
Happy Reading ....
.
.
.
Yada melihat hamparan laut biru yang luas. Angin malam yang besar menerpa wajah dan rambutnya namun tidak menghilangkan kesan elegan pada dirinya. Wanita itu malah semakin terlihat cantik ketika rambutnya berkibar tertiup angin.
Allard datang membawa dua gelas redwine, dia memberikan satu gelas kepada Yada lalu menyesapnya. Dia mengikuti arah pandang Yada menuju hamparan laut yang luas.
Gelas redwine di genggaman tangan Yada terguncang ketika wanita itu seketika mengenggam ujung gelas dengan kuat. Berada di tengah laut bersama Allard di sisinya membuat Yada mengingat kembali kenangan lama.
“Kamu pasti sedang memikirkannya.” Allard menoleh pada wanita cantik yang tatapannya masih terpaku pada keindahan laut malam. “Lupakan masalalu, focuslah pada masa depanmu.”
Yada hanya terdiam untuk menanggapi perkataan Allard. Dia tidak menoleh sedikitpun meskipun Allard sedang menatapnya.
“Permisi Nyonya dan Tuan.” Seorang pria mendekati mereka, dan suaranya terdengar canggung dan gemetar.
Allard dan Yada langsung berbalik untuk melihatnya. Dia adalah pria yang berada di dalam restoran bersama Marina Lyn.
“Ada apa?” Yada bertanya dengan tatapan intens padanya.
“Aku datang untuk meminta maaf kepada kalian atas perlakuan istriku tadi siang kepada anda, Nyonya,” lugasnya dengan nada segan.
“Tidak perlu diingat lagi, ini hanyalah sebuah kesalah pahaman,” kata Yada.
Pria bernaha Joshua Lyn itu tersenyum kaku. Bagaimana dia tidak mengingatnya, jika Marina telah membuat masalah dengan seseorang yang seharusnya tidak dia ganggu. Jika masalah ini terus berlanjut dan Nyonya Washington dendam kepada mereka, maka mereka akan hancur.
Tatapan Joshua beralih pada Allard yang sedang menatapnya dengan ekspresi dingin. Pria itulah yang sangat ditakuti. Joshua takut jika Allard tidak bisa menerimanya.
Allard mengerti akan tatapan Joshua padanya. Sementara Allard malas berurusan dengan orang yang tidak penting seperti Joshua. Dia langsung berkata, “Tidak masalah. Semuanya telah berlalu.”
Joshua tidak percaya jika pria kejam itu begitu berlapang dada. Dia seolah melihat cahaya ketentraman hidupnya.
“Terimakasih Tuan, terimakasih Nyonya.”
Setelah menjelaskan itu semua, dia pamit undur diri. Joshua pergi ke sisi kapal pesiar untuk menghampiri Marina yang sedang sibuk berbincang dengan para tamu pria. Joshua langsung menarik istrinya pergi dari sana.
“Lihat, aku telah membereskan semuanya untukmu. Jangan membuat kekacauan lagi.” Joshua mengatakan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
__ADS_1
Marina menampilkan ekspresi tidak peduli. “Baguslah. Jadi sekarang keluarga dan bisnis kita aman?”
“Tentu saja. Tapi jika kamu membuat masalah dengannya lagi, maka kita akan tamat! Kau tahu itu?”
Marina berdecak kesal dengan tingkah suaminya. Pria itu begitu ketakutan perusahaannya akan bangkrut. “Itulah sebabnya kamu harus menjadi orang yang lebih berkuasa, agar orang lain tidak mudah menginjakmu,” saran Marina yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Joshua.
“Sial! Wanita gila ini!”
..............
Yada menyambut kedatangan Rose dan Marteen. Wajah yang tadinya terlihat murung kini ceria kembali. Yada senang melihat Rose meskipun dia baru mengenal wanita itu tadi siang, seperti ada ikatan batin antara dirinya dan Rose.
“Kamu sangat cantik putriku.” Rose memeluk Yada ringat dan mengecup pipinya.
Dia membalas pelukan Rose padanya. “Terimakasih Rose.”
Allard menyambut Marteen dengan jabatn tangan. Kedua pria itu pergi untuk mengobrol, dan membiarkan Yada bersama Rose.
Tatapan Rose pada Yada masih sama seperti awal pertemuan mereka. Rasa kagum dan senang karena berhasil bertemu kembali dengan keponakannya tidak bisa dia sembunyikan. Dia sangat menyayangi Yada.
“Aku mendengar kejadian tadi siang. Apa wajahmu masih sakit?” Telapak tangannya mengelus pipi Yada lembut.
Yada langsung memegang tangan Rose pada wajahnya. “Tidak masalah, aku baik-baik saja, itu hanya sebuah kesalahpahaman.”
“Aku membawakan sesuatu untukmu, apa kamu ingin melihatnya?” tanya Rose. Yada mengangguk samar dan setuju.
Kemudian Rose membawa Yada masuk ke area kabin. Mereka berdua duduk di atas ranjang yang tersedia dan Rose mengeluarkan sesuatu dari dalam laci. Dia meletakannya di pangkuan, dan mulai membuka sampul dari album foto tersebut.
Banyak foto tersusun rapih di sana. Foto seorang bayi kecil dengan kedua orang tuanya, dan juga anak perempuan yang memiliki umur sekitar tiga tahun. Foto-foto itu menampilkan sebuah keluarga yang harmonis.
“Kamu bisa menebaknya, bukan?”
Yada menatap Rose dengan tatapan nanar. Dia mengangguk samar. Yada langsung bisa menebak foto milik siapa yang tertata rapih di dalam album tersebut.
“Ini adalah ibumu, dia sangat cantik,” kata Rose seraya menunjuk foto seorang wanita cantik berpenampilan elegan.
Yada mengenal wanita itu. Dialah yang selalu datang di dalam mimpinya, menyemangati Yada ketika dirinya hampir menyerah. Wanita yang selalu menjadi tanda tanya bagi Yada kini telah terjawab.
Ternyata kamu adalah ibuku.
Rose mengelus puncuk kepala Yada. “Kamu pasti melupakan masalalumu, itu tidak masalah. Tapi beruntunglah kamu mengingat gambar tanda pengenal keluarga Yora.”
__ADS_1
“Tato di punggungmu, keluarga Aurora menghapusnya, bukan?”
Yada menganggum samar. “Meskipun mereka menghapusnya dari tubuhku, tapi aku selalu mengingat tanda itu selama hidupku.”
Rose tersenyum. “Kamu mau melihatnya?”
Rose membalikan tubuhnya, dan perlahan membuka mantel yang menyelimuti tubuhnya. Dia memperlihatkan punggung ratanya yang tidak tertutup oleh dress miliknya. Sebuah tato terukir pada punggung mulusnya, lengkap dengan beberapa luka dalam bekas benda tajam.
Yada meraba tato pada punggung Rose, lalu perlahan jemarinya beralih pada beberapa bekas luka pada punggung wanita itu.
Rose memakai mantelnya kembali dan berbalik menatap Yada, mengenggam telapak tangan wanita cantik itu. “Kamu sudah melihatnya?”
“Ya.” Yada mengangguk. “Itu terlihat sama.”
Yada memeluk Rose dengan tiba-tiba, membuat wanita itu terhenyak. Ketika melihat beberapa luka milik Rose, Yada bisa merasakan betapa susah dan menyedihkannya berjalan di kehidupan yang gelap.
“Bolehkah aku memiliki tato yang sama sepertimu?”
“Tentu saja sayang, kamu berhak memilikinya, sangat berhak.”
Pelukan mereka terlepas, menatap dan saling tersenyum. Rose meminta Yada untuk melihat kembali album foto miliknya, dan jemari lentik Yada langsung membalikan lembar demi lembar album foto tersebut.
Air matanya mengenang di pelupuk mata dan hampir menetes. Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia bisa melihat kenangan masalalunya. Hal yang tidak bisa dia lihat di keluarga Aurora.
Foto keluarga beranggotakan empat orang. Yada menunjuk seorang gadis kecil di sana. “Dia, siapa dia?”
Rose terdiam sejenak. Dia mengetahui jika hubungan Yada dengan kakaknya kurang baik. Ada kesalahpahaman di antara mereka berdua. Tapi cepat atau lambat dia akan mengetahui kebenarannya juga.
“Dia adalah kakakmu.”
“Kakak? Di mana dia sekarang?”
Jantung Yada berdegup tidak karuan. Rasa senang dan kaget bercampur menjadi satu. Ternyata dia memiliki saudara kandung.
“Rose, di mana dia sekarang?”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....