
Happy Reading ....
Yada berbaring di atas ranjang rumah sakit, menatap kosong langit-langit ruang rawat. Pikirannya berputar, memikirkan beberapa ingatan aneh yang selalu bermunculan di dalam pikirannya.
Ingatan pertama adalah masa kecilnya. Di mana seorang anak perempuan yang selalu dipanggilnya kakak sedang mengajari Yada menembak. Yang kedua adalah ingatan tentang seorang wanita cantik yang dipanggilnya ibu, memberitahunya jika tato dipunggung miliknya adalah sebuah simbol. Dan ingatan tentang wanita cantik yang berpesan 'kau harus tetap hidup'.
Jika yang dipanggilnya sebagai ibu adalah ibu asli Yada, maka dari itu mungkin saja Margareth bukanlah ibu kandungnya. Perilaku Margareth padanya menunjukan hal yang serupa. Wanita itu sama sekali tidak pernah bersikap sebagai seorang ibu kepadanya.
Mungkin Margareth bukan ibu kandungnya, David bukanlah kakaknya, dan Barack bukan ayah yang sebenarnya. Keluarga Aurora palsu, mereka juga menghapus tato tanda pengenal Yada. Mereka semua palsu. Kenapa mereka melakukan semua ini? Apakah mereka tahu sesuatu tentang masalalu Yada? Mungkinkah mereka tahu segalanya?
Yada menutup mulutnya rapat, perutnya mual saat dia memikirkan kembali kepingan ingatan itu. Kepalanya berputar menjadi pening. Otaknya tidak bisa berpikir dengan baik untuk mengartikan setiap maksud dari ingatan masalalunya.
Pandangannya mengedar, menatap ke arah sekitar. Ruangan itu tidak memiliki jam, dia tidak bisa melihat jam berapa sekarang.
Rasanya hari berlalu begitu cepat. Dua malam telah terlewati semenjak dia dirawat di ruangan itu. Ada sesuatu yang aneh. Yada tidak lagi merasakan tubuhnya yang sakit akibat efek racun di dalam tubuhnya. Dia tidak pernah merasakan sakit itu lagi.
Tidak lama kemudian, seseorang membuka pintu ruangan. Allard datang membawa membawa sekantung buah yang tadi dibelinya. Lebih tepatnya dia memerintah seseorang untuk membeli semua buah itu.
Allard menyimpan buah ke atas meja. Lalu dia berjalan mendekati Yada yang langsung membuang mukanya ke arah samping. Tidak mau berhadapan dengan Allard.
“Kau ingin buah?” tanya Allard.
Yada menggertakan giginya, mencengkram erat ujung sprei. Dia ingat kata-kata Allard yang memintanya untuk menurut. Yada takut jika dia terlalu keras kepala, Allard akan melilit lehernya menggunakan selang infus saat ini juga. Sedangkan dia masih ingin hidup untuk mencari teka-teki di dalam hidupnya.
Allard menanti jawabannya, dan tak lama kepala Yada mengangguk perlahan. Lalu, dengan sigap Allard membantu tubuh Yada bangun dari tidurnya, dan duduk menggunakan bantal sebagai senderan punggung. Sementara Allard duduk di samping ranjang di sebuah kursi kecil, mulai memotong beberapa buah apel.
__ADS_1
Sesekali pandangan Yada tertuju pada Allard yang sedang focus pada buah di tangannya. Pria itu terlihat tampak tenang, dan tidak bisa dibohongi jika wajahnya tampan namun dingin. Seandainya saja setiap hari tingkahnya seperti itu, mungkin akan lebih baik lagi. Harap Yada.
Yada masih berpikir tentang racun di dalam tubuhnya. Rasa sakit itu tiba-tiba saja menghilang, tidak menyisakan setitik rasa sakitpun. Dia heran, namun di sisi lain ini adalah hal yang bagus. Setidaknya Yada tidak perlu menahan rasa sakit yang mematikan itu.
Setelah memotong satu buah apel menjadi beberapa potongan, Allard menyodorkan sepotong apel pada mulut Yada. Wanita itu menerimanya, membuka mulut dan menggigit apel tersebut.
Mulutnya mengunyah, sementara pikirannya terus berputar. Dia sangat ingin bertanya kepada pria di hadapannya mengenai racun itu. Namun Yada enggan, karena mungkin saja Allard akan marah saat itu juga.
Tiba-tiba Yoland datang, masuk ke dalam ruangan. Allard menatap kedatangan pria itu dengan tatapan datar. Allard sudah memperingatinya agar tidak masuk ke dalam ruangan Yada ketika dirinya bersama Yada. Tapi dokter itu selalu melanggar perintahnya.
“Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik?” tanya Yoland, selalu dengan pertanyaan yang sama. “Sudah waktunya pemeriksaan, aku akan memeriksa mu.”
Dokter muda itu langsung melakukan sederet pemeriksaan pada Yada. Memeriksa detak jantung, denyut nadi, dan tensi darah. Dia tersenyum ketika selesai melakukannya.
“Sudah lebih baik,” kata Yoland lalu melirik beberapa potong buah di atas piring yang berapa di atas meja. “Buah sangat bagus untuk kesehatanmu.”
Yoland keluar dari ruangan dan menutup pintu. Dia lega karena racun di dalam tubuh Yada sudah hilang sepenuhnya. Wanita itu tidak perlu merasakan sakit lagi. Allard juga sudah bersikap lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya pisau buah yang dia pegang digunakan sebagaimana fungsinya.
“Habiskan buah itu,” kata Allard lalu beranjak berdiri dan melangkah menjauh dari ranjang.
Yada menurutinya, mulai memakan satu persatu potongan buah apel di atas piring.
Allard duduk di sebuah sofa yang masih berada di dalam ruang rawat. Yada sesekali melirik ke arahnya dan melihat apa yang sedang pria itu lakukan. Di sofa Allard mulai membuka MacBook miliknya, mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tas dan mulai membacanya.
Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia sedang bekerja di sini? Pikir Yada.
__ADS_1
Seharusnya Allard kembali ke mansion jika dia benar-benar memiliki kesibukan. Untuk apa pria itu terus berada di sana dan membuat Yada tidak nyaman? Apakah dia sedang mengawasinya?
Yada tidak mau peduli, dia juga tidak bisa memprotes apapun. Pria itu memang selalu melakukan hal-hal semaunya.
Sementara hari semakin larut dan Yada mulai mengantuk. Dia menyimpan garpu yang dipegangnya untuk memakan buah apel ke atas piring yang sudah kosong. Kemudian mulai membaringkan tubuhnya perlahan ke atas ranjang. Dia berbaring dengan posisi menyamping, memunggungi Allard. Berharap jika pria itu tida naik tiba-tiba ke atas ranjangnya nanti malam.
Rasa kantuk mulai menyertainya. Yada menutup mata dan tak lama alam bawah sadar meraup pikirannya dan tenggelam untuk tertidur, membawanya datang pada mimpi panjang malam ini.
---
Allard merasakan bahunya mulai berat. Dia menutup MacBook dan menyenderkan punggungnya pada senderan sofa. Tatapannya memaku pada punggung Yada yang tidak bergerak sama sekali. Nafas wanita itu juga terdengar sangat tenang.
Dia sudah tidur. Pikir Allard.
Allard membereskan beberapa berkas miliknya di atas meja. Memasukan MacBook dan lembaran kertas tersebut ke dalam tas. Dia sengaja meninggalkan satu berkas di atas meja. Yada akan membacanya ketika dia bangun di pagi hari. Setelah itu, Allard keluar dari ruang rawat Yada. Meminta dua orang bawahannya untuk menjaga pintu ketika malam, dan menghilang ketika Yada terjaga. Itulah sebabnya Yada tidak melihat penjaga itu ketika di siang hari. Karena Allard dengan sengaja menyembunyikan mereka.
“Tetap awasi dia,” perintah Allard.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.....