Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*HARUS TERBIASA


__ADS_3

Happy Reading ....


.


.


.


Yada berdiri mematung di sisi ranjang. Tatapannya tertuju pada Allard yang dengan tenang berbaring di atas ranjang miliknya. Padahal apartement itu terdiri dari tiga kamar. Tapi kenapa Allard malah memilih berbaring diranjangnya. Yada tidak ingin meladeninya, dia berbalik dan hendak pergi.


“Tidur bersamaku malam ini.”


Suara bariton pria itu membuat Yada terlonjak kaget. Dia baru beberapa langkah menuju pintu kamar, dan pria itu dengan sangat cepat menghentikan langkahnya.


“Kenapa aku harus tidur bersama denganmu?”


“Karena kau istriku.”


“Kita belum menikah!” Yada menegaskan.


“Kita akan segera menikah! Tidur bersamaku malam ini dan mulailah terbiasa.”


Jika saja dia memiliki kekuatan untuk melawan pria itu, Yada akan meminta orang bertubuh lebih besar dari Allard untuk melemparkan pria itu ke dalam lautan dalam. Pria itu selalu bersikap semena-mena, tidak ada yang berubah darinya bahkan setelah penyesalannya beberapa hari yang lalu.


Tapi apa yang dikatakan oleh pria itu ada benarnya juga. Yada akan menikah dengannya, dan mau tidak mau dia harus terbiasa bersama dengan pria itu. Walaupun Yada sangat membencinya, namun dia akan menjadi nyonya besar Washington dan mengurus kebutuhan pria itu. Inilah jalan yang harus dihadapinya untuk sampai pada aksi balas dendamnya.


Tanpa rasa ragu berlebihan, Yada mulai naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Allard. Tatapan mata Allard tertuju pada Yada yang berbaring di sampingnya dan memunggunginya.


Penurut.


***


Yada mengusak wajahnya dan membuka mata. Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Perlahan tangannya bergerak membuka selimut yang menutupi badannya. Diam-diam dia turun dari ranjang. Yada tidak ingin membangunkan Allard yang sedang tertidur di sisinya.


“Perlukah kau bertingkah seperti itu?”


Ucapan Allard membuat Yada terkesiap. Dia langsung menoleh ke arah sumber suara. Pria itu sudah rapih dengan stelan kerjanya. Dia sedang duduk di sofa tunggal dengan sebuah MacBook di pangkuannya, membaca beberapa email pekerjaan yang masuk.

__ADS_1


“Kau sudah bangun?” Yada menegakan tubuhnya dan merapikan rambutnya yang kusut.


“Kau tertidur sangat pulas. Aku pikir kau tidak akan bisa tidur karena berada satu ranjang bersamaku.” Allard mencemooh.


Yada berdecak malas mendengar Allard yang mencemoohnya. Tapi yang dikatakan pria itu ada benarnya juga. Yada pun berpikir demikian sebelumnya. Dia kira karena berada di satu ranjang bersama Allard, dia tidak akan bisa tertidur. Tapi siapa sangka jika tidurnya sangat pulas sehingga Yada tidak menyadari jika Allard bangun terlebiha dahulu.


Pria itu menutup MacBook ya dan menatap Yada yang sedang merenung dengan intens. Allard menatap di setiap inci tubuh wanita cantik itu. Tubuh kurusnya kini terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Wajahnya juga sudah kembali bersinar dan segar. Dia lebih baik dari sebelumnya.


“Buatkan aku sarapan.” Allard beranjak dari duduknya, berdiri dan memakai jam tangannya.


“Apa yang ingin kau makan?”


Tidak ada jawaban langsung dari Allard. Pria itu hanya menatap Yada dengan intens seraya terus melangkah ke arahnya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Yada, wanita itu segera melangkah mundur untuk menghindarinya, namun lengan kekar Allard lebih cepat menahan punggung Yada.


Allard mendekatkan wajahnya pada Yada semakin dekat, lalu pria itu berbisik, “American breakfast.” Dia tersenyum kemudian melangkah keluar dari dalam kamar. Meninggalkan Yada seorang diri dengan jantung yang berdegup kencang.


Dia sedang mempermainkan ku?


***


Yada menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk mandi. Dia turun ke bawah dan pergi menuju dapur untuk membuat sarapan. Yada tidak bisa pergi memasak jika tubuhnya sendiri masih kotor. Itu akan mempengaruhi makanan yang dia buat.


Yada berjalan mendekati Allard yang sudah siap memasak. Pria itu bahkan mencuci semua pelaratan yang dia gunakan. Allard sedang membuka apron yang dia kenakan ketika Yada berdiri tepat di belakangnya.


“Aku hanya mandi beberapa menit, lalu aku akan membuatkan sarapan untukmu. Kenapa kau repot-repot membuatnya sendiri?”


Allard menatapnya intens. Dia sedang mengutuk dalam hati ketika Yada mengatakan jika dia mandi hanya beberapa menit saja. Padahal wanita itu menghabiskan semua waktunya hanya untuk di kamar mandi. Allard bahkan menghabiskan semua bacaan email-nya ketika menunggu wanita itu.


“Duduklah dan makan sarapanmu.”


Yada hanya mengangguk pasrah, berharap pria itu tidak marah dan menghukumnya lagi di ruang bawah tanah. Hal yang selalu Yada khawatirkan adalah Allard kembali menjadi Allard di masalalu.


Keduanya duduk dan memakan sarapan mereka bersama. Suasana hening dan begitu mencekam bagi Yada. Meskipun dia mencoba menyesuaikan diri, tapi bayang-bayang kekejaman Allard selalu menghantui pikirannya.


“Menurutmu, apa yang akan David lakukan jika dia mengetahui rencana pernikahan kita?” tanya Allard tiba-tiba. Dia masih focus mengunyah makanannya.


Yada menghentikan acara makannya. “Aku tidak tahu, tapi yang jelas dia akan marah besar.”

__ADS_1


“Kenapa dia begitu peduli padamu, sedangkan dia tahu kau bukanlah adik kandungnya?”


“Kita tumbuh dalam satu rumah, dan David tidak memiliki adik selain diriku. Mungkin itu sebabnya dia sangat peduli padaku.”


“Dia menyukaimu?”


Yada terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menjawab, “Ya, dia selalu mengatakan jika dia menyukaiku. Dia mengatakannya sejak kami masih kanak-kanak.”


Allard berdecih malas mendengarkan keharmonisan di antara kakak beradik palsu itu. Tiba-tiba moodnya untuk sarapan hilang.


Allard meletakan alat makannya dan meminum jus yang dia buat. Dia berdiri membawa piring miliknya dan piring makanan Yada. Wanita itu hanya bingung melihat Allard menyimpan dua piring itu ke dalam tempat pencuci piring. Padahal dia belum selesai memakan sarapannya.


“Kenapa kau-”


“Bersiaplah, aku akan membawamu pergi untuk memilih barang untuk pernikahan kita.”


“Kau tidak sibuk?”


“Tidak.”


***


Allard membawanya pada sebuah butik yang cukup terkenal. Butik itu pernah menyiapkan acara pernikahan beberapa artis dan pejabat negara. Semua perlengkapan pernikahan mereka sediakan termasuk gaun, cincin, dan makanan.


Wanita cantik itu sedang melihat-lihat isi katalog. Allard memintanya memilih tempat untuk acara pernikahan mereka nanti. Yada malas. Bukankah tempat untuk menikah sudah Laura pilihkan, dan Yada juga menyetujuinya? Kenapa Allard malah memintanya melakukan hal yang sama berulang kali?


Allard duduk di samping Yada. Memperhatikan wanita itu dengan tatapan intens. Yada hanya membolak-balikan katalog itu, dan terlihat tidak menyukai satu tempatpun.


Gerakan lengan Allard cepat mengambil katalog dari tangan Yada dan melemparkannya ke atas meja.


“Sam! Apakah kau tidak memiliki tempat lain selain yang berada di dalam buku bodoh ini? Calon istriku tidak menyukainya!”


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2