
Happy Reading ....
.
.
.
Agar terlihat seperti pasangan lainnya. Allard mengajak Yada pergi berbulan madu. Pengantin baru itu pergi ke sebuah pulau pribadi milik Allard. Pulau indah dengan beberapa villa yang dijadikan sewa untuk beberapa pasangan pengantin baru lainnya. Yada dan Allard adalah pasangan ke tiga yang datang untuk berbulan madu.
Semuanya diluar kendali Yada. Dia menikahi Allard hanya untuk membalaskan dendamnya kepada keluarga Aurora. Tidak menyangka jika pria itu begitu mendalami perannya sebagai suami. Dia terus berkata jika klan lain harus tahu mereka memiliki hubungan yang baik dan harmonis. Karena kini mereka sedang diawasi.
Perjalanan menuju pulau itu cukup memakan waktu. Mereka baru saja sampai setelah menempuh perjalanan selama empat jam. Membuat seluruh tubuh remuk dan pegal.
Pertama kali datang keduanya sudah disambut dengan ramah oleh para pelayan. Terlebih lagi Allard adalah pemilik pulau tersebut. Layanan VVIP disediakan untuknya. Beberapa pelayan tersebut mengantar Yada dan Allard pada kamar mereka.
Allard membuka stelan jasnya. Seharusnya untuk pergi berlibur pria itu mengenakan baju casual. Tapi beberapa jam sebelum berangkat, Allard harus mendatangi sebuat rapat penting di perusahaan. Itulah sebabnya dia memakai pakaian yang sangat rapih.
“Bersiaplah, kita akan pergi makan siang,” kata Allard seraya melepaskan arloji di pergelangan tangannya yang dia pakai sepanjang hari.
“Ya.” Yada mengangguk mengiyakan. Dia membuka koper besar yang mereka bawa. Tapi ketika melihat isi koper wanita cantik itu tercengang. “Di mana bajuku?” tanya Yada yang mendapati koper besarnya telah kosong.
“Semua berada di sana.” Allard menunjuk sebuah ruangan yang tak lain adalah lemari dan ruang ganti.
Wanita cantik itu langsung berjalan menuju tempat yang Allard tunjukan. Dia membuka lemari baju, lalu terdiam untuk beberapa saat. Baju-baju yang terpasang rapih di sana bukanlah miliknya. Jadi, dimana miliknya. Pria itu pasti bertindak dengan sesuka hati.
Tidak ingin memikirkan itu, Yada terus memilih baju yang akan dipakainya. Dia mengambil sebuah dress berwarna putih dengan beberapa aksesoris sebagai pelengkap penampilannya. Sesuai dengan pernyataan Allard, jika penampilan Yada akan dinilai semenjak dia menjadi nyonya Washington.
__ADS_1
Ketika Yada selesai mengganti pakaiannya, dan keluar dari walk in closet, Yada mendapati Allard yang sudah tertidur pulas di atas ranjang. Pria itu masih memakai kemeja hitam dengan kancing yang terbuka di bagian atas.
Yada mengambil ponselnya di atas nakas tepi ranjang. Sorot matanya tertuju pada wajah dingin milik Allard yang sedang tertidur. Keningnya berkerut halus. Yada berpikir, meskipun tertidur pulas, tapi pria itu masih memiliki pikiran untuk dibawa ke alam bawah sadarnya. Wajahnya terlihat tidak tenang, bahkan ketika dia tertidur.
Dia berpikir untuk membiarkan Allard tertidur, dan Yada akan pergi keluar untuk mencari udara segar. Namun belum sempat dirinya melangkah, lengan Allard dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
Yada terkesiap, menatap Allard dengan raut wajah terkejut. Bukankah dia tertidur tadi?
Allard beranjak bangun dari tidurnya dengan lengannya yang masih mengenggam pergelangan tangan Yada. Dia duduk sejenak di tepi ranjang untuk menetralkan mata dan kepalanya yang pusing. Akhir-akhir ini dia kurang beristirahat, dan waktu tidurnya sangat terganggu sehingga dia tidak sadar jika telah tertidur ketika membaca beberapa email masuk di dalam ponselnya.
“Kau terlihat buruk, lebih baik kau beristirahat.”
“Tidak. Kita memiliki janji temu dengan orang penting dan tidak bisa melewatkannya. Aku akan bersiap dalam lima menit. Tunggulah.”
Kemudian Allard pergi menuju kamar ganti untuk mempersiapkan dirinya, sementara Yada menunggu di dalam kamar dan duduk di tepi ranjang. Tidak sengaja dia melihat ponsel Allard yang menyala dan memperlihatkan satu notifikasi pesan.
Dalam waktu beberapa detik layar ponsel itu kembali gelap.
Yada tidak terlalu menghiraukannya. Mungkin di luar sana Allard memiliki banyak wanita. Dia tidak perlu pusing memikirkan itu semua. Meskipun kini statusnya adalah nyonya Washington, tapi Yada juga tidak berhak untuk mengatur kehidupan pribadi pria itu. Dia akan membiarkannya.
............
Pengantin baru itu berjalan beriringan, dan terlihat sangat serasi. Mereka datang pada restoran taman dengan meja yang tersusun rapih lengkap dengan pemandangan pantai dengan pasir putih.
Seorang wanita dan seorang pria sedang duduk menunggu. Allard mengajak Yada untuk menemui kedua orang tersebut. Meminta Yada untuk menyapanya dengan hormat.
Keduanya terlihat muda, mungkin usia mereka berada beberapa tahun di atas Yada. Yada sama sekali tidak mengenal kedua orang tersebut. Tapi yang jelas ekspresi keduanya tampak terkejut ketika melihatnya. Terlebih lagi wanita itu, matanya nanar seolah air matanya akan keluar. Dia terus menatap Yada dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
“Aku sudah menduga, dia pasti menyembunyikannya. Aku tidak percaya aku melihatnya sekarang.” Wanita tersebut mengatakan hal itu kepada pria disampingnya dengan ekspresi senang bercampur sedih.
Wanita cantik bernama Rose itu menyentuh pipi Yada menggunakan telapak tangannya seraya berkata, “Kami mencarimu, kami begitu mengkhawatirkanmu. Akhirnya kami menemukanmu.” Kemudian dia memeluk Yada dengan lembut.
Tatapan dan suara Rose terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Dia terlihat sangat tulus, dan pelukannya memberikan sebuah kehangatan tersendiri bagi Yada. Meskipun Yada masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi dia bisa merasakan jika wanita yang sedang memeluknya kini tidak sedang menipunya.
Rose melepaskan pelukannya pada Yada, dan beralih memeluk suaminya, Marteen. Dia bergumam rendah, namun masih bisa Yada dengar. “Kakak tenang sekarang, aku telah menemukan putrinya.”
Tatapan penuh kebingungan Yada berikan kepada Allard. Pria itu hanya terdiam dan enggan menjelaskan. Dia meminta Yada untuk bertanya langsung kepada dua orang yang masih asing baginya itu.
Rose menyentuh lengan Yada dengan lembut dan sesekali mengusapnya pelan. “Akhirnya aku menemukanmu, ibumu akhirnya bisa pergi dengan tenang.”
“Kami sedikit tidak percaya bahwa kami akan bertemu denganmu lagi. Jadi, siapa namamu sekarang?” tanya Rose.
“Yada Aurora.”
Rose tersenyum canggung, senyumannya tidak sebahagia awal ketika dia mendengar nama belakang Yada yang masih mencantumkan 'Aurora' pada namanya. Tidak seharusnya nama penjahat itu berada di belakang nama keponakannya. Rose Yora adalah adik dari ibu kandung Yada, Maureen Yora. Sama seperti Zinth, belasan tahun dia selalu mencari keberadaan keponakannya itu. Ini adalah amanat sang kakak untuk menjaga para putri tercintanya.
Sementara itu di sisi kanan meja mereka, seorang wanita berpakaian modis lengkap dengan masker wajah duduk sembari terus mendengarkan perbincangan Yada dan Rose. Pandangan wanita itu bertemu dengan tatapan dingin dan tajam milik Allard. Keduanya saling menatap tajam, seolah mereka sedang berbicara satu sama lain melalui tatapan masing-masing.
Yada tidak percaya jika akhirnya dia bertemu dengan keluarga aslinya. Di mulai dari mereka, Yada akan mencari tahu segalanya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ....