
Happy Reading ....
Gemuruh hujan dengan petir menyambar mengiringi malam yang gelap itu. Allard sedang berada di dalam ruang bacanya, menatap nanar sebuah gambar yang baru saja dia temukan di dalam kamar Yada. Setiap saat pikirannya bertanya-tanya, bagaimana Yada bisa menggambarnya.
Dia menyimpan kertas tersebut, beranjak dan berjalan pergi keluar ruangan. Allard ingin memastikan kondisi wanita itu dan kembali menanyainya perihal sebuah gambar yang dia buat.
Sementara itu Yada berada di dalam kamarnya dengan selang infus yang tertancap pada punggung telapak tangannya. Tubuhnya semakin hari semakin lemah, itu efek dari racun yang Zinth berikan sebelumnya.
“Pegang ini, kau harus menguasainya!”
“Ya, tembak!”
“Bagus!”
Remaja perempuan itu memeluk tubuh Yada ringan ketika dia berhasil menembak ke arah target yang benar. Dari pelukan itu, Yada dapat melihat gambar tato yang selama ini menjadi bayang-bayang hidupnya.
“Kakak?” gumam Yada rendah.
Allard berdiri di samping ranjang dan mendengar Yada bergumam memanggil 'kakak', lantas Allard segera mendekat. Wanita cantik itu langsung terbangun dengan wajah yang berpeluh.
“Sekarang katakan, bagaimana kau bisa membuat gambar itu?” cecar Allard bahkan tidak membiarkan Yada mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.
Yada mengerutkan dahinya, bergegas bangun dan duduk di atas ranjang. Dia menepiskan lengan Allard pada kedua bahunya dan menatap bingung pria tersebut.
“Cepat katakan!”
“Aku tidak tahu!” jawab Yada memekik.
Dengan paksa Allard membuka pakaian Yada untuk memastikan. Tapi Allard sangat yakin jika wanita itu tidak memiliki tato tersebut di belakang punggungnya.
“Apa yang kau cari?” tanya Yada menengadah, .enghentikan tindakan Allard. “Tato di belakang punggungku?”
Allard menarik lengannya dari tubuh wanita cantik itu. Damn! Yada juga tahu jika tato tersebut berada di belakang punggungnya. Apa yang dia ketahui? Tato siapa yang dia lihat?
“Apa yang akan kau lakukan jika aku sempat memiliki tato tersebut?” tanya Yada. “Apa ada dendam pribadi lainya yang mungkin akan membuatmu semakin menyiksaku?”
Allard termenung. Semua kenyataan yang hadir seolah sedang berputar-putar di dalam kepalanya. Dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa jika benar Yada memiliki tato tersebut.
“Tapi kau tidak memilikinya,” lugas Allard.
__ADS_1
“Ya! Tapi aku pernah memilikinya, saat aku berusia lima tahun.”
Allard tercengang, bagaimana bisa?
“Aurora sudah menghapusnya dari tubuhku. Jadi apa yang akan kau lakukan? Menyiksaku lagi dan lagi?”
“Shit!” Umpat Allard kesal. Bagaimana bisa Yada memilikinya?
***
Puluhan tahun yang lalu, klan Yora dihantui oleh pambantaiam dan pengkhianatan dari dalam klan mereka sendiri. Konspirasi besar terjadi dan mengakibatkan klan tersebut hancur berantakan.
Barrack Aurora adalah dalang dari semua kehancuran itu. Membuat Gurreth Yora kehilangan istri dan putri tercintanya. Kondisi Gurreth kini masih dirahasiakan, sementara istrinya dikabarkan meninggal dan putri kecilnya menghilang. Menyisakan Zinth Yora seorang diri sebagai ahli waris klan.
Bertahun-tahun Zinth Yora membuat rencana balas dendam atas kehancuran keluarganya. Bekerja sama dengan berbagai klan untuk menghancurkan klan Aurora termasuk bekerja sama dengan Allard Washington. Di samping rencana balas dendamnya, Zinth Yora juga tidak berhenti mencari informasi mengenai adiknya yang hilang.
“Aku yakin kau masih hidup,” gumam Zinth.
Wanita cantik itu berada di dalam kamarnya, memandang sebuah gambar masa kecil bersama adiknya dengan tersenyum. Tujuan hidup Zinth adalah menemukannya, membalaskan dendam, kemudian berkumpul kembali dengan ayah mereka. Meskipun usahanya belum menemukan titik terang, Zinth tidak pernah menyerah.
Sementara Allard masih berada di dalam kamar Yada, mendengarkan setiap keluhan wanita cantik dengan tatapan kosong di atas ranjang.
“Bukankah sudah aku katakan, menyekapku tidak akan menguntungkan bagimu,” kata Yada.
Satu-satunya alasan kenapa klan Aurora tidak pernah peduli memungkinkan jika Yada bukanlah anggota dari keluarga mereka. Jika kenyataan yang dikatakan Yada benar mengenai gambar tato tersebut, maka Yada adalah orang yang paling dibenci Barrack. Dan menghancurkan Yada malah akan membuat Barrack merasa senang.
Allard salah. Tanpa diduga dia malah menyiksa keluarga dari rekan kerja samanya. Dan bagaimana jika Zinth Yora sampai tahu? Kedua klan itu mungkin akan berperang, yang mana akan mengabaikan klan Aurora.
****! ****! ****!
Isi kepala Allard kacau balau. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi di depan matanya. Dia tidak berhati-hati dalam bertindak. Dan siapa yang akan tahu jika Yada bukanlah bagian dari klan Aurora.
“Apa yang kau tahu dari gambar ini?” tanya Yada.
Dan Allard hanya menatapnya intens tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia bergegas keluar dari dalam kamar sembari membanting pintu sekuat mungkin, membuat bunyi nyaring yang memekakan telinga.
Apa yang dia tahu?
***
__ADS_1
Satu minggu berlalu, dan semenjak hari itu Yada tidak pernah bertemu dengan Allard. Dia merasa jika pria itu tidak pernah kembali ke mansion. Yada tidak peduli, hidupnya sedikit tenang meskipun rasa penasaran menyerang pikirannya.
Apa yang Allard tahu tentang gambar itu?
Beberapa hari yang lalu Yoland datang untuk mengambil darah miliknya. Dokter tampan itu beralibi jika dia ingin memeriksa racun yang ada pada tubuh Yada. Jelas saja itu bohong, karena Allard memintanya untuk mencocokan DNA Yada dengan Zinth.
“DAMN!” pekik Darren setelah membaca hasil test.
Kedua DNA itu saling berhubungan, dan kemungkinan besar Yada adalah sosok adik kandung yang dicari Zinth selama ini. Ketiga pria itu termenung.
“Apa yang akan kau lakukan Allard?” tanya Darren.
“Menyembunyikannya,” sontak Allard menjawab. “Zinth tidak perlu mengetahuinya, semuanya akan hancur berantakan.”
“Cepat atau lambat dia akan mengetahuinya,” kata Yoland.
“Cepat atau lambat, setidaknya ada waktu untuk memperbaiki itu semua!” ucap Allard penuh penekanan.
Isi pikiran Allard bergemuruh seperti sedang dilanda badai. Wanita yang disiksanya habis-habisan kini justru menjadi karma tersendiri baginya. Entah apa yang akan terjadi jika sampai Zinth tahu jika Allard menyiksa adik kandungnya.
“Kini, buatlah alasan agar Zinth mau memberikan penawar racun,” perintah Allard.
Jika saja Allard bisa membunuhnya dan menghilangkan jejak, mungkin semua itu bisa lebih baik. Tapi kenyataan yang tersimpan di dalam klan Aurora tidak bisa disangkal. Hal ini akan menjadi boomerang untuk klan Washington.
Allard mengurutkan pangkal hidungnya pening. Selain kehilangan Yada sebagai alat untuk memeras David, dia juga harus dihadapkan dengan Zinth yang akan terus menghantuinya. Wanita itu pasti akan meminta waktu untuk bertemu dengan Yada lagi.
“Damn!” umpat Allard kemudian pergi keluar dari privateroom.
***
Beberapa pelayan datang untuk memberikan suntikan penenang. Yada sedang berada di dalam kamarnya, meringkuk di atas ranjang dengan rasa sakit yang menusuk di setiap inci tubuhnya. Racun itu bereaksi lagi.
Sedikit demi sedikit rasa sakitnya mulai berkurang, nafasnya teratur dan dia mulai bisa membuka matanya. Yada dapat melihat samar-samar sosok pria yang berdiri tepat di samping ranjang.
“Itu penawar racun, kau tidak perlu merasakan sakit lagi nantinya,” ucap pria tersebut.
Allard melihat ke arahnya dari ambang pintu, melihat Yoland yang sedang berbicara kepada Yada. Dia melihat raut wajah kesakitan wanita itu. Apapun kenyataan mengenainya, Allard sudah terlanjur membenci Yada sebagai bagian dari klan Aurora. Meskipun kini kenyataan menamparnya, membuat Allard sadar untuk menghentikan siksaan pada wanita cantik itu.
Yoland hendak memeriksa denyut nadinya, tapi Yada tidak ingin disentuh. Reflek wanita itu menjauhkan lengannya dari Yoland. Sikapnya menunjukan seakan dia trauma dengan sentuhan dari orang asing. Yoland melihat luka lebam pada lehernya.
__ADS_1
Luka itu ....
Bersambung ....