Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*DINING TABLE


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Kaki jenjangnya melenggang masuk ke dalam rumah megah itu. Setiap suduh ruangan di sana, mengingatkan Yada pada semua kejadian kelam di masalalu. Sejak kecil hingga dewasa, rumah mewah ini akan selalu bersikap kasar dan dingin kepadanya.


Seorang pelayan menunggu di pintu masuk ruang makan. Dia membungkukan badan memberi hormat, lalu mempersilahkan Yada masuk ke dalam.


“Nona Yada telah kembali.”


Yada melepaskan kepalan jemarinya, menarik nafas dalam, dan mengontrol emosi juga raut wajahnya. Sebisa mungkin tidak menampilkan ekspresi cemas ataupun takut.


Tubuh rampingnya berdiri di ujung meja makan panjang itu. Semua sorot mata tertuju padanya. Enam pasang mata itu membulat membeliak, seolah mereka tidak percaya akan kehadirannya di malam ini.


“Hai David.”


Langkah Yada berjalan mendekati kursi yang biasa dia duduki. Namun belum sampai dia duduk di sana, David terlebih dulu meraup tubuhnya ke dalam sebuah pelukan.


“Yada ... kau kembali? Ini benar-benar dirimu?”


Dibalik pelukan David, Yada melihat sorot amarah dari mata Margareth, tatapan kejam dan tajam dari Barrack Aurora.


Merek sungguh menginginkan aku mati?


Dia memegang bahu David dan melepaskan pelukan. Menatap raut wajah cemas pria tampan di hadapannya. Sedikit rasa iba dan kasihan, sebenarnya dia sangat tidak tega untuk membohonginya. Tapi yang Yada takutkan sekarang adalah, David juga termasuk dalang dari semua hal yang terjadi kepadanya.


Apa kau juga palsu seperti mereka?


“Hei ada apa? Aku baik-baik saja,” ucap Yada mencoba menenangkan pria di hadapannya.


David masih tidak percaya, adiknya yang dia cari dengan usaha begitu keras tiba-tiba saja kembali dengan kondisi baik-baik saja. Dia langsung memeriksa tangan Yada, memastikan jika jemari wanita cantik itu masih lengkap dan tidak ada yang kurang.


Yada terus memerhatikan sikap kakaknya. Dia tahu apa yang sedang dilakukan David dan apa yang ada di dal pikirannya. Dulu David pasti pernah mendapatkan jari palsu yang Allard buat untuk mengecohnya. Yada terus memperhatikannya, pria itu terlihat cemas dan menyedihkan.


“Tenanglah, aku baik-baik saja.”


“Bagaimana Allard melepaskanmu?”


Yada berkerut kening. “Allard? Siapa Allard? Aku tidak mengenalnya.” Sesuai perjanjian, dia harus berpura-pura tidak mengenal siapa Allard Washington.

__ADS_1


“Allard Washington.”


Yada menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Aku tidak mengenalnya, siapa dia?”


“Yada?” David bingung dan bertanya-tanya. “Kau tidak mengenal Allard Washington? Pria yang menculik dan mengurungmu.”


“Tidak, aku tidak mengenalnya. Apa katamu, aku diculik? Ayolah David, aku baru saja kembali dari berlibur panjang,” lugas Yada dengan nada santai.


“Lagipula kenapa kau berkata aku diculik dan dikurung? Bukankah itu hal yang menyeramkan? Ayolah, jangan mengatakan hal-hal mengerikan di hari terakhir liburanku.”


“Berlibur?”


“Ya! Bahkan Mami dan Papi tau aku pergi berlibur.”


Yada melewati David, pergi menuju Margareth dan Barrack. Wanita cantik itu menyapa keduanya, memberikan pelukan ringan pada kedua orangtua palsunya.


“Aku sangat merindukanmu, Mami!”


Dia mencium singkat pipi Margareth, membuat wanita paruh baya itu terkesiap dan menatap Yada tajam. Yada hanya tersenyum simpul, kelopak matanya turun memperhatikan Margareth.


Aku akan membalas mu.


Yada duduk di kursi tempat biasa dia duduk. Beberapa pelayan menyajikan makanan di atas piring untuknya. Menu steak daging sapi dengan saus mushroom sebagai pelengkap.


Kedua lengannya memegang alat makan, dia mulai mengiris daging di atas piring dan memakannya. Yada tahu jika tiga manusia itu sedang menatapnya dengan heran, tapi Yada tidak peduli. Dia kembali hanya untuk mencari tahu identitas aslinya, bukan untuk memperdulikan mereka lagi.


Yada menoleh, tersenyum tipis dan mendesis samar. “Ini meja makan, bukan tempat yang tepat untuk mengobrol.”


***


Dia berada dalam kamarnya. Berdebu dan usang. Puluhan pelayan dikediaman itu tidak membantunya membersihkan kamar. Margareth pasti melarangnya.


Yada menghubungi kepala pelayan, memintanya mengantarkan beberapa pelayan untuk membersihkan kamarnya. Pelayan itu menentang, mengatakan jika dia hanya mematuhi perintah nyonya besar (Margareth) saja.


“Kau tidak mau memberikan beberapa pelayan untuk membersihkan kamarku?” tanya Yada dengan nada suara datar.


Kepala pelayan bernama Luna itu menatapnya, tatapan menantang dan berani. “Maaf Nona, tapi saya hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh Nyonya besar.”


“Bagaimana dengan perintah tuan muda (David)?”


Kepala pelayan Lu menelan salivanya.


“Aku akan meminta kakakku agar dia memintamu untuk membersihkan kamarku. Aku ingin kau sendiri yang membersihkannya.”

__ADS_1


Kepala pelayan Lu menggertakan giginya kesal. Tidak seharusnya nona muda itu berani memerintah serta mengancamnya. Dia adalah orang kepercayaan Nyonya besar. Semua yang ada di dalam rumah itu adalah kendalinya. Tidak ada yang berani mengusik keberadaanya.


“Nona, bukankah Anda biasanya membersihkan kamar Anda sendiri?”


“Aku memintamu mengirim pelayan untuk membersihkannya, tapi kau menolak. Aku akan memberitahu David.”


“Nona, Nona tunggu, Anda tidak perlu menganggu Tuan muda David untuk hal sepele. Saya akan memerintah beberapa pelayan untuk membersihkan kamar Anda.”


“Tidak, aku ingin kau seorang yang membersihkan kamarnya. Sekarang!”


Yada berbalik pergi. Kepala pelayan Lu mendengkus kesal, menatap beberapa pelayan yang seolah sedang menatap intens dan menertawainya.


Tidak biasanya Yada bersikap seperti itu. Nona mudanya itu biasanya memiliki sikap lembut dan perhatian. Kepala pelayan Lu tidak segan untuk memerintah ya membantu pekerjaan dapur. Tapi siapa sangka jika hari ini justru dia melawannya.


Yada tidak bisa terus tunduk seperti dirinya di masalalu. Kehidupan dan keluarga Aurora telah sangat mempermainkannya. Hari ini justru pelayan itu berbuat tidak sopan kepadanya, dia harus memberikannya pelajaran.


Kepala pelayan Lu masuk ke dalam kamar Yada tanpa mengetuk pintu. Wanita itu membawa beberapa perlengkapan untuk membersihkan kamar. Yada duduk di atas sofa, memakan buah Apple dan sibuk memainkan ponselnya.


“Apa kau tidak memiliki tangan?” Yada bertanya tanpa menoleh.


Kepala pelayan Lu sedang mencoba mengganti sprei. Menoleh pada Yada yang tiba-tiba bertanya padanya.


“Kau masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk? Di mana sopan santunmu?”


Yada menoleh padanya, menatap malas kepala pelayan Lu yang berdiri di tepi ranjang dengan raut wajah kesal.


“Kepala pelayan Lu?”


“Maafkan saya Nona, saya akan mengetuk pintu terlebih dahulu.”


Dia membungkuk meminta maaf, lalu pergi keluar kamar kemudian masuk kembali setelah mengetuk pintu.


“Sekarang kau mengerti? Kau harus mengetuk pintu kamar seseorang ketika kau masuk ke dalam kamarnya.”


“Apakah kau melakukan hal ini juga di kamar Mami? Masuk tanpa mengetuk pintu?”


Kepala pelayan Lu sangat kesal, kepalan tangannya kuat hingga kuku panjang melukai telapak tangannya. Dia bertanya-tanya kenapa Nona itu begitu kasar kepadanya. Ini bukanlah hal yang biasa.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2