Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Hospital


__ADS_3

Sudah hampir dua minggu Yada berada di rumah sakit. Kondisinya mengalami penurunan setelah kesadarannya beberapa hari yang lalu. Tubuhnya demam tinggi, dan Yada tidak kunjung sadarkan diri. Dia mengalami syok hebat.


Selama bonekannya berada dalam perawatan, Allard sendiri justru sibuk mengurus hal perusahaan dan juga rencana balas dendamnya kepada keluarga Aurora. Satu jari manis palsu yang Yoland janjikan menggunakan DNA milik Yada kini sudah dikirim kepada klan Aurora. Allard tidak sabar menunggu bagaimana mereka akan bereaksi.


David terkejut setelah membaca hasil tes DNA sebuah jari manis yang diduga milik Yada. Kini bukan dugaan lagi, karena memang DNA pada jari tersebut adalah DNA milik Yada. David kalut, pergi menuju tempat Barrack dan Margareth berada.


Dia melemparkan satu lembar kertas dan sebuah kotak ke atas meja dengan kasar, membuat jari manis itu keluar dan jatuh tepat di hadapan Margareth.


“What's wrong with you, David?” pekik Margareth.


“Kau lihat! Jari siapa itu!” pekik David tidak kalah hebat.


Barrack membacanya satu lembar kertas yang tak lain merupakan hasil tes DNA jari manis tersebut, kemudian sesaat dia menatap ke arah Margareth.


“Aku akan membawa seluruh klan untuk menyerang Allard Washington!”


“DAMN!” Barrack memukul meja kayu itu kuat-kuat. “Jangan gegabah!” ucapnya dengan nada bergetar menahan amarah.


“Aku tidak peduli! Aku hanya menginginkan Yada kembali!”


David berbalik pergi, sebelum langkahnya terhenti oleh ucapan dingin yang dilontarkan oleh Margareth.


“Yada bukan adikmu, kau tidak perlu menyelamatkannya.”


David kembali berbalik dan menatap Margareth tajam. “Dia anggota keluarga Aurora!”


“Tidak! Dia hanya anak pembawa sial! Apa kau tahu identitasnya yang sebenarnya?” tanya Margareth.


“Margareth,” panggil Barrack. “Hentikan.”


“Tidak! Aku akan menjelaskan semua padanya hari ini!” bantah Margareth.


“Berhenti dan keluar!” bentak Barrack.

__ADS_1


Margareth tertegun dengan bentakan suaminya, dia tidak terima dan memilih keluar dari ruangan itu. Sementara David hanya memperhatikan kepergian Margareth.


“Jangan gegabah David, pikirkanlah baik-baik cara untuk menyelamatkannya. Jangan sampai seluruh klan hancur hanya karena sikap keras kepalamu,” kata Barrack sedikit melunakan nada bicaranya.


David terdiam dengan emosi yang teredam di dalam hati.


Allard berada di dalam privateroom club malam, seperti biasa dia akan menemui Darren jika pergi ke sana. Kali ini, Yoland ikut bergabung bersama mereka.


“David Aurora datang berkunjung beberapa hari yang lalu,” ucap Darren. “Dia ingin membuat janji temu denganku.”


Allard menghisap batang nikotin miliknya.


“Dia datang mencarimu,” imbuh Darren.


Allard menatapnya tajam. “Buatlah janji temu, kau harus menemuinya.”


“Baik.”


“Kondisi wanita itu sudah lebih baik, kapan kau akan membawanya?” tanya Yoland.


Yoland dan Darren saling bertatapan. Membawa Yada ke area ramai, bisa saja hal itu diketahui oleh klan Aurora. Dan itu bisa menjadi hal yang merugikan terlebih lagi jika terjadi kekacauan di dalam club malam. Tapi, tidak ada yang bisa menolak perintah dari Allard.


Yoland segera meminta orang di rumah sakitnya untuk menjaga Yada, membantunya bersiap dan segera diantar ke club malam seperti yang Allard perintahkan.


Sementara Yada masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan pergelangan tangan dan kakinya terikat tali pada sisi ranjang. Dia tidak bisa bergerak ke mana pun.


Pintu ruang rawat terbuka, dan Yada tidak peduli siapa yang datang kali ini. Tatapannya kosong ke arah langit-langit ruangan.


Dua orang perawat wanita datang dan membukakan ikatan pada lengan dan kaki Yada, meminta Yada untuk bangun namun Yada hanya bergeming menghiraukan.


“Nona, tuan memintamu untuk bersiap.”


Yada melirik ke arah samping, sebuah paperbag terletak di atas meja. Mungkin malam ini seseorang akan membawanya kembali ke kediaman Allard.

__ADS_1


Dia bangun dan turun dari ranjang, meraih paperbag yang tentu saja ada sebuah gaun merah darah di dalamnya. Langkahnya yang goyah menuntun Yada masuk ke dalam kamar mandi.


“Jangan ikuti aku,” pinta Yada pada dua orang perawat.


Rasa sesak di dadanya masih terasa dengan bagaimana cara Allard melemparkannya ke tengah laut malam itu. Air laut yang dingin dan suasana yang sangat gelap, mengingat kejadian itu membuat Yada tidak bisa bernafas bebas.


Yada mulai membersihkan tubuhnya, memakai gaun merah dan sebuah topi yang telah Allard siapkan.


Jarak tempuh umah sakit menuju club malam tidak terlalu jauh, hanya memerlukan waktu lima belas menit dan Yada sudah sampai pada tujuan. Wanita cantik itu langsung diarahkan masuk ke dalam sebuah privateroom.


Yada masuk ke dalam, tatapan dari tiga pria tampan langsung menyorot ke arahnya. Allard meraih jemari lentik Yada, menuntun Yada agar duduk tepat di pangkuannya.


“Kau sangat cantik malam ini," puji Allard.


Yada menatapnya dengan kosong. Setelah melemparnya ke tangah laut, apakah kata-kata manis yang dikeluarkan Allard akan membuat Yada terpana? Itu sama saja dengan memuakan.


“Lihatlah beberapa informasi mengenai keluargamu, Yada.” Allard menunjuk beberapa dokumen di atas meja.


“Lihat bagaimana perjuangan David Aurora untuk mencarimu. Sejauh ini, hanya dia yang berani bertindak. Klan Aurora milik kalian masih saja bersembunyi, terutama Barrack Aurora, dia tidak melakukan apapun.”


Yada berkedip tidak peduli, dia bahkan tidak melirik sedikitpun berkas-berkas di atas meja. Apapun yang Allard katakan, tidak akan membuatnya terguncang.


Allard melirik ke arah Yoland, membuktikan bagaimana wanita itu bersikap sesuai dengan perkataannya kemarin. Yada selalu bersikap tenang. Maka dari itu sikapnya satu minggu yang lalu di dalam ruang rawat benar-benar di luar dugaan.


“Bagaimana jika kau menerima sebuah hadiah dariku?” Allard tersenyum, mengambil sebuah kotak lalu memberikannya kepada Yada. “Terimalah.”


Tanpa berkata apapun, Yada menerima hadiah tersebut dan membukanya. Sebuah cincin bermanik batu Rubi berwarna merah. Yada tercengang melihatnya karena tiba-tiba dia teringat pada acara lelang delapan tahun yang lalu.


Tahun itu usia Yada masih berusia delapan belas tahun. Dia masih menjadi remaja labil. Siksaan keras dan kekangan yang diberikan oleh Barrack dan Margareth membuatnya muak. Yada menjual cincin hadiah yang diberikan David pada ulang tahunnya yang ke tujuh belas untuk menghasilkan uang dan berencana kabur dari keluarga Aurora. Tapi semua rencananya gagal ketika Margareth memergokinya pada acara lelang tersebut. Karena sampai kapanpun dia tidak akan pernah bisa keluar dari klan Aurora.


Sebuah cincin dengan batu Rubi yang berharga merupakan barang turun-temurun keluarga Aurora kepada anak cucu mereka. Seharusnya David memberikan itu kepada calon istrinya kelak, namun Yada sang adik malah memilikinya.


Cincin tersebut telah hilang delapan tahun yang lalu, sekeras apapun Yada mencari dia tidak bisa menemukannya. Tapi hari ini, pria yang habis-habisan menyiksanya justru memiliki cincin tersebut.

__ADS_1


Delapan tahun berlalu dan ternyata Allard sudah berada di sekitarnya ....


Bersambung ....


__ADS_2