
Happy Reading ....
.
.
.
Waktu Rose untuk bertemu Yada telah habis. Raut wajahnya menyimpan kekecewaan karena dia tidak bisa memiliki banyak waktu bersama keponakannya. Dia memiliki beberapa hal penting yang harus dikatakan. Tapi Allard membatasi waktu dan perkataanya. Ini semua untuk keamanan Yada.
Meskipun harus kembali berpisah, setidaknya dia tahu jika keponakannya itu akan baik-baik saja sekarang. Rose akan memiliki banyak waktu dengannya nanti di masa depan. Ketika semua hal rumit yang sedang terjadi terselesaikan.
Dia memeluk Yada dengan hangat, lalu berbisik kecil padanya, “Jaga dirimu, jangan memberikan seluruh hidupmu untuknya.”
Yada mengangguk samar untuk mengiyakan. Dia melepaskan pelukan bibinya perlahan. Wajah wanita itu terlihat sedih seolah enggan berpisah dengannya. Tapi Marteen membisikan sesuatu padanya, yang akhirnya membuat Rose bersedia untuk pergi.
Setelah rose dan Marteen pergi, seorang wanita yang duduk di sebelah meja mereka juga ikut pergi. Allard menatap kepergian wanita itu, sementara Yada tidak menyadarinya.
Kemudian restoran resort kembali dibuka untuk umum. Beberapa turis asing yang berlibur, dan juga para pengantin baru yang sedang berbulan madu langsung menempati tempat duduk yang kosong. Suasana restoran menjadi ramai sekali.
Allard memanggil seorang pelayan dan memesan makan siang ala Eropa. Tidak lama pesanan mereka sampai, dan keduanya saling menikmati hidangan tersebut.
“Kau suka berkuda?” tanya Allard menatap Yada, dan wanita itu menoleh ke arahnya.
“Tidak. Aku tidak menyukainya.”
“Bagaimana dengan mengendarai mobil sport dengan kecepatan tinggi?”
“Aku tidak pernah mencoba,” jawab Yada singkat dan mengembalikan pandangannya pada makanan.
“Kau akan belajar mulai hari ini,” ucap Allard kemudian menyudahi makan siangnya dengan meminum segelas jus anggur. Pria itu tiba-tiba saja pergi tanpa mengatakan apapun, meninggalkan Yada sendirian di sana.
Yada terdiam sembari memandangi makanannya, tangannya terus menyuapkan makanan ke dalam mulut dan tidak ingin memperhatikan kemana perginya langkah pria itu. Meskipun Allard tidak ada di sampingnya bersama Yada, tetapi pria itu meninggalkan beberapa orang penjaga bertubuh tegap untuknya. Mereka berdiri di sisi taman.
Tatapannya menatap sekitar, restauran itu sangat ramai dan beberapa orang berbincang. Sekilas Yada melirik beberapa orang tegap di sisi taman yang sedang menatap tajam ke arahnya. Para penjaga itu seolah tidak berkedip ketika menatap Yada.
“Kenapa kau selalu menatapnya? Apakah dia selingkuhan yang kau bawa kesini?”
“Apa yang kau katakan? Diamlah!”
__ADS_1
“Kau membelanya? Siapa dia katakan!”
Terdengar suara gaduh di meja depan. Seorang wanita dan pria terlihat sedang memperdebatkan sesuatu. Beberapa orang menatap mereka akibat kegaduhan yang mereka buat.
Tiba-tiba wanita itu mendekati meja Yada. Yada memandang wanita yang sedang marah itu dengan wajah datar. Seketika tamparan keras mendarat pada pipi Yada, membuat kulit putihnya langsung memerah.
“Beraninya kau menggoda suamiku!”
Beberapa penjaga langsung menghadang wanita itu sembari mengeluarkan pistol dari saku mereka. Semua pengunjung menjerit histeris melihat kegaduhan itu dan berebutan untuk lari keluar.
Wanita yang menampar Yada tadi langsung ditarik oleh suaminya. Wajah kedua orang itu langsung pucat ketika melihat beberapa pria bertubuh tegap dihadapannya yang sedang memegang senjata api.
Yada berdiri dan menyugar rambutnya ke belakang. Pipinya yang memerah membuat para penjaga itu merasa sangat marah pada wanita yang menamparnya. Mereka semakin maju dan ingin menarik wanita tersebut, namun dengan cepat Yada menghentikannya.
“Tunggu.” Yada menghentikan aksi mereka, dan meminta mereka untuk mundur. “Biarkan mereka pergi,” kata Yada seraya memandangi wanita tersebut.
“Tapi, Nyonya?”
“Tidak masalah, ini hanyalah sebuah salah paham.”
Wanita cantik itu memberikan ekspresi datar kepada wanita yang sudah menamparnya, kemudian dia melangkah pergi dari sana dan diikuti oleh beberapa pengawalnya. Para pengawal itu hanya mengikuti langkah nyonya mereka, tanpa mempertanyakan lebih lanjut kenapa dia tidak membalas perbuatan wanita itu kepadanya.
“Kamu, bukannya kamu menyadari kesalahanmu, tapi kamu malah semakin bertingkah seperti itu. Kamu gila!”
“Cih! Lihat saja jika aku melihat mu menatap wanita itu lagi, aku akan mencekikmu!”
****
Allard memiliki janji temu dengan Zinth. Wanita yang tadi mendengarkan perbincangannya dengan Rose dan Marteen. Wanita itu sengaja datang untuk melihat Allard dan Yada, juga menyaksikan reaksi Rose ketika melihat keponakannya lagi setelah beberapa tahun. Tidak menyangka jika bibinya itu langsung percaya jika itu adalah keponakannya.
“Kenapa kalian langsung mempercayai wanita itu? Apakah kalian yakin jika itu benar-benar Samantha?” tanya Zinth dengan nada suara kesal dan memprotes.
“Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri Zinth, dan aku sangat yakin jika dia adalah Samantha.” Rose menjelaskan dengan nada menekan.
Zinth berdecih, ekspresinya menunjukan ketidaksetujuan. Dia masih belum yakin jika wanita itu adalah Samantha, adiknya. Bisa saja Allard menipu mereka karena dia telah jatuh hati kepada wanita Aurora itu.
“Aku akan membawanya pergi setelah urusan ini berakhir,” kata Rose.
“Kita akan membuat kesepakatan ini,” kata Allard menyetujui.
__ADS_1
Zinth memandangnya dengan wajah heran. Pria itu sama sekali tidak menunjukan ekspresinya sedikitpun ketika Rose mengatakan akan membawa Yada pergi. Mungkinkah benar jika wanita itu hanyalah alat untuk balas dendamnya.
Allard melihat sebuah video CCTV menunjukan kegaduhan di dalam restoran. Dia langsung pergi keluar dari ruangan itu. Meninggalkan tiga orang anggota keluarga yang sedang berdebat.
........
Allard membuka pintu kamar dan melihat Yada yang sedang berdiri memandang ke arah jendela. Dia belrjalan mendekatinya dan menyentuh bahu Yada.
Yada hanya terdiam tidak merespon apapun.
“Kenapa kau tidak membalas perbuatan wanita itu?”
Tanpa menoleh dia balik bertanya, “Untuk apa aku membalasnya?”
“Bukankah harga dirimu terluka karena perlakuannya?”
“Tidak masalah. Itu hanya sebuah salah paham.”
Allard tahu jika sikap toleransi Yada begitu besar. Tapi merelakan perlakuan buruk dan tidak adil seseorang bukanlah sikap baik untuk seorang anggota mafia. Dia bukan malaikat.
“Haruskah aku menghukumnya untukmu? Kau bisa melihat bagaimana cara kami menghukum seorang yang bersalah.”
Akhirnya Yada menoleh dan menatap Allard dengan ekspresi yang datar dan tenang. Wajahnya dingin dan tidak menampilkan ekspresi ketakutan seperti sebelumnya.
“Bukankah aku sudah sering melihat cara kalian menghukum seseorang? Aku bahkan sudah sangat hafal dengan semuanya,” ungkap Yada kemudian dia mengembalikan pandangannya kembali pada luar jendela.
Dia menunjukan sikap keras kepalanya lagi seperti pertama kali Allard melihatnya. Dia tidak melakukan perlawanan langsung, namun dengan sikapnya dia bisa membuat seseorang merasa kalah, dan melihat Yada yang begitu menakutkan dengan ekspresi diamnya.
Membalas perbuatan wanita itu tidaklah penting. Karena kejadian itu, orang-orang di sana tahu siapa Yada sebenarnya. Dia adalah nyonya Washington, seorang istri dari bos mafia terkenal.
Dia akan memakai kekuasaan Allard, untuk membentuk nama baiknya.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1