
Flashback ....
Delapan tahun yang lalu pada musim panas di satu hari. Yada pergi ke universitas dengan membawa data pribadi lengkap miliknya, beberapa tabungan rahasia yang dia simpan, serta cincin batu Ruby yang sebelumnya David berikan. Hari itu Yada sudah nekat untuk pergi dari kediaman Aurora.
Dia melakukannya dengan sangat hati-hati, David yang selalu menyayanginya bahkan tidak tahu rencana melarikan diri tersebut.
Yada pikir, usianya sudah cukup untuk dia bisa pergi dari kediaman yang dianggapnya sebagai neraka itu. Dia bisa hidup di luar tanpa adanya kekangan dan siksaan dari keluarga Aurora lagi. Yada berencana pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Berbekal sebuah kartu nama seseorang yang bekerja pada sebuah acara lelang barang berharga yang Yada dapat dari temannya, gadis labil itu pergi pada acara lelang tersebut untuk menjual cincin yang David berikan.
“Kau yakin ingin menjual cincin ini, Nona?”
“Ya, aku yakin.”
“Cincin ini sangat berharga. Setelah berdiskusi dengan staff lain, kita setuju untuk membuka harga tiga milyar pertama.”
“Kapan aku bisa mendapatkan uang itu?” tanya Yada tidak sabaran.
“Setelah acara berakhir, kami akan menghubungimu.”
Yada mengangguk mengerti. “Baiklah.”
Gadis itu pergi pada aula besar tempat para tamu berkumpul. Beberapa barang berharga mereka keluarkan satu-persatu dengan harga yang menakjubkan. Sampai pada sesi terakhir, cincin Ruby miliknya dikeluarkan.
“Tiga milyar!”
“Tiga setengah milyar!”
“Empat milyar!”
“Empat setengah milyar!”
Beberapa tamu mengangkat papan nomor mereka untuk menawarkan harga. Yada terdiam dan mendengarkan. Berapa mahal dan berharganya cincin itu, tapi lebih berharga lagi kasih sayang David padanya karena dengan tulus David memberikan cincin itu kepada Yada.
“Maafkan aku, David,” gumam Yada rendah.
“Seseorang di telpon menawarkan harga lima milyar!”
Semua orang berdecak kagum.
“Lima setengah milyar!”
Yada masih menunggu di angka berapa cincin itu akan terjual. Tapi tiba-tiba saja, seorang pria berpakaian jas rapih mengenggam lengannya erat-erat. Yada terkesiap.
__ADS_1
“Nona, kau harus kembali.”
Yada terkejut, menatap pria itu dengan dada yang berdegup kencang. Entah bagaimana caranya, bodyguard keluarga Aurora dapat mengetahui keberadaanya sekarang. Padahal semenjak usia Yada tujuh belas tahun, dia sudah tidak pernah memiliki pengawal pribadi lagi.
Bodyguard itu menarik lengan Yada, tidak peduli sekuat apapun Yada memberontak tidak akan bisa lepas dari genggamannya. Dia membawa Yada pada sebuah ruangan di dalam gedung yang sama, dan seorang wanita paruh baya modis menatap bengis ke arahnya.
PLAK!
Suara tamparan itu begitu nyaring, Yada meringis seraya memegang pipinya yang memerah.
“Wanita sialan!”
Kembali pada masa sekarang. Yada mengepalkan kedua lengannya pada gaun merah yang dia kenakan. Matanya memerah dan nanar ketika dia mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam. Seketika dia menatap Allard dan berpikir.
Sejak kapan kau mulai mengikutiku? Tanya Yada dalam hati.
Allard tersenyum simpul, seolah mengerti maksud dari tatapan wanita cantik yang berada di atas pangkuannya. Tapi dia tidak memperdulikan Yada yang menatapnya dengan tajam. Dia malah menyentuh lembut jemari lentik Yada, menyematkan cincin indah tersebut pada jari manisnya.
“Sangat cantik, warnanya sama dengan warna gaunmu, Yada.”
Sementara Yada masih menatapnya dengan tidak mengatakan sepatah katapun. Pikirannya hanya terus berputar, bertanya-tanya sejak kapan Allard berada di sekitarnya hanya untuk mengawasi Yada? Apa saja yang pria ini tahu?
Yada, tenangkan pikiranmu!
Yada menatap cincin tersebut, kemudian berkata, “Cincin yang indah.”
Darren menatap Yada dengan senyum penuh kagum. Meski di hadapan pria yang sedang menyanderanya kini, wanita itu justru terlihat lebih tenang dari sikap yang seharusnya dia tunjukan. Amazing!
“Apa kau ingin minum, Nona?” ucap Darren menawarkan segelas whisky.
Allard menatap Yada yang juga tengah menatapnya.
“Minumlah.” Allard mengedikan dagunya ke arah Darren, memerintah Yada untuk meminum satu gelas minuman beralkohol tersebut.
Yada meraih gelas tersebut dengan jemari lentiknya, menegak minuman berwarna gold itu hingga tandas. Panas. Rasanya tenggorokan dan isi perutnya sedang terbakar.
“Kau sangat pintar, Nona,” ejek Allard berbisik.
“Apa kau ingin melihat sesuatu?” tanya Darren, Yada menatapnya diam.
Darren memberikan sebuah berkas berisi dokument penting mengenai perusahan perhiasan milik Yada. Yang mana di dalam berkas tersebut, Allard telah membeli lima persen dari sahamnya. Dan yang paling parah adalah, dokument itu juga berisi tentang rencana dan desain terbaru dari perhiasan yang akan diluncurkan.
Bagaimana mungkin? Pikir Yada.
__ADS_1
“Karyawan di perusahaanmu bekerja dengan sangat baik, Nona,” kata Darren. “Mereka bekerja dengan sangat rajin.” Dia tersenyum lebar.
Yada menatapnya dengan tidak terima. Entah siapa yang berani membocorkan informasi sepenting itu. Perusahaannya sedang diambang kehancuran, dan jika rencana peluncuran produk baru itu gagal, maka hutang perusahaan semakin besar dan yang pasti akan mengalami kebangkrutan.
“Perusahaan dan pemiliknya membuat David Aurora bekerja sangat keras,” celetuk Allard.
Tidak masalah dengan perusahaan yang hancur. Tapi Yada tidak akan terima jika David dibuat susah olehnya. David sudah terlalu menyayanginya selama ini, Yada tidak ingin membuatnya menderita. Persetan dengan iblis bernama Allard Washington!
Yada menatap Allard dengan penuh emosi. “Kau tidak akan mendapatkan apa-apa, Tuan!” tekan Yada. “Mencuri satu perusahaan tidak akan membuatmu menang!”
“Tentu saja!” jawab Allard. “Tidak hanya satu perusahaan, aku bahkan akan merebut segalanya dari klan Aurora, Nona Yada.” Seringai Allard pada wanita cantik itu.
Yada membuang wajahnya ke samping, menjijikan ketika harus melihat pria bastard itu.
David, I'm sorry ....
Allard membawa Yada kembali ke kediaman. Tapi pria itu tidak melepaskannya begitu saja untuk memberikannya waktu istirahat karena kondisi fisik Yada yang masih lemah karena tenggelam. Allard justru menarik Yada masuk ke dalam sebuah ruangan yang ada di dalam ruang bawah tanah mansion.
Allard memaksanya menghirup sesuatu, Yada menolak tapi pria itu menarik rambutnya kuat-kuat.
“Hisap ini, kurangi rasa sakitmu!” ucap Allard penuh penekanan.
“DAMN! KAU GILA ALLARD!” umpat Yada lantang.
“Yes babby, maka menurutlah atau aku akan membuatmu melakukan hal yang lebih kejam lagi,” kata Allard dengan seringai.
“NO!”
Allard memasukan benda itu pada mulut Yada, menutup hidung Yada agar wanita itu tidak bisa bernafas dan mau menghisapnya. Namun Yada bersikeras menolak.
“Wanita yang keras kepala.”
Allard menyentuh paha mulus Yada dengan seductive, menyentuh dada wanita cantik itu dan membuatnya terperanjat.
“Are you virgin, Yada?”
Yada terdiam dan shock.
“Turuti perkataanku, atau kau akan kehilangan permatamu malam ini,” ancam Allard.
“DAMN! NO!!!”
Bersambung ....
__ADS_1
Gimana? Suka sama ceritanya? Jangan lupa tinggalkan review terbaik kalian yaaaa....