Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*RETURN


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Laura membawanya keluar dari mansion besar itu. Mansion mewah yang sunyi, megah tapi terasa sangat pengap, indah namun hanya ada kegelapan di dalamnya. Untuk pertama kalinya, dia bisa menghirup udara segar, melihat padatnya jalanan, dan mendengar banyak suara selain suara kicauan burung. Ibukota.


Setiap mobil itu bergerak melintasi jalan, Yada hapal kemana perginya arah mobil yang membawanya. Setiap tikungan, lampu merah, dan juga gedung-gedung tinggi, Yada mengetahuinya. Dia besar di ibukota.


Mobil mewah itu terhenti tepat di depan pintu masuk sebuah restaurant keluarga. Laura membawanya masuk ke dalam privateroom dengan meja yang sudah penuh makanan lezat. Tapi Yada hanya menatap makanan itu dengan tatapan datar dan kosong, meskipun semua makanan itu adalah makanan favoritnya dulu.


Keduanya duduk saling berhadapan. Laura memberikan sebuah amplop coklat kepada Yada. Dia menyimpannya di atas meja.


“Buka itu, Nona.”


Tanpa berkata apapun, Yada meraih amplop coklat tersebut dan membukannya. Isinya tak lain adalah foto bukti penyiksaan dirinya semasa dia berada di tangan Allard. Yada menelan salivanya, dia tertegun sekaligus terkejut. Namun sebisa mungkin raut wajahnya tetap terlihat datar dan tanpa ekspresi.


“Semua ini adalah bukti ancaman untuk keluarga Aurora.”


Yada mengangkat wajahnya, menatap dalam mata Laura di hadapannya. “Kalian mengirimkannya kepada mereka?” tanyanya.


Laura mengangguk samar. “Ya.”


“Lalu apa tanggapan mereka?” tanya Yada lagi.


Laura duduk dengan tegap, pandangannya masih tertuju intens pada lawan bicaranya. Dia diam untuk sesaat mencerna pertanyaan wanita di hadapannya.


“Mereka mencarimu,” jawab Laura singkat. “Baiklah Nona, saya akan menjelaskan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan,” imbuhnya lugas.


“Tunggu, aku ingin bertanya padamu,” ucap Yada.


“Ya, Nona?”


“Kenapa pria itu tiba-tiba berhenti menyiksaku? Kenapa dia juga melepaskanku dan membiarkan aku kembali ke kediaman Aurora?” cecar Yada mendesak.


“Karena Anda akan mencari tahu identitas Anda yang sesungguhnya.”


“Identitas? Kenapa kalian peduli dengan identitasku? Jika aku bukan bagian keluarga Aurora kenapa kalian peduli?”


“Nona-”

__ADS_1


“Tunggu!” Yada memotong kalimat Laura.


“Jika kalian tahu aku bukanlah bagian dari keluarga Aurora, bukankah seharusnya kalian melepaskan aku atau membiarkan aku mati? Aku bisa saja mengungkap perbuatan kalian semua.”


“Tapi kenapa kalian malah membuatku jadi umpan? Apakah karena kalian tidak bisa membunuhku? Atau kalian ... tahu identitasku yang sebenarnya?”


“Kenapa? Kenapa kau terdiam?” cecar Yada bertanya dengan mendesak.


Laura hening, dia menunggu arahan dari bigbosnya yang sejak tadi tersambung melalui earphone di telinganya.


Sementara itu Allard sedang berada di dalam ruang rapat. Seorang karyawan sedang menjelaskan masalah pekerjaan. Namun fokus Allard justru tertuju pada deretan pertanyaan yang dilorntarkam Yada.


Wanita itu sama sekali tidak berubah, dia semakin keras kepala.


'Lakukan rencana kedua.' Allard memerintah.


Laura tersenyum simpul. Wajahnya masih tetap tenang dan tidak menampilkan ekspresi apapun meski sejak tadi Yada begitu mendesaknya. Wanita ini sangat lihat mengendalikan diri dari amarah.


“Kami memang sudah mengetahui identitas aslimu, Nona. Sebuah tato yang kau gambar membuat kami yakin akan hal itu.” Laura mulai menjelaskan.


“Tapi hari ini, tato di tubuhmu hilang, tidak ada bukti yang tepat untuk memastikan identitasmu yang sebenarnya. Jika kau mau, kau harus mencari tahu sendiri dengan datang ke keluarga Aurora. Tuan Allard memberikanmu ijin yang lebih baik dari pada menginginkanmu untuk mati.”


Tatapan dingin wanita itu ketika menjelaskan semuanya menembus ke dalam pikiran Yada. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang dikatakannya adalah satu kebenaran atau kebohongan.


Yada mengalihkan pandangannya dan terdiam. Laura menatapnya intens dan memastikan jika tidak ada pertanyaan lagi yang keluar dari mulut wanita cantik itu.


“Sekarang, yang perlu Nona lakukan adalah menghubungi kakakmu, David.”


Hallo David? Bagaimana kabarmu?


“Dia pasti akan terkejut. Kau harus mengatakan jika kau baik-baik saja.”


Kau terkejut dan terdengar cemas? Ada apa?


“Kau harus meyakinkannya jika kau baik-baik saja.”


Aku baik-baik saja.


“Beri dia alasan untuk meyakinkannya.”


Aku hanya pergi berlibur beberapa saat.


“Dia pasti ingin segera menemuimu. Pastikan kau bertemu dengannya di kediaman Aurora.”

__ADS_1


Tenanglah David, aku akan pulang di jam makan malam nanti dan menemuimu.


“Pastikan jika dia akan menunggu.”


Aku baik-baik saja, aku akan kembali di waktu makan malam, oke? Kita akan mengobrol di rumah nanti.


“Tutup.”


Oke, sampai jumpa, David.


***


“Selamat datang kembali, Nona.”


Suara higheels menghentak lantai marmer terdengar begitu intens. Kaki jenjangnya mulai melenggang masuk ke dalam rumah megah itu. Setiap pelayan yang berpapasan dengannya pasti menunduk memberi hormat.


Yada berjalan menuju ruang makan, bersama dua orang pelayan yang menuntunnya di depan. Terlihat ekspresi datar pada wajahnya, seolah-olah tidak ada yang dia khawatirkan ketika kembali ke rumah itu.


Kami akan menjagamu.


Satu kalimat yang Yada ingat ketika Laura beberapa kali melontarkannya. Meskipun Yada tidak begitu percaya. Namun mau tidak mau, hari ini atau nanti, dia pasti harus kembali ke kediaman Aurora untuk mencari tahu identitas dirinya yang sebenarnya.


Sementara itu di dalam ruang makan. Barrack Aurora, Margareth, dan David sudah duduk di antara meja makan. Margareth memandang putranya yang terlihat sangat gusar, sesekali melirik Barrack yang sejak tadi terdiam tanpa suara.


Wanita paruh baya itu berpikir jika kepulangan Yada hanyalah sebatas nama, lalu mereka akan mengumumkan pemakamam yang pantas untuknya sebagai putri keluarga Aurora. Daftar tamu undangan untuk orang-orang hebat di dalam negara juga sudah dipersiapkan Margareth. Tapi siapa sangka, jika wanita itu justru masih hidup dan malah menelpon David. Apa mungkin David keliru.


Barrack berpikir jika kepulangan Yada bukanlah pertanda yang baik. Karena tidak ada satu orangpun yang bisa lepas dari cengkraman seorang Allard Washington. Orang itu akan mati, atau menjadi mayat hidup seumur hidupnya. Jadi apa yang dilakukannya dengan melepaskan Yada. Seharusnya Allard terus menyiksanya sampai mati. Dengan seperti itu, lengan Barrack akan tetap bersih, dan dia berhasil membunuh dua musuh sekaligus.


David sedang berada di ruang kerjanya tadi. Dia sibuk mengenai pekerjaan, dan juga mencari tahu tentang hilangnya Yada. Allard sudah tidak memberikan informasi mengenai adiknya selama dua bulan penuh. Tapi siang tadi, tiba-tiba nomor Yada menghubunginya, dan itu adalah benar-benar dia. David masih tidak percaya bahwa Yada akan menghubunginya. Dia mencoba melacak nomor tersebut namun tidak bisa. Nomornya dilindungi oleh virus yang sangat kuat.


“Nona Yada telah tiba.”


Seorang pelayan mengantarkan pesan. David mencengkram kan jemarinya erat. Suara higheels semakin nyaring terdengar, dengan waktu seperkian detik terus mendekat.


“Yada?”


.


.


.


Bersambung ....

__ADS_1


Hayyy guysss terus semangati Author dengan cara like, koment, dan juga vote yaaa guyssss. See you.


__ADS_2