
Happy Reading ....
.
.
.
“Nyonya besar, ada yang harus aku bagi tahu kepada Anda.”
“Ada apa?”
Margareth sedang merawat bunga mawar merah di taman. Kepala pelayan Lu bersimpuh di hadapannya seperti seekor anjing yang sedang menjilat majikannya. Dia siap mengadukan semua hal yang terjadi kemarin. Dia mengeluh dengan pekerjaannya, tidak seharusnya pangkatnya yang tinggi sebagai kepala pelayan harus mengerjakan pekerjaan yang rendah. Dia tidak terima. Selain itu, beberapa pelayan menertawakannya.
“Ini tentang nona muda, ada yang salah dengannya.”
Margareth memotong duri dari bunga miliknya. Meletakan gunting dan terdiam sejenak. Dia memikirkan tingkah Yada kemarin, dia juga merasa jika ada yang aneh darinya. Biasanya, wanita itu selalu canggung dan terlihat takut. Tapi apa yang entah terjadi semenjak kepergianya, dia kembali menjadi Yada yang berbeda.
“Jadi apa yang dia lakukan sehingga membuatmu berpikir seperti itu?”
“Kemarin dia dengan berani memerintah ku untuk membersihkan kamarnya. Dia mengancamku, dan akan mengadu kepada tuan muda jika aku tidak mau melakukannya. Bukankah itu keterlaluan, Nyonya besar?”
“Hanya aku yang bisa memerintahmu, siapa dia bersikap seenaknya di rumahku?”
Kepala pelayan Lu mengangguk setuju. Dia tersenyum simpul setelah berhasil menghasut Margareth. Kepala pelayan itu sudah tidak sabar melihat Yada disiksa olehnya. Ini adalah hal yang menarik, sudah lama dia tidak melihat penyiksaan atas wanita itu semenjak dia menghilang. Kini Yada tidak akan bisa berkutik.
Yada sedang berada di dalam kamarnya, melihat keluar jendela memandangi taman di sisi rumah. Ketika kecil, Yada selalu membersihkan dedaunan ketika pulang sekolah. Keluarga Aurora tidak akan memberinya makan jika taman itu belum dibersihkan. Mereka sangat kejam. Namun sesekali David menyelamatkannya dan selalu membelanya. Kakaknya itu sangat peduli.
Dia mengalihkan pandangannya pada ponsel di atas meja yang tiba-tiba berdering. Telepon itu datang dari Laura.
'Nona, kembalilah ke apartemen malam ini.'
“Baiklah.”
'Bagaimana keadaanmu di sana? Apa kau baik-baik saja?'
__ADS_1
“Sejauh ini, aku baik-baik saja.”
'Jangan sampai mereka mengurungmu, Nona.'
Yada tidak terlalu menghiraukan kalimat Laura. Karena tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dengan sangat tidak sabaran. Seseorang meneriaki namanya dari luar sana. Tatapan Yada langsung tertuju pada pintu kamar yang terkunci. Seseorang mencoba masuk dengan paksa.
“Aku akan menghubungimu nanti, Laura.”
'Baiklah Nona!'
Dia membuka pintu, mendapati Margareth dan kepala pelayan Lu yang sudah berdiri di sana. Wajah wanita paruh baya itu tampak kesal, sementara seekor hewan yang berdiri tepat dibelakangnya tengah tersenyum dengan sinis. Yada langsung mengerti keadaan. Kepala pelayan Lu pasti mengadukannya.
Margareth masuk ke dalam kamar, menarik pergelangan tangan Yada dan menghempaskannya dengan kasar. Raut wajah wanita paruh baya itu begitu bengis sebelum akhirnya sebuah tamparan mendarat keras pada pipi wanita cantik di hadapannya.
“Kau sangat berani sekarang? Di rumah ini, kau tidak bisa bertindak sesuka hatimu, kau ingat!”
Yada memegangi pipinya yang panas akibat tamparan. Matanya melirik kepala pelayan Lu yang sedang tersenyum puas melihat penderitaanya. Luna, dia selalu menjadi anjing penjilat Margareth. Wanita itu selalu merasa sangat berkuasa atas kediaman Aurora. Dia tidak sadar jika statusnya hanyalah seorang pelayan rendahan.
“Apa karena pelayan ini kau memukulku?”
Margareth membeliakan matanya, menatap Yada yang berani bertanya seperti itu. Dulu ketika Margareth menindasnya, wanita ini hanya akan meminta maaf kepadanya. Tapi hari ini dia justru melawannya. Sangat di luar dugaan.
“Tidak seharusnya kau berkata seperti itu, dia adalah kepala pelayan!”
“Jadi kau membelanya? Membela seorang kepala pelayan?”
“... Bukankah aku putrimu? Putri keluarga Aurora? Kau malah lebih membela pelayan rendahan seperti dia?”
Kepala pelayan Lu tidak terima dengan ungkapan yang dibuat Yada yang seolah merendahkannya. Wanita itu membeliak marah begitupula dengan Margareth. Wanita paruh baya itu hendak melayangkan satu tamparan lagi kepada Yada, namun dengan sigap Yada menahan tangan Margareth dan menampiknya hingga tubuh wanita paruh baya itu terhempas.
“I'm sorry Mam, tapi jangan memukul putri hanya karena seorang pelayan.”
Yada pergi meninggalkan kamar setelah dia mengambil handbag miliknya. Langkah kakinya berjalan begitu cepat menuju mobil yang terparkir di halaman utama. Dia segera pergi meninggalkan kediaman terkutuk itu, melaju kencang dengan mobilnya.
Mobilnya terhenti pada sisi jalan. Yada hendak menangis tapi dia mencoba menahannya. Nafasnya tidak teratur, tubuhnya bergetar hebat.
__ADS_1
Seumur hidupnya, Yada tidak pernah melawan Margareth. Dia selalu tunduk dengan wanita yang selama ini dia anggap itu itu. Perlawanannya kali ini mungkin membuat Margareth terkejut dan tidak terima. Yada akan kembali dikurung dan disiksa jika dia tidak segera pergi meninggalkan kediaman itu. Hidupnya begitu tragis.
Seseorang mengetuk kaca mobil, dan membuatnya terkejut. Dia membuka kaca mobilnya dan melihat Laura yang sedang berdiri tersenyum ke arahnya. Wanita cantik itu duduk di samping Yada, menggunakan seatbeltnya. Dia memegang lengan Yada yang bergetar, menatapnya dengan hangat seolah mengerti apa yang sedang Yada rasakan.
“Jangan takut, kami melindungimu. Pilihan yang bagus kau segera keluar dari sana, atau mereka akan mengurungmu dan kami akan sangat kesulitan membantumu.”
“Kau mengawasiku?”
Tidak ada jawaban apapun dari Margareth, hanya secarik senyuman tipis di bibirnya. Dia mengedikan dagunya, meminta Yada untuk menjalankan kemudi.
***
David kembali ke rumah setelah urusan di perusahaan selesai. Dia kembali pada pukul tujuh. Berusaha untuk tidak melewatkan makan malam di rumah. Dia tidak sabaran ingin bertemu dengan Yada. Masih banyak pertanyaan yang belum David temukan jawabannya. Tadi malam selepas makan malam, Yada hanya berada di dalam kamar dan enggan untuk menemuinya. Adiknya itu beralasan jika dia terlalu lelah untuk diajak mengobrol.
“Di mana Yada?”
Dia bertanya pada pelayan, namun pelayan itu hanya menundukan wajahnya. Kepala pelayan Lu telah memperingati semua pelayan di kediaman itu untuk tidak membuka mulut mengenai nona muda mereka. Terlebih lagi mengatakan jika nyonya besar marah karena kepala pelayan Lu mengadukan sikap Yada kepada Margareth.
David meminta mereka pergi. Dia bergegas menuju kamar Yada dan mendapati jika kamar itu kosong. Dia menghela nafas berat. Adiknya itu sudah menghilang lagi. Dengan segera David menghubungi Yada, namun wanita itu tidak menjawab panggilannya.
Pria tampan itu menarik seorang pelayan. Memaksanya untuk membuka mulut tentang semua hal yang terjadi di dalam rumah selama dia pergi bekerja. Karena paksaan, seorang pelayan akhirnya menjelaskan semuanya yang terjadi.
“Nyonya besar memukul dan memarahinya sehingga nona muda pergi dari rumah.”
.
.
.
.
***Bersambung ....
Jangan lupa like, koment untuk terus menyemangati Author yaaa.. Byeee see you di chapter selanjutnya***.
__ADS_1