Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Racun


__ADS_3

Happy Reading ....


Yada mengalami sakit parah di sekujur tubuhnya. Rasa menusuk di tulang, sakit di bagian kepala, dan darah yang mengalir di dalam tubuhnya seolah adalah jarum yang menusuk-nusuknya. Sangat menyiksa.


Sementara kaki dan tangannya masih terikat di setiap ujung ranjang. Dia tidak bisa bergerak bebas hanya untuk sekedar berganti posisi tubuhnya agar bisa menahan sedikit rasa sakit itu.


Peluhnya menetes membasahi wajah cantiknya, matanya memerah dengan deru nafas yang tidak karuan. Allard menatap kondisinya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Kau melawannya, dan inilah yang kau dapatkan,” kata Allard.


Allard tahu, meskipun Zinth berjanji tidak akan membunuh Yada, tapi tanpa terkecuali jika wanita itu tidak akan menyiksanya. Sebelumnya, Zinth sengaja menyuntikan sebuah racun pada tubuh Yada yang mana racun itu akan menghilang dalam waktu lima jam saja. Meskipun begitu, Yada harus bisa melewati batas waktu tersebut dengan menahan rasa sakit yang parah.


“Kau harus bisa menahannya.”


Allard ke luar ruangan, pergi berjalan menuju ruang bacanya di mana Zinth sedang menunggunya di sana.


“Aku tidak bisa menunggu lagi,” ucap Zinth kepada Allard yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


“Cepat atau lambat aku harus menghancurkan klan Aurora. Kita telah menunggu selama beberapa tahun.”


“Kita sudah memiliki rencana, dan kita akan melakukan itu secepatnya,” balas Allard.


“Jangan membuatku menunggu lagi.”


Zinth meraih handbag miliknya dan melenggang pergi keluar dari ruang baca, meninggalkan Allard seorang diri dengan isi kepala yang tidak karuan. Wanita itu membuat bebannya semakin banyak saja. Sikap wanita memang tidak bisa diatur dengan mudah.


Kemudian, Allard menghubungi Darren, memerintah ya untuk menyiapkan semua rencana membalas dendam kepada klan Aurora. Zinth tidak bisa menunggu lagi, jika Allard terus mengulur waktu maka rekan kerja samanya itu tidak akan mempercayainya lagi.


***


Lima jam berlalu, rasa sakit Yada berangsur-angsur menghilang. Nafasnya sudah mulai kembali normal, hanya saja sebagian tubuhnya seperti kaki mengalami mati rasa.


Allard masuk ke dalam ruangan, kemudian meletakan sesuatu ke atas meja. Yada melihat benda yang dibawa Allard dengan perasaan senang. Pikirannya mulai tidak waras. Padahal pria itu sedang sedikit demi sedikit membunuhnya dengan barang terlarang itu.

__ADS_1


Tidak peduli, aku membutuhkannya.


Pria itu melepaskan tali ikatan pada tangan dan kaki Yada, dengan lemas tubuh rampingnya jatuh ke atas ranjang.


“Kau wanita yang keras kepala, apa sekarang kau menyerah?” kata Allard, tapi tidak ada respon apapun dari Yada.


Dia memberikan barang terlarang itu kepada Yada, dan disambut dengan baik oleh wanita malang itu.


Allard menatapnya dengan intens. Semakin hari kondisi Yada semakin mengenaskan. Tubuhnya yang mulai mengecil, wajah pucat karena kurang tidur, semua itu terlihat sangat mengerikan.


“Kau tidak bisa berhenti sekarang. Wanita itu memberimu racun yang mematikan. Kau akan mengalami rasa sakit setiap lima jam sekali setiap harinya.”


Yada mendongakan wajahnya, menatap pria itu dengan nanar penuh amarah. “Bunuh saja aku! Kenapa kau harus terus menyiksaku?”


“Bukankah ini menyenangkan? Anggap saja ini sebuah permainan. Kau selalu ingin bermain-main denganku, bukan?”


“Aku lebih baik mati daripada harus meladenimu terus-menerus!” lugas Yada.


“Ternyata kau benar-benar telah menyerah. Apa kau tidak ingin bertemu dengannya?”


“Apa mereka pergi untuk bersenang-senang? Mereka membawa banyak sekali pengawal,” kata Allard. “Mereka benar-benar tidak memperdulikan mu.”


“Seharusnya pengawal-pengawal itu diperintahkan untuk mencari keberadaan mu,” imbuh Allard.


Yada menggenggam ranjang dengan erat setelah mendengar ucapan Allard yang seperti mengiris hatinya. Lihat bagaimana Barrack dan Margareth bertingkah, seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka. Mereka tampak senang dan baik-baik saja. Sementara Yada, dia telah menjadi tawanan dan bahan siksaan dari orang-orang yang memiliki dendam kepada orang tua itu.


“Apa kau Yada Aurora palsu? Di mana yang asli?” tanya Allard, membuat Yada langsung melirik ke arahnya dengan tajam.


Allard menaikan sebelah halisnya. “Ada yang salah dengan pertanyaanku?”


“Aneh saja, kedua orang tuamu terlihat sangat tidak memperdulikanmu.”


Tidak hanya tidak memperdulikannya, sejak kecil sampai beranjak dewasa, Yada selalu mendapatkan siksaan dari mereka. Tidak ada sosok orang tua dibalik sikap kejam mereka. Yada sendiri tidak mengerti. Dan perkataan Allard ada benarnya juga.

__ADS_1


“Apa racun itu membuatmu bisu?” Allard menatapnya. “Aku harus menarik Yoland untuk datang kesini.”


***


Yada berdiri di atas timbangan badan, berat tubuhnya berkurang lagi tiga kilo gram, dan dia semakin terlihat kurus seperti mayat hidup.


Rasa sakit yang diderita akibat racun yang dimasukan ke dalam tubuhnya benar-benar menyiksa. Yada harus mendapatkan suntikan setiap hari untuk mengurangi rasa sakit itu. Tapi jika Allard tiba-tiba datang dengan kondisi pikirannya yang gila, maka pria itu tidak akan memberinya obat dan malah membiarkan Yada merasakan sakit selama lima jam penuh.


Kakinya yang lemas berjalan kembali ke atas ranjang. Dia membuka sebuah laci nakas dan mengambil satu lembar kertas dengan hasil gambar tangannya. Yada menatap gambar itu.


Mungkin kunci kehidupannya ada di gambar tersebut. Tato itu dimilikinya sejak kecil, dan orang tua mana yang akan memberikan gambar menyakitkan seperti itu jika tidak memiliki arti tertentu. Yada berpikir jika dia harus mulai mencari tahu. Tapi di sisi lain, dia sudah mulai menyerah dengan kondisi kehidupannya.


Apa yang bisa aku lakukan? Pikirnya.


“Uh!” lenguh Yada seraya memegang kepalanya.


Rasa sakit itu muncul kembali, dan dia harus segera mendapatkan suntikan obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Tapi pelayan tidak kunjung datang.


Dia meringkuk di atas ranjang dengan tubuh yang bergetar hebat. Beberapa tubuhnya mulai mengalami mati rasa akibat sakit yang teramat. Peluhnya mulai bercucuran membasahi wajah pucatnya.


Seketika pintu kamar terbuka dengan keras. Yada pikir itu adalah pelayan yang datang untuk memberikan obat. Tapi bukan, yang datang adalah Allard. Pria itu sedang menatapnya dengan wajah bengis penuh amarah.


“Sangat sakit, bukan?” tanya Allard.


Yada terdiam tidak menjawab, dia tidak melakukan apapun selain menggigit bagian bawah bibirnya untuk menahan rasa sakit.


Allard tiba-tiba saja mencengkram bahu Yada dengan kuat, membalikan posisi Yada agar terlentang dengan wajah yang mengarah menatapnya.


Di sela-sela rasa sakit yang dirasakannya, Yada bisa melihat raut wajah Allard yang sangat berbeda hari ini. Pria itu terlihat sangat marah dan seperti tidak terkendali. Itu dapat Yada rasakan ketika Allard mencengkram bahunya.


“Aku terlalu ringan menyiksamu, membiarkan David Aurora bertindak sesuka hati!”


“Aku tidak akan menunggu lagi!” lugas Allard.

__ADS_1


Yada tidak bisa memahami perkataanya.


Bersambung ....


__ADS_2