
Sudah dua minggu sejak kematian Intan, dan anehnya pembunuhan di sekolah yang terjadi hampir setiap minggu juga sudah berhenti sejak itu. Sekolah kembali tenang. Baik murid maupun guru kini tak lagi ketakutan kala akan berangkat sekolah. Kami bahkan hampir melupakan kalau dua minggu lalu kami masih dihantui rasa was-was akan korban selanjutnya. Nyatanya, itu tak terbukti. Entah si pembunuh benar-benar telah berhenti mencari korban atau malah menunggu kelengahan warga sekolah.
Karena sekolah kembali tenang, banyak opini-opini naik ke permukaan. Salah satu yang paling santer terdengar di sepanjang koridor tadi adalah dugaan mengenai Intanlah pembunuh yang sebenarnya. Dugaan mereka berdasar pada tidak adanya korban lagi sejak kematian Intan.
Aku tersenyum miring kala masuk ke kelas dan mendengar topik pembicaraan yang sama. Asal kalian tahu saja, kematian korban keempat, aku bahkan tahu Intan ada di mana dan dengan siapa. Dia.... bukan pembunuhnya.
Ah, ya! Membicarakan soal Intan, aku baru ingat kalau tas sekolah Intan waktu itu masih ada padaku. Sepertinya, aku harus segera mengembalikannya.
"Kamu percaya gak, Kin, kalau Intan yang sudah bunuh para cowok itu?" tanya Sinta begitu aku duduk di sampingnya.
"Itu cuma rumor, kan? Masih belum ada buktinya," jawabku.
"Tapi, hampir semua orang di sekolah ini sudah mempercayai hal itu. Kalau benar dia pelakunya, aku gak nyangka banget, sih!" lanjutnya. Sedangkan aku hanya menyimak tanpa minat, "gak asik kamu, Kin!"
Sedahsyat itu memang kekuatan lidah kalau sudah berbicara. Hal yang belum pasti saja sudah bisa sangat diyakini. Asalkan ada lebih dari dua orang yang membicarakan, seakan-akan apa yang mereka bicarakan itu memeng sebuah kenyataan. Enggak heran sih, sekarang kita hidup pada zaman di mana membicarakan seseorang adalah suatu vitamin yang sangat diperlukan.
Ah, seandainya mereka tahu apa yang aku lihat dan aku rasakan, tidak mungkin mereka akan berkata seperti itu.
👻👻👻👻👻
Aku menatap lama pada tas yang sudah dua minggu menghuni meja belajarku. Menimbang-nimbang apakah keputusanku untuk mengembalikannya hari ini adalah keputusan yang tepat. Setelah beberapa lama bergelut dengan pikiran, akhirnya aku membawanya keluar dari kamar. Sudah waktunya tas ini kembali pada yang berhak.
"Mau kemana, sayang?" tanya Mama ketika aku menghampirinya di depan rumah. Mama sedang mengobrol dengan tetangga samping kiri rumah kami.
"Ini, mau balikin tas. Aku berangkat ya, Ma."
Tangan Mama terulur di depanku. Belum sempat aku menyambutnya, suara tetangga sebelah membuat aku urung untuk menyalami Mama.
"Kinar! Katanya yang bunuh murid cowok di sekolahmu itu adalah anak perempuan yang minggu lalu meninggal itu, ya? Benar gak sih itu kabarnya?"
__ADS_1
"Lho? Apa iya, Mbak?" tanya Mama.
Aku tersenyum miring. Tidak di sekolah, tidak di rumah, ternyata sama saja. Mama ini juga kenapa ikut-ikutan?
"Gak tahu juga sih, Mbak. Katanya sih gitu. Makanya ini aku tanya ke Kinar, benar apa enggak! "
Aku menghembuskan napas kasar, "Kinar enggak tahu tante. Lagian itu kan belum tentu benar. Polisi yang sudah menyelidiki pun juga gak bisa memastikan siapa pembunuhnya karena memang kurangnya bukti. Lagian, omongan seseorang itu enggak bisa dijadikan bukti!" ucapku, telak. Dalam keterdiaman tetanggaku itu, aku langsung mencium punggung tangan Mama, "Kinar berangkat, Ma. Assalamualaikum."
Benar-benar memuakkan. Rasanya telingaku sudah akan pecah mendengar gosip-gosip yang berkeliaran. Padahal bukan aku yang mereka bicarakan, tapi aku yang kesal. Mungkin karena aku tahu seperti apa kenyataan yang sesungguhnya.
Aku langsung naik ke boncengan driver ojol begitu beliau menyebut namaku. Aku juga langsung menyebutkan alamat perumahan tempat Intan dulu tinggal begitu beliau menanyakan kemana tujuanku.
Ojek yang kutumpangi berhenti tepat di depan rumah bernomor lima puluh tiga. Tadi, sewaktu di pos satpam, penjaga yang saat itu bertugas langsung mengizinkanku masuk begitu aku menunjukkan tas Intan. Mungkin, mereka familiar dengan tas yang aku peluk saat ini.
"Permisi, assalamu'alaikum!" teriakku. Pintu rumah sedikit terbuka. Sebenarnya gerbang ini juga tak dikunci, hanya saja aku merasa tidak sopan kalau langsung masuk begitu saja.
Suara yang terdengar cukup dekat membuat aku mengalihkan pandangan ke arah taman, tepatnya ke kolam ikan yang ada di sana. Tepat di pinggir kolam, mama Intan terlihat beranjak dari sana sebelum menghampiri gerbang dan membukanya sedikit.
Aku tersenyum sopan kala mama Intan berdiri di hadapanmu, "Saya mau mengembalikan tasnya almarhumah, Tante. Maaf telat. Waktu itu saya mau mengembalikan tapi suasananya lagi gak pas banget," kataku sungkan.
"Kamu yang di rumah sakit itu, kan?" tanya mama Intan sembari menerima tas milik putrinya.
"Ah, iya. Maaf Tante, waktu itu saya langsung pergi," kataku menyesal. Aku kira karena terlalu sedih dengan kepergian anaknya, mama Intan tak menyadari keberadaanku waktu itu. Nyatanya, beliau tahu kalau aku ada di sana.
"Ayo, masuk dulu!" mama Intan membuka gerbang lebih lebar, mempersilahkan aku masuk ke dalam.
"Ah, gak usah, Tante," aku tersenyum sungkan.
"Masa tamu jauh gak disuruh masuk. Ayo, masuk dulu!"
__ADS_1
Dengan sedikit senyum sungkan, aku menuruti ucapan mama Intan. Aku mengebor beliau yang terlebih dahulu berjalan ke arah pintu. Mama Intan cukup ramah. Terbukti dengan setiap senyum kecil kala beliau berbicara. Padahal awalnya aku kira mungkin beliau adalah orang yang sedikit ketus.
Begitu aku duduk di ruang tamu dan mama Intan pamit masuk ke dalam sebentar, aku mulai mengamati seisi ruang tamu, hal yang tak aku lakukan sewaktu takziah waktu itu. Sepertinya benar tentang rumor yang mengatakan kalau Intan adalah anak tunggal. Terbukti dari beberapa potret keluarga yang hanya terisi tiga orang. Papa Intan, mamanya dan Intan sendiri.
"Minum teh gak pa-pa, kan?" mama Intan keluar bersama nampan di tangannya.
Aku langsung berdiri melihat itu, "Saya jadi ngerepotin Tante," kataku.
"Enggak. Ayo, silakan diminum!"
Aku mengangguk kecil, kemudian menyeruput teh yang masih hangat itu.
"Kamu namanya siapa? Tante sampai lupa belum tanya," mama Intan tersenyum sembari menatapku.
"Saya Kinara, Tante."
Mama Intan mengangguk, "Teman sekelasnya Intan, ya?"
Kali ini aku yang mengangguk sebagai jawaban.
"Sampai saat ini, Tante masih gak nyangka kalau Intan pergi secepat itu," aku hanya menyimak kala mama Intan mulai membuka pembicaraan, "padahal dia sebelumnya gak ada sakit apapun."
"Lho? Bukannya Intan kena kanker ya, Tan?" sungguh. Itu adalah pertanyaan reflek karena mendengar perkataan mama Intan barusan. Padahal setahuku Intan terkena penyakit dan sudah sangat parah.
Mama Intan mengangguk, "Iya. Belum ada dua bulan dan sudah separah itu."
Kali ini aku lebih terkejut. Kenyataan apa lagi ini!
👻👻👻👻👻
__ADS_1