
Happy Reading ....
.
.
.
Yada duduk di kursi meja makan dalam apartemennya seorang diri. Merenung dengan pikiran yang berkecamuk. Setelah sekian lama kembali masuk ke dalam keluarga itu, perlakuan yang sama masih terus terulang. Yada bisa mati jika terus berada di sana. Dia memutuskan untuk hari ini dia akan tinggal di apartemen yang diberikan oleh Laura. Dia tidak akan kembali ke rumah itu lagi.
Lamunan Yada buyar saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dia segera pergi melihat siapa yang datang. Seketika langkahnya terhenti saat sosok pria bertubuh tegap berdiri tepat di depannya saat ini. Pandangan Yada memaku padanya. Pria yang sudah merenggut segalanya darinya.
Aku pikir, aku tidak akan bertemu dengannya lagi.
Allard melangkah melewatinya. Dia duduk di sofa dengan kaki yang bertumpu satu sama lain. Pria itu menyulut rokok, dan menghisapnya. Tatapannya tajam lurus ke depan. Kehadirannya membuat atmosfir di dalam apartemen itu berubah seketika.
“Kau tidak siap untuk semuanya.”
Suara bariton itu menggema, membuat seluruh tubuh bergidik ngeri. Seolah ada racun di setiap kalimatnya. Yada masih memaku pada posisinya. Dia terus berdiri di sana. Tidak pergi, ataupun berbalik untuk melihat Allard.
“Kau selalu bersikap seperti itu.”
Allard mematikan sulutan rokoknya. Beranjak mendekati Yada. Wanita cantik itu menelan salivanya ketika Allard berada tepat di belakangnya. Dia tidak ingin berbalik, hanya ingin segera pergi dari sana jika dia bisa dan sebisa mungkin menghindari pria jahat itu.
Pria itu memperhatikannya dengan intens. Benar apa yang dikatakan Laura. Yada hanyalah wanita biasa yang memiliki mental yang lemah. Dia tidak memiliki keberanian tinggi sebagai putri seorang mafia terkenal. Wanita itu tumbuh di bawah siksaan keluarga Aurora. Pantas jika sikapnya sangat lemah dan mudah tertekan. Jika saja dia dibesarkan oleh keluarganya sendiri, mungkin wanita yang berdiri di hadapannya kini memiliki pribadi yang sama seperti Zinth. Tapi di sisi lain, wanita ini masih memiliki sikap keras kepala seperti kakaknya. Mungkin dia masih bisa di latih.
“Apa yang kau dapat setelah kembali ke kediaman Aurora? Sebuah tamparan?”
Allard menyentuh bahu Yada dan membalikan tubuh wanita itu agar menghadap ke arahnya. Yada menekan segala ekspresi ketakutannya terhadap pria itu dan sebisa mungkin menatap wajahnya. Samar-samar ingatan menyakitkan itu muncul kembali. Ingatan kelam selama Allard mengurungnya di dalam mansion. Menyakitinya, dan merenggut kehormatannya. Kenapa pria ini begitu bastard?
Pria itu tersenyum simpul melihat wanita dihadapannya masih berani menatapnya. Allard tidak sabar untuk melatihnya sebagai wanita arogan, mengubah sikapnya menjadi pemberani, dan pembangkang. Tidak akan ada yang dia takuti di dunia ini lagi. Dia akan menjadi senjata yang paling ditakuti dan sangat mematikan.
__ADS_1
“Apakah tamparan itu begitu menyakitkan hingga kau menangis?”
“Aku tidak menangis!” Yada menekankan suaranya yang parau.
“Matamu memerah, dan kau kabur dari rumah itu.”
“Mereka akan mengurungku dan membunuhku!”
“Tidak! Jika kau tidak melawan mereka dan terus mengikuti alur. Jalani kehidupanmu seperti di masalalu ketika kau tidak mengetahui apapun. Jadilah putri keluarga Aurora yang baik. Kau cukup mahir mengendalikan dirimu sendiri, bukan?”
Jemarinya semakin mengepal erat. Allard memintanya untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Yada tidak bisa melakukannya, pengendalian dirinya tidak begitu kuat mengingat fakta bahwa keluarga itu adalah seorang penculik yang rela mengurung seorang gadis kecil dan menyiksanya hanya karena sebuah balas dendam. Semua hal itu terlalu tidak adil. Jika bisa, Yada ingin segera mengetahui semua yang terjadi dan menuntut balas kepada keluarga itu.
“Baiklah. Kembali kepada mereka bukanlah hal yang baik. Kau hanya seorang wanita lemah.” Allard menyepelekannya, dan itu membuat Yada tersinggung. Tapi apa yang dikatakan oleh Allard itu adalah benar, Yada tidak bisa melakukan apapun untuk melawan keluarga Aurora sementara dirinya tidak memiliki apapun. Keluarga Aurora sangat berkuasa.
“Kau akan mengikuti pelatihan. Aku sendiri yang akan mengurusmu.”
Pelatihan?
***
“Mam, kenapa kau memukulnya?”
“Wanita sialan itu, dia berani menentang ku.”
“Apa yang kau lakukan? Kau memarahinya hanya karena seorang pelayan rendahan! Bukankah dia putrimu?”
“David, jangan selalu menekankan jika dia adalah putriku. Dia bukan putriku!”
“Setidaknya sampai saat ini itulah kenyataan yang dia ketahui!”
“Jangan membuang waktumu untuk mengkhawatirkannya David! Pikirkanlah Allard Washington yang terus saja menyerang kita!”
__ADS_1
David pergi begitu saja. Dia bahkan tidak menghiraukan Margareth yang berteriak memanggil namanya kembali. Seorang putra mafia besar bagaimana bisa mengabaikan tugasnya dan lebih memilih memperhatikan seonggok hama kecil. Benar-benar tidak berguna.
Seharusnya hari ini David tinggal di rumah dan memperhatikannya. Mungkin adiknya itu tidak akan pergi begitu saja, dan Margareth tidak akan menyakitinya. Dia begitu menyesal.
David meminum segelas arak keras sebelum akhirnya dia mendapat panggilan dari Yada. Pria itu bergegas menerima panggilan tersebut dan menghujani Yada dengan deretan pertanyaan.
“Aku mengkhawatirkanmu!”
'Aku baik-baik saja. Aku akan mengurus diriku sendiri. Kau jangan mengkhawatirkanku lagi. Jaga dirimu baik-baik.'
Panggilan suara itu terputus saat David belum sempat berbicara banyak padanya. Yada sengaja menutup dirinya dari David. Wanita cantik itu khawatir jika suatu hari nanti dia akan melawan keluarga Aurora yang mana terlibat David di dalamnya.
Maafkan aku David. Di kehidupan selanjutnya, aku berharap takdir kita menjadi lebih baik lagi.
***
Dilahirkan di dalam keluarga mafia bukanlah takdir yang diharapkan. Jika bisa memilih, dia lebih baik memiliki kehidupan sederhana. Setidaknya, perjalanan hidupnya akan lebih baik dan tidak usah terlibat dalam urusan balas dendam yang mengerikan.
Beberapa orang yang dilihatnya selama melewati lorong itu sedang berjuang melatih diri mereka sendiri. Setiap inci yang luka dan mengeluarkan darah tidak terlalu diharaukan. Mereka mencari kekuatan, kekuatan untuk membela klan dan melindungi diri mereka sendiri. Orang-orang itu begitu mengabdi kepada klan mereka.
Apa yang didapat dari kehidupan yang mengerikan itu. Bukankah hanya pukulan dan ancaman serta balas dendam. Beberapa teman, anggota keluarga, dan orang-orang yang disayang menjadi taruhan mereka. Tapi kenapa mereka bisa dengan senang hati menyerahkan kehidupan mereka serta semua yang mereka miliki?
Yada cukup melihat semua pelatihan itu dengan jantung yang berdebar. Hingga langkahnya terhenti pada sebuah ruangan tertutup yang sesekali menciptakan suara tembakan yang menggema dari dalam. Ruang menembak. Yada langsung teringat pada mimpinya. Seseorang telah mengajarkan itu kepadanya sejak dia masih kecil. Ya!
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1