Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Sifat


__ADS_3

Happy Reading ....


Allard dan Yada sedang menikmati makan malam bersama. Suasana hening, hanya suara dentingan dari alat makan yang sesekali terdengar.


“Datang ke ruang baca setelah makan,” perintah Allard yang seketika menghentikan acara makan Yada.


Yada melanjutkan makannya kembali, dia tidak menjawab kalimat yang Allard ucapkan. Sementara Allard lebih cepat menyelesaikan acara makannya, pria itu pergi keluar dari ruang makan.


Yada melepaskan alat makannya, termenung sejenak memikirkan cara agar dia tidak perlu datang ke ruang baca. Yada yakin, jika dia datang maka Allard akan mempermainkannya kembali.


Dia menatap higheels tinggi yang dikenakannya. Tak lama kemudian wanita cantik itu juga beranjak dari kursi dan keluar dari meja makan. Dia berjalan, hendak pergi ke ruang baca. Namun seketika langkahnya goyah, dan kaki kanannya terkilir.


“Uh!” lenguh Yada terjatuh.


“Nona, apa kau baik-baik saja?” tanya seorang pelayan memastikan.


“Kakiku-”


Yada dibawa kembali ke dalam kamarnya dibantu oleh beberapa pelayan. Hal ini segera Allard ketahui. Pria yang tengah menunggunya di dalam ruang baca itu mendadak harus pergi menemui Yada di dalam kamarnya.


Allard menatapnya dengan wajah datar. “Apa yang terjadi? Beberapa menit saja kita terpisah, kau sudah terluka seperti itu?”


Yada duduk di atas ranjang sembari meluruskan kedua kakinya. “Aku tidak tahu.”


“Aku tidak sempat melukaimu, dan kau malah melukai dirimu sendiri?”


Yada terdiam tidak peduli. Allard menatapnya dengan kesal. Kemudian pria itu pergi keluar ruangan meninggalkan Yada seorang diri. Tidak masalah jika merasa sakit, yang penting Yada tidak bersama Allard malam ini.


 


Allard pergi ke sebuah tempat di pinggiran kota. Ada sebuah Villa mewah luxury di sana. Ketika mobilnya baru saja diparkirkan, seorang wanita cantik sudah menunggunya di depan pintu dengan wajah tersenyum.


“Akhirnya kau datang,” ucap wanita tersebut.


“Ya.”


“Aku merindukanmu.” Dia memeluk Allard ringan.


Allard masuk ke dalam Villa. Menarik wanita cantik itu masuk ke dalam kamar dan langsung menghempaskan tubunya ke atas ranjang. Mereka bergelut di atas sana dengan sentuhan-sentuhan seductive.

__ADS_1


Keduanya larut ke dalam gelora api permainan malam ini. Suara hentakan kuat, *******, serta erangan-erangan kenikmatan menyatu di dalam malam yang sunyi itu.


***


Yada mengalami nafsu makan yang kurang, berat tubuhnya hanya mencapai empat puluh lima kilo saja. Dia kehilangan delapan kilo semenjak dirinya disekap oleh Allard. Penampilannya sangat tidak menarik.


Pagi hari sampai sore, wanita cantik itu tidak berhenti merasakan mual di perutnya. Dia harus pergi ke toilet untuk beberapa kali. Tubuhnya bergetar hebat dan menggigil, kepalanya terasa pusing dan pikirannya tidak karuan. Yada terlihat sangat kacau.


Satu minggu lebih Allard tidak kembali dan Yada tidak pernah bertemu dengannya lagi semenjak makan malam itu. Selama itu, Allard juga berhenti memberikannya barang terlarang yang sebelumnya Yada konsumsi setiap hari.


Mati sekalipun, aku tidak akan mencarinya! Pikir Yada.


Wanita itu mulai resah. Dia sudah terbiasa dengan efek dari barang terlarang yang selalu Allard berikan. Dan ketika dirinya berhenti mengkomsumsi secara tiba-tiba, maka efek yang ditimbulkan akan sangat menyiksanya.


Wajah Yada terlihat begitu pucat. Lingakaran hitam di matanya membuat orang akan kehilangan selera untuk menatapnya.


Malam ini hujan sangat lebat, dia berada di depan jendela kamar untuk melihat ke arah luar. Hutan yang rimbun dan gelap, membuatnya tidak bisa melihat apapun selain kegelapan.


Kenapa aku begitu pasrah? Tidak adakah usahaku untuk melarikan diri?


Yada tersenyum simpul menatap kegelapan malam.


Dia melirik ke atas meja, sebuah pisau pengiris buah tergeletak di sana. Yada menghampirinya, mengambil sebilah pisau itu dan mulai memikirkan cara untuk menggunakannya.


Lebih baik mati.


Tiba-tiba saja seorang pelayan masuk ke dalam kamarnya. Yada segera menyembunyikan pisau tersebut ke belakang tubuhnya. Pelaya itu membawakan satu set pakaian yang tentunya harus Yada kenakan.


“Berapa lama kau bekerja di sini?” tanya Yada.


Pelayan tersebut hanya menatapnya, dan tidak menjawab. Yada berjalan mendekatinya, pelayan itu melihat Yada membawa sebilah pisau. Lantas dia bergegas berbalik arah dan keluar dari dalam kamar.


Beberapa orang bodyguard tak lama masuk. Pelayan tersebut telah melaporkannya. Para pria itu dengan sigap menangkap Yada, mengambil pisau tersebut darinya.


Sementara itu di tempat lain, Allard sedang menikmati jamuan makan malam di Villa mewah miliknya. Selama satu minggu lebih, dia akan kembali ke Villa tersebut setelah dia selesai mengerjakan urusan di perusahaan.


Wanita cantik yang beberapa hari lalu menyambutnya di depan pintu yang selama ini selalu mengurusi kebutuhannya.


“Bagaimana makanannya?" tanya wanita tersebut.

__ADS_1


“Selalu mengesankan.”


“Baguslah jika kau menyukainya.”


Mereka berdua sedang menikmati makan malam. Namun tiba-tiba saja ponsel milik Allard bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk. Seketika Allard memberhentikan acara makannya dan menatap wanita cantik itu dengan intens.


“Aku harus pergi,” ucap Allard.


Dengan raut wajah kecewa wanita cantik itu masih menampilkan senyumannya. “Pergilah. Aku akan menunggumu kembali.”


Allard segera pergi dari sana. Dia mengendarai mobilnya dan mulai melaju kencang di tengah jalanan malam dengan rintik hujan halus.


Kabar mengenai tingkah laku Yada sudah diterimanya. Akhirnya Allard kembali ke mansion setelah berhasil merusak mental wanita itu.


Lihat bagaimana sikap angkuhmu nanti, apa kau masih berani menaikan dagumu setelah kau mencoba untuk mengakhiri hidup?


Allard sengaja meninggalkannya. Membuat Yada tidak merasakan keberadaannya selama beberapa hari. Allard melakukan semua itu karena dia merasa Yada mulai menentangnya. Wanita itu menentang Allard agar menyakitinya dengan bersikap sombong seolah tidak takut apapun.


Meskipun Allard tidak menyakitinya secara fisik. Tapi lihat bagaimana Allard telah merusak mentalnya dari dalam. Wanita itu kini sudah bertingkah seperti orang gila yang tidak bisa meninggalkan barang terlarang yang selalu dikomsumsinya setiap hari. Ini akan menyenangkan untuk mengusik David Aurora.


***


David memiliki beberapa informasi mengenai Yada dari Barrack Aurora. Satu bulan dia disibukan dengan urusan di negara lain karena kabarnya Yada berada di sana. Tapi usahanya selalu nihil, David mulai merasa jika dia telah dibodohi.


“O ****!”


David kesal, selama ini dia malah lebih disibukan dengan urusan di dalam klan dibandingkan harus mencari keberadaan Yada. Dia terjebak dengan omongan bohong dari Barrack dan Margareth.


“Siapkan tiket segera! Aku akan kembali!”


“Tuan, tapi beberapa jadwalmu untuk dua bulan ke depan telah ditetapkan.”


“Batalkan semua itu!” pekik David kesal.


“Kau harus menemui beberapa orang penting.”


“DAMN IT!”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2