Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Bitch


__ADS_3

Happy Reading ....


Allard menarik lengan Yada dan masuk ke dalam sebuah gedung. Lalu dia menghempaskan wanita cantik itu ke atas lantai tepat di hadapan seorang wanita cantik dan modis.


“Apa ini, Allard?” tanya wanita bernama Monica. Seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai Mami di tempat tersebut.


Allard menyalakan satu batang nikotin miliknya. “Kau urus saja dia.”


Monica tersenyum. “Baiklah.”


“She is still a virgin, the price must be balanced,” ucap Allard.


“Amazing!”


Monica langsung bersimpuh di depan Yada, melihat kiri dan kanan wajah mulus Yada dan mengelus pipinya lembut. Monica terpesona.


“Kau sangat cantik, kau akan mendapatkan banyak uang.”


Monica kembali berdiri, menatap Allard dengan senang hati. “Oke, tinggalkan dia di sini, aku akan mengurusnya.”


Yada menatap Allard dengan kesal, karena pria itu malah membawanya ke tempat pelacuran dan berniat menjualnya.


Lihat bagaimana kau mengurus dirimu sendiri, Yada Aurora!


Allard berbalik dan pergi, meninggalkan Yada begitu saja di tempat itu tanpa memperdulikannya sama sekali. Allard kembali ke dalam mobilnya, menerima sebuah panggilan suara dari Darren.


'Aku sudah bertemu dengannya.'


Allard mematikan ponsel, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan pergi ke suatu tempat. Waktunya tidak bisa tertanam untuk mengawasi wanita yang tidak bisa diatur, maka dari itu dia sengaja membawa Yada ke tempat pelacuran dan seolah-olah ingin menjualnya. Agar Yada tahu, mansion miliknya atau tempat pelacuran itu yang lebih baik untuk ditinggali.


Bastard! Damn it! Umpat Yada dalam hati.


Dia duduk di depan cermin besar, menatap tubuh dan wajahnya yang kini telah didandani secantik mungkin. Tubuh dan wajah cantiknya tidak untuk dinikmati banyak orang, dia tidak bisa menerimanya.


Yada menatap sekitar, sebelumnya dia berpikir mungkin akan lebih mudah untuk lari dari tempat ini. Tapi tidak, beberapa orang bodyguard juga sangat menjaga tempat ini. Dia tidak akan bisa melarikan diri.


Seseorang masuk ke dalam ruangannya, berjalan menghampiri Yada. Monica, wanita itu tersenyum senang melihatnya.


“Kau memiliki acara khusus malam ini, ikutlah bersamaku.”


“Tidak!” tolak Yada.


Monica mendesis. “Sangat keras kepala.”


Dia menjentikan jarinya, kemudian dua orang pria masuk ke dalam ruangan. Monica memerintahkan mereka untuk mengurus Yada, membawanya ke tempat yang telah disediakan.

__ADS_1


“Lepas!” Yada meronta sambil berteriak.


“Percuma saja, kau hanya akan merusak riasan wajahmu,” ucap Monica.


“Lepaskan aku!” Tapi Yada tidak peduli, dia hanya terus meronta dan berteriak sekencang mungkin.


Wanita cantik itu berada di dalam sebuah kurungan, seperti hewan buas yang dijaga ketat. Sebuah panggung dan lampu sorot menyorotinya, beberapa bunyi decak kagum dari para pria di bawah panggung lengkap dengan masker pada wajahnya untuk menutupi identitas mereka.


“She's a virgin! Dua milyar!”


Mata Yada membeliak mendengar harga yang di tawarkan. Allard benar-benar telah menjualnya untuk keuntungan. Yada akan benar-benar hancur kali ini.


Kau ingin mati? Aku akan membantumu untuk itu.


Yada teringat ucapan Allard sebelumnya. Ternyata inilah yang dimaksud dengan 'membantu'. Sebelum kematiannya, Allard malah ingin mengambil keuntungan terlebih dahulu darinya.


“Dua setengah milyar!”


Cincin Ruby yang David berikan bahkan lebih mahal dari harga diriku. Pikir Yada.


“Tiga milyar!”


Yada menatap nanar orang-orang itu, dia ingin keluar dan mencakar mereka semua. Malam ini dirinya telah direndahkan, bahkan Yada tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


'Kau tidak boleh lemah!'


Di dalam pikirannya tiba-tiba terngiang suara seseorang, suara seorang wanita yang sangat asing baginya. Kepalanya mendadak sakit, pandangannya buram dan berkunang-kunang. Wanita cantik itu seketika ambruk di dalam rangka besi yang mengurungnya.


“Enam setengah milyar! Terjual!”


Yada tidak sadarkan diri. Beberapa pria langsung menariknya masuk kembali ke belakang panggung untuk mengeluarkannya dari rangka besi itu. Monica menatap wanita itu dengan wajah malas, kemudian berbalik pergi.


“Sangat tidak menyenangkan.”


Dia kembali ke ruangannya, menyalakan satu batang nikotin lalu menghisapnya. Satu jam yang lalu, Monica menerima telepon dari Allard. Bahwa dia hanya diperbolehkan mempermainkan Yada, Allard tidak ingin Monica benar-benar menjualnya. Allard hanya ingin memberikan pelajaran kepada Yada. Hal itu membuat Monica tidak puas, karena dia sudah membayangkan keuntungan besar yang seharusnya dia dapat jika menjual Yada Aurora.


“Tidak masalah, Monica. Enam setengah milyar sudah ditangan.” Dia tersenyum dengan puas.


 


“Oh ****!”


PLAK!


“Yes baby! Faster ouh ....”

__ADS_1


“Ha ah~”


Seorang wanita sedang menjalankan tugasnya. Malam ini, klien pertamanya adalah seorang tamu VIP. Dia menjalankan pekerjaannya dengan senang hati.


“Extra money for you.” Pria itu memberikan banyak lembar uang kepadanya.


“Thanks, Baby.”


“See you again.” Dia mengecup kening wanita tersebut sebelum pergi.


Wanita cantik dan **** itu kegirangan menatap banyak uang di dalam genggamannya. Dia mencium uang tersebut beberapa kali kemudian memeluknya.


 


Yada membuka kedua matanya dengan terkejut, mendapati dirinya sudah terbaring di atas ranjang dengan gaun malam berwarna merah dan sangat ****. Dia melihat seorang pria duduk di tepi ranjang dan tersenyum ke arahnya.


Dia bangun, beringsut dari atas ranjang dan menjauhi pria tersebut. Pria itu dengan tidak tahu malu mendekati Yada perlahan, namun Yada terus menghindar.


“Aku menyukai ini, wanita cantik yang belum berpengalaman. Lihat bagaimana kau akan menjerit nanti,” ucap pria tersebut vulgar dan memekakan telinga.


“Jangan berani menyentuhku!” bentak Yada.


Pria itu tersenyum senang. “Wanita cantik yang galak.”


Pria itu semakin mendekat. Dia seorang pria muda yang memiliki tubuh atletis, beberapa tato di lengan dan dadanya membuat pria itu terlihat semakin ****. Tapi tidak bagi pandangan Yada. Yada memandangnya dengan sangat menjijikan.


Dia terus mendekat, dan Yada berlari untuk menghindar. Sampai pada pintu ruangan, Yada mencoba membukanya tapi terkunci.


****!


Pria itu sigap memeluk tubuhnya saat Yada tidak focus ke arahnya. Dia mengendus leher jenjangnya, memeluk Yada dengan erat agar wanita itu tidak bisa lepas dari pelukannya.


“Damn! Lepaskan aku, Bastard!”


“Aku tidak tertarik untuk melepaskanmu,” jawab pria itu seraya terus mencium leher Yada.


Dia menghempaskan tubuh Yada ke atas ranjang, membuka bathrobe yang dikenakannya dan hanya menyisakan ****** ***** saja. Yada membuang wajahnya dan berusaha kabur, tapi gerakan tangan pria tersebut lebih cepat mengukung tubuhnya.


Pria itu semakin liar dengan menyentuh setiap bagian wajah cantiknya. Yada menolak saat dia mendak mencium bibirnya. Di bawah sana, Yada mencoba untuk menggerakkan tangannya, membebaskan tangannya dari tubuh pria itu dan kemudian ....


“DAMN!”


Suara pria itu memekik kencang, dia beranjak dari menindih tubuh Yada seraya memegangi lehernya yang sudah berlumuran darah segar.


“JALANG!”

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2