
Dunia mahluk gaib berguncang. Terjadi kehebohan di sana. Para mahluk dengan berbagai macam rupa meraung dan menggeram marah. Mata mereka melotot merah.
Aku berjalan perlahan, melewati tatapan mengerikan dari mereka semua. Di depan sana, ada sebuah kerumunan yang mengelilingi sinar merah gelap. Entah sinar apa itu, tapi sinar itu terlihat berbeda dengan sinar yang mengelilingi tubuh Intan selama ini. Sinar yang aku lihat saat ini terlihat lebih kelam dan menakutkan dalam satu waktu.
Kurang dari satu meter aku mencapai kerumunan, sesuatu yang basah menyentuh kaki telanjangku. Aku menunduk untuk melihat kakiku, lalu aku berjongkok dengan telunjuk terulur untuk menyentuh cairan berwarna merah di kakiku. Bau anyir langsung memenuhi indra penciuman kala aku mendekatkan jari telunjuk ke arah hidung. Dan tanpa bertanya pun aku langsung tahu kalau itu adalah darah.
Aku mengusapkan telunjuk ke kaos hitam yang kukenakan untuk membersihkan noda itu. Masih dengan tatapan bertanya-tanya, aku bangkit berdiri dan hendak bertanya pada salah satu dari mereka, namun urung kala melihat kerumunan di depanku tersibak menjadi dua bagian seolah-olah memberi aku jalan masuk. Meski ragu, kakiku perlahan melangkah berjalan di antara mahluk-mahluk itu. Satu baris kerumunan terakhir tersibak begitu aku mendekat dan aku langsung tahu dari mana darah tadi berasal.
Di depanku, sosok pemuda berseragam SMA berjongkok membelakangiku. Begitu dia berbalik, aku langsung membekap mulut dengan kedua telapak tangan. Pemandangan yang aku lihat saat ini benar-benar membuat aku ingin meneteskan air mata. Bagaimana tidak, di hadapanku saat ini ada empat orang yang cukup familiar. Mereka berempat adalah murid di sekolahku. Mereka terlihat sangat kesakitan. Sesekali, erangan tertahan lolos dari mulut keempatnya. Dia adalah kak Riki, Aldo, Aril dan...... Anjar?
Apa maksudnya ini? Tiga orang yang terbaring di sana adalah siswa yang sudah mati. Lalu Anjar? Apa mungkin? Ah, tidak! Itu benar-benar tidak mungkin. Sepertinya baru tadi siang aku berbicara dengan Anjar. Lalu?
"Ya, Indigo! Dia korban selanjutnya," Ilham berujar. Ya, sosok pemuda yang berjongkok membelakangiku tadi adalah Ilham.
"Kalau begitu aku harus menyelamatkannya!" ujarku tegas.
"Kamu telat. Lihatlah itu!" Ilham menunjuk pada tubuh Anjar, "bukankah dia tampak sama dengan tiga lainnya?"
Aku menatap pada tubuh Anjar lekat. Benar, mereka semua sama. Ada rantai yang perlahan muncul mengelilingi tubuh Anjar. Sama seperti ketiga korban lainnya, rantai milik Anjar terlihat membara dan mencengkram tubuh Anjar kuat.
__ADS_1
Aku perlahan mendekat pada sosok Anjar. Ragu-ragu tanganku terulur untuk membuka kaos bagian perut yang ia kenakan. Bukan, bukan itu maksudku! Kalian parah kalau bilang aku mesum. Mana bisa dalam kondisi dan suasana seperti ini aku masih menganggap itu adalah sebuah kesempatan! Asal kalian tahu, kak Riki, Aldo dan Aril, mereka bertiga bertelanjang dada dengan bagian perut terbuka lebar dan tanpa organ. Aku hanya ingin memastikan apakah Anjar bernasib serupa dengan korban lainnya.
Aku terjengkang hingga terduduk di atas tanah begitu melihat apa yang ada di balik kaos yang dikenakan Anjar. Sesuai dugaan, mereka berempat sama.
Deg!
Aku buru-buru meraih telapak tangan Anjar saat ingat satu hal lagi yang menjadi ciri teror di sekolah. Salah satu jari tangan putus, dan ternyata sama. Arrrggghhh!!! Aku kecolongan lagi. Sebenarnya kenapa mereka dikorbankan? Apa alasannya?
"Kamu sudah tahu, kan Indigo, kenapa mereka semua... mati?" Ilham menatapku dengan pandangan lurus dan datar.
Apa? Apa alasan mereka mati? Mereka mengusik seseorang, kah? Atau mereka berbuat salah dan melanggar hukum alam? Aku benar-benar tidak tahu. Sudah sejak korban pertama ditemukan dan aku masih belum mendapat jawabannya.
Aku balik menatap Ilham dengan pandangan sendu, "Apa? Apa alasannya? Kamu bahkan tidak memberitahu aku alasannya!"
Aku menunduk, menghapus setitik air mata yang jatuh, "Kamu tidak minta bantuanku. Kamu memaksaku. Kamu memanfaatkan aku untuk memecahkan misteri ini. Memanfaatkanku untuk menghentikan teror ini," kataku lemah.
"Karena hanya kamu yang bisa---"
"Ya! Karena hanya aku, garis bawahi itu. Hanya aku yang berusaha di sini. Kamu hanya bisa marah tanpa tahu apa yang sudah aku usahakan. Kamu hanya menganggap aku bermain-main, kan? Aku tahu itu. Tapi coba pikirkan lagi, apa yang sudah kamu lakukan selain menggangguku?"
__ADS_1
Beberapa mahluk menggeram semakin keras. Mata mereka terlihat memerah. Mungkin karena mereka geram terhadapku yang terlihat berani pada pimpinan mereka? Entahlah, aku tidak peduli.
"Ingat kata-kataku. Meski tanpa bantuanmu atau semua mahluk yang ada di sini, aku janji akan satu hal. Cepat atau lambat.... aku pasti akan memutus rantai teror ini!"
👻👻👻👻👻
Mataku terbuka lebar. Aku mengecek jam yang ada di dinding, masih pukul dia dini hari. Aku menarik napas dalam-dalam, mimpi barusan terasa begitu nyata. Dalam mimpi, aku melihat Anjar terbaring kesakitan bersama tiga korban lainnya.
Ah, mengingat mimpi barusan, aku jadi teringat akan Anjar yang aku temui di sekolah tadi siang. Bukankah tadi dia meminta nomor ponselku? Mengapa hingga saat ini dia tidak ada menghubungiku satu kali pun? Benar. Seharusnya dia sudah menghubungi atau setidaknya mengirim pesan padaku begitu aku menyebut digit nomor ponsel? Apa jangan-jangan? Ah, tidak, tidak! Aku tidak boleh langsung berasumsi hanya karena mimpi yang aku alami barusan. Tapi, mimpi itu benar-benar nyata. Bagaimana kalau apa yang aku lihat dalam mimpi barusan benar-benar nyata?
Aku memeriksa ponselku sekali lagi. Membuka aplikasi chatting sejuta umat berwarna hijau, memastikan apakah ada chat masuk dari nomor asing atau tidak. Namun nihil. Hanya puluhan chat dari grup juga satu pesan dari Al--yang tanpa aku buka pun aku sudah tahu kalau Al menanyakan kemana aku pergi siang ini.
Tak ingin menyerah, aku beralih pada aplikasi instagram yang sebenarnya jarang sekali aku buka. Aku mulai mengetik nama Anjar di kolom pencarian. Beberapa saat kemudian beberapa akun dengan nama Anjar muncul. Aku membuka satu persatu akun untuk melihat akun mana yang benar-benar milik Anjar. Begitu menemukan sebuah akun dengan banyak unggahan foto selfi yang mana adalah foto Anjar, aku buru-buru beralih ke menu kirim pesan. Pemberitahuan di bawah nama akun Anjar tertulis terakhir dilihat pada lima belas jam lalu. Itu berarti beberapa jam sebelum Anjar meminta nomor ponselku. Tak ingin berpikir macam-macam terlebih dahulu, tanpa ragu aku mengetik beberapa kata dalam ruang obrolan.
kinara_khan
Anjar.
Ini Kinara,
__ADS_1
Kamu... baik-baik aja, kan?
👻👻👻👻👻