
Happy Reading ....
Titik emosional tertinggi seseorang adalah diam, begitu pula dengan Yada. Beberapa minggu terakhir ini wanita cantik itu hanya diam dan tidak pernah mengatakan sepatah katapun, bahkan dia juga akan terdiam bagaimana pun cara Allard melecehkannya. Seperti sebuah boneka yang hanya dapat dikendalikan oleh tuannya.
Aku tidak peduli lagi, hidup dan matiku kini terasa sama.
Sering kali Allard menyiksanya, melecehkannya, dan juga berkata-kata kasar. Entah apa yang harus Yada lakukan, yang pasti itu takan berguna bagi dirinya. Lebih baik dia diam.
Malam ini di meja makan, Yada sudah cantik dengan gaun merah yang dia pakai dan Allard duduk tepat di sampingnya. Pria itu menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam kepadanya. Kemudian, seorang pelayan membuka kotak kecil tersebut.
Satu lagi koleksi perhiasan yang dia dapat dari Allard, sudah dipastikan jika kalung tersebut merupakan hasil dari peluncuran produk yang dibuat oleh perusahaan yang sudah lama sekali Yada tinggalkan.
“Apa kau merindukan perusahaanmu? Duduk di kursi CEO?” tanya Allard.
Yada hanya terdiam dan memandang kalung tersebut. Dia ingat desain ini. Sebuah kalung yang dia desain sendiri dengan arti yang melambangkan kegelapan. Ini adalah desain saat usianya menginjak delapan belas tahun, ketika itu Yada gagal melarikan diri dari cengkraman klan Aurora.
“Tema yang menarik,” ucap Allard. “Tidak menyangka jika seorang wanita yang hidup dengan begitu senang di dalam sebuah keluarga kaya dapat menggambarkan sisi gelap dari sebuah kehidupan.”
Yada menaikan pandangannya, menatap datar wajah Allard. “Karena kegelapan adalah sisi lain dari kehidupanku yang sebenarnya,” kata Yada.
“Kegelapan karena hidup di antara orang-orang kejam penuh dendam sepertimu,” imbuh Yada kemudian kembali terdiam.
Allard menatapnya tajam. Setahu Allard, orang yang dimaksud Yada dan dia temui hanyalah Allard seorang. Apakah ada orang lain juga dibalik perkataannya?
“Apa maksudmu?” Allard heran.
“Kau tidak pernah mencerna ucapanku dengan baik, Tuan. Abaikan saja.”
“Aku sudah selesai dengan makan malamku.”
Yada meletakan alat makan ke samping piring, dan duduk diam dengan tatapan kosong lagi. Dia tidak akan bisa beranjak pergi sebelum Allard mengijinkannya. Sementara Allard, hanya terus menatapnya dengan rasa heran.
Apa yang dimaksudnya?
Malam ini, Darren meminta untuk bertemu dengan Allard. Karena pria itu mengatakan ada sesuatu hal penting yang harus dia beritahu kepada Allard mengenai klan Aurora.
Allard pergi untuk menemui Darren dan Yoland di dalam club malam. Sebenarnya dia hampir kehilangan cara untuk memeras klan Aurora. Menyekap Yada bukanlah hal yang berguna lagi. Buktinya klan Aurora sama sekali tidak bertindak, mereka juga mengabaikan ancaman-ancaman yang Allard berikan.
“Di masa lalu, beredar rumor jika Margareth Aurora memiliki suatu penyakit yang mengharuskannya menjalani operasi,” kata Darren.
__ADS_1
“Ooforektomi,” imbuh Darren.
“Pengangkatan indung telur?” sambar Yoland.
“Ya! Dia mengangkatnya di bagian kiri dan kanan.”
“Kapan itu terjadi?” tanya Yoland.
“Dua puluh delapan tahun yang lalu.”
Yoland terhenyak, begitu pula dengan Allard. Ketiganya sama-sama bingung dengan kabar yang didapati oleh Darren. Pasalnya, Yada Aurora tahun ini baru saja menginjak usia dua puluh enam tahun, dan bagaimana mungkin Margareth melakukan operasi Ooforektomi. Sementara semua orang tahu, jika wanita yang menjalani oprasi tersebut tidak akan bisa memiliki anak kembali.
“Cacatan akta kelahiran Yada Aurora juga tidak bisa ditemukan,” ucap Darren.
“Apakah Yada Aurora bukanlah putri mereka?” imbuhnya.
Sementara Allard hanya terdiam dan tidak mengeluarkan spekulasi apapun. Pikirannya bergelut dengan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh kedua rekannya.
Kau harus ingat, menyanderaku tidak akan memberikan keuntungan apapun untukmu.
Kau tidak pernah mencerna ucapanku dengan baik, Tuan. Abaikan saja.
Tiba-tiba Yoland mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah hasil rontgen dari Yada Aurora. Yoland menjelaskan hasilnya.
“Dia mengalami retak pada bagian sisi kiri tulangnya, dan ini bisa saja disebabkan oleh pukulan keras. Dan lagi, luka ini dimilikinya selama kurang lebih dua tahun.”
“Kapan kau mulai menyelidikinya?” tanya Darren.
“Selalu ada hal yang mengganjal tentang wanita itu. Dia juga memiliki beberapa bekas luka lama dibagian punggungnya. Jadi aku mulai menyelidikinya.”
Allard semakin memikirkan sikap keras kepala Yada sebelumnya. Bagaimana cara wanita itu berbicara dengan meremehkannya bahwasanya Allard tidak akan diuntungkan dengan menyekapnya.
“Apa mungkin klan Aurora menyiksanya? Yada Aurora bukanlah bagian dari klan? Itulah alasan mereka tidak bertindak sama sekali?” Darren bertanya-tanya.
Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Yada Aurora. Allard yang mendengar semua hal itu langsung pergi keluar dari privateroom club malam untuk kembali ke mansionnya.
Sementara Darren dan Yoland masih berbincang bersama di sana, memikirkan tentang kemungkinan terbesar jika Yada memanglah bukan bagian dari klan Aurora.
Di dalam kamar, Yada sedang memandang keluar jendela. Suasana malam disertai hutan rimbun yang gelap, dia menggambarkan jika seperti itulah kehidupannya saat ini. Namun bedanya, hutan itu terlihat lebih tenang dibandingkan dengannya.
__ADS_1
Yada berjalan menuju meja riasnya,mengambil sebuah gambar dari dalam laci.
Hanya ini yang aku miliki sebagai jawaban dari hidupku. Tapi aku tidak akan pernah tahu kebenarannya. Batin Yada.
Yada terkejut, ketika tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu kuat-kuat. Refleks dia menolehkan wajahnya, melihat Allard yang tergesa berjalan menghampirinya.
Allard mencengkram bahunya dan membalikan tubuh Yada, merobek gaun malam yang dikenakan oleh wanita cantik itu. Seketika Allard terdiam, melihat beberapa bekas luka pada punggung Yada.
“Sejak kapan kau memiliki bekas luka ini?” tanya Allard.
Yada menyingkirkan cengkraman lengan Allard kemudian berbalik. “Kau tidak perlu bertanya.”
“Katakan Yada!” ucap Allard penuh penekanan.
Yada menatapnya. “Bukankah kau tahu jika aku dibesarkan oleh keluarga mafia? Tidak heran jika aku memiliki beberapa bekas luka, bukan?”
Benar yang Yada katakan, Allard bahkan memiliki lebih banyak bekas luka ditubuhnya. Tapi seberapa kejam apapun keluarga mafia, mereka tidak akan membuat tubuh cantik seorang wanita memiliki bekas luka. Tubuh adalah harta paling berharga bagi seorang wanita.
Seketika pandangan Allard tertuju pada atas meja, selembar kertas putih dengan ukiran gambar yang Yada buat. Dia mengenali gambar tersebut. Allard mengabaikan Yada, beralih focus pada gambar tersebut.
“Bagaimana kau membuatnya? Di mana kau melihat gambar ini?”
Yada mengambil paksa selebaran gambar tersebut. “Kau tidak perlu mengetahuinya, Allard!”
“Katakan padaku!”
Tatapan Allard nanar tajam mengarah padanya, wajah memerah dengan rahang yang mengeras, kedua tangannya mencengkram bahu Yada dan mengguncang tubuh wanita cantik itu.
“Katakan!” bentak Allard.
“Aku tidak tahu!”
“Katakan Yada!”
“Aku benar-benar tidak tahu!” pekik Yada frustasi.
Tiba-tiba kepala Yada merasa pusing karena Allard terus menerus menekannya. Dia pingsan dan tidak sadarkan diri.
Bagaimana bisa kau menggambarnya?
Bersambung ....
__ADS_1