyeleneh sepertiku. Begitu mereka berlalu dari hadapanku, tak terasa sudut bibirku tertarik ke atas.


👻👻👻👻👻


Namanya Kinara. Anak dari jurusan IPA. Entahlah, kejadian itu sudah satu tahun berlalu, tapi aku bahkan masih dapat mengingatnya dengan jelas. Senyumnya juga caranya saat mengajak aku berkenalan terlebih dahulu. Dia cantik, sangat. Aku akui itu. Dia juga mudah akrab dengan orang. Mungkin karena itu aku lihat banyak laki-laki berusaha mendekatinya. Terlebih lagi sosok sahabat yang kemana-mana selalu bersamanya. Dan aku sangat tidak menyukai itu. Ingin aku menyapanya terlebih dahulu, tapi aku ini apa, hanya cowok cupu yang sulit berinteraksi. Aku bahkan berani bertaruh kalau dari sekian ratus murid di sekolah ini, tidak lebih dari sepuluh persen yang tahu keberadaanku. Aku bahkan sangsi kalau Kinara masih mengingatku.

__ADS_1


Seperti biasa, setiap pulang sekolah aku selalu berjalan sendiri. Tak pernah ada seorang teman pun yang mau berjalan berdampingan denganku.


Siang itu saat berjalan di trotoar, tak sengaja aku menabrak kakek-kakek, sosoknya kurus dengan kulit keriput di sana-sini. Jelas sangat berbeda dengan aku yang masih muda. Namun yang aneh, kakek itu sangat kuat. Dia bahkan tak tumbang, malahan aku yang tersungkur atas insiden ini.


Saat aku berhasil berdiri, kakek itu menatapku tanpa ekspresi. Ia kemudian berkata, "Umurmu gak akan panjang!"


Aku hanya menatapnya dengan kening berkerut. Untung orang tua, kalau masih muda bakalan aku balas omongannya. Hah, tanpa mempedulikannya, aku berlalu melanjutkan langkah kaki.


Tiiinnn!!


Baru juga beberapa meter melangkah, sebuah sepeda motor menerjang ke arahku. Untung saja saat itu reflek yang aku miliki sedang bagus, jadi aku dapat menghindar dengan cepat menyisakan motor itu yang menerobos semak.


"Maaf-maaf! Kamu gak pa-pa? Rem motor saya tiba-tiba blong!" kata si pengendara saat berhasil bangun dari posisinya.


"Iya Pak, gak pa-pa. Lain kali benar-benar diperiksa kondisi motornya sebelum di pakai," kataku sembari membantu si pengendara mengangkat motornya.


Hah! Apalagi ini?


Bukan hanya itu saja, saat beberapa rumah lagi adalah rumahku, seorang tetangga yang di depan rumahnya memiliki pohon mangga menjatuhkan salah satu dahan besar yang hampir menimpaku.


"Kamu gak pa-pa, Gas! Tadi paman kira gak ada orang," kata tetanggaku yang masih berada di atas pohon lengkap dengan gergaji kayu.


"Gak pa-pa, paman. Untung gak kena. Lain kali lebih hati-hati, paman!"


"Iya-iya.... maaf, ya!"


Fuih! Sebenarnya ada apa dengan hari ini?

__ADS_1


"Makan dulu, Gas!" kata ibuku saat aku memasuki rumah.


"Iya, bu!"


Begitu masuk ke dalam kamar dan mengganti seragam dengan kaos rumahan, aku mulai merenungkan kejadian yang tadi menimpaku. Bagaimana mungkin dalam sehari dan di waktu yang berdekatan tadi aku hampir celaka. Semesta seakan ingin bermain-main dengan diriku.


Hah! Apa ini hari sialku? Aku bahkan tidak pernah percaya dengan kata 'sial'. Tapi setelah melalui kejadian tadi, sepertinya aku mulai percaya.


Deg!


Kakek tadi!


Aku ingat ucapan kakek tadi. Kakek itu berkata seolah-olah tahu apa yang akan terjadi padaku. Mungkinkah perkataannya benar? Memangnya dia apa? Cenayang? Aku bahkan tidak percaya ada orang seperti itu! Argghh!


Aku berbaring terlentang di atas kasur. Karena penasaran aku mengambil ponsel dan menuliskan beberapa kata di kolom pencarian. Tak lama beberapa artikel bermunculan. Dari yang paling logis hingga yang tak masuk akal namun sedikit mengusik pikiranku. Tanpa pikir panjang aku membuka artikel yang mengusik pikiranku itu.


Makam Misterius. Diduga Sering Berpindah Posisi!


Menurut artikel, makam ini terletak tak jauh dari sini. Namun sedikit orang yang tahu karena posisinya di daerah terpencil. Di situ disebutkan kalau makam ini dapat mengabulkan permintaan. Mulai dari kekayaan, jabatan hingga umur panjang.


Hah? Apa itu mungkin? Aku lalu beralih pada beberapa komentar yang ditinggalkan orang-orang.


A****


Makam ini benar-benar mengabulkan permintaan! Sebelum datang kesana, hidup saya perasaan sial mulu. Setelah kesana saya bahkan gak pernah lagi tuh mengalami kesialan dalam bentuk apapun. Malahan hidup saya kini makmur dan bergelimang harta.


Batinku benar-benar terusik kala membaca salah satu komentar. Apa iya? Apa mungkin kalau aku kesana aku juga dapat menghindari kesialan ini?

__ADS_1


👻👻👻👻👻


__ADS_2