Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
*TERSADAR


__ADS_3

Jangan lupa like dan koment untuk menyemangati Author yaaa...


Happy Reading ....


***


Bau desinfektan yang khas dan menyengat. Beberapa orang sedang meraba tubuhnya. Menyentuh dada dan pergelangan tangan. Terdengar suara seseorang yang sedang menjelaskan dengan suara yang terdengar tidak asing.


Yada membuka kedua matanya dan buram. Mengedip beberapa kali untuk menetralkan pandangannya. Dia menatap langit-langit, lalu tak lama menatap Yoland yang berdiri di samping ranjangnya.


“Kau sudah bangun?”


Matanya mengedar ke penjuru ruangan, lalu beralih ke arah suster yang sedang menyuntikan obat ke dalam botol infus. Dia sadar jika dirinya sedang berada di rumah sakit. Yada mengabaikan pertanyaan Yoland. Yang dipikirkannya saat ini hanya, dia sangat ingin memegang lengan suster tersebut dan meminta tolong. Mengatakan jika dia memerlukan bantuan, orang-orang itu telah menculik dan menyiksanya. Tapi apa daya, tubuhnya lemah tidak berdaya bahkan dia tidak memiliki tenaga untuk mengeluarkan suara.


Tidak lama kemudian suster tersebut pergi. Yada sangat menyesali kesempatan yang dia buang. Wajahnya menampilkan ekspresi menyesal.


Yoland terus menatap wajahnya. Dia tahu apa yang sedang Yada pikirkan. Yoland menarik nafas panjang. Dia tidak ingin memberitahu Yada jika rumah sakit ini adalah miliknya, dan meminta bantuan seseorang untuk kabur adalah hal yang mustahil. Yoland tidak ingin membuat wanita itu kehilangan harapan untuk terus hidup. Jika melarikan diri yang dia pikirkan, setidaknya dia masih memikirkan nyawanya sendiri.


“Bagaimana kondisimu? Apa yang masih sakit?”


Kenapa kau bertanya? Kau seorang dokter dan lebih mengetahui apa yang sakit di tubuhku, bukan? Dokter yang agung. Batin Yada.


“Ternyata kau masih sangat lemah. Kau membutuhkan rawat inap beberapa hari lagi di sini.”


Ya, maka aku akan melarikan diri.


“Aku akan memberikanmu vitamin agar tubuhmu sehat kembali.”


Sehat? Hanya rasa sakit yang kau berikan.


“Baiklah. Tekan tombol ini jika kau memerlukan sesuatu.”

__ADS_1


Yoland menyimpan sebuah tombol kecil tepat pada genggaman dan ibu jari Yada. Selemah apapun kondisinya, Yada masih bisa menekan tombol itu, dan itu yang dia lakukan sekarang. Baru saja Yoland berbalik hendak pergi, bunyi nyaring dari ruangan mengagetkannya.


TEEEETTTTT!!!


Yoland menutup matanya sesaat dan menarik nafas, lalu membukanya kembali. Tidak lama setelah itu beberapa suster berhampuran masuk ke dalam ruangan. Mereka saling menatap Yoland bersama-sama.


“Tidak ada masalah, dia hanya sedang mencoba menekan tombolnya,” ucap Yoland pada beberapa suster tersebut.


Mereka mengangguk mengerti. Setelahnya, para suster dan Yoland pergi keluar ruangan, meninggalkan Yada seorang diri terbaring lemah di atas ranjang.


Yada mencoba mengangkat sebelah tangannya yang dipasangi selang infus, lalu menyimpannya kembali ke atas ranjang. Dia juga mencoba menggerakan kakinya perlahan-lahan. Tapi seketika perutnya terasa sangat sakit dan kaku. Dia ingat, mungkin ini adalah sakit yang menyebabkannya muntah darah sebelum dia tersadar hari ini.


Tiba-tiba pikirannya berputar, memingat kembali sepenggal mimpi yang baru saja dialaminya. Aneh. Wajah dia bisa mengingat dengan jelas alur mimpi itu namun tidak dengan wajah wanita yang terlihat buram di dalam mimpinya. Siapa wanita itu? Yada tidak mengenalnya sama sekali, namun bentuk tubuh dan suaranya sangat tidak asing bagi Yada.


Yada harus kembali menggerakan beberapa bagian tubuhnya. Dia tidak ingin menjadi seseorang yang lumpuh di atas ranjang. Setidaknya dia harus mencari kebenaran atas masalalunya, dan memecahkan mimpi-mimpi yang dia alami beberapa hari ini.


Tidak lama kemudian seorang suster membawa makanan untuk Yada. Suster tersebut menaikan sisi ranjang Yada ke atas, membuat Yada duduk tampa harus terbangun. Kemudian, suster itu menyimpan makanan di atas meja yang sudah berada tepat di hadapan Yada. Dia mulai mengaduk bubur di dalam mangkuk dan menambahkan sup hangat ke dalamnya, lalu menyodorkan sendok berisi bubur itu pada Yada.


“Baiklah.”


Suster tersebut menyimpan kembali mangkuknya ke atas meja.


“Aku akan kembali lagi tiga puluh menit kemudian,” ucapnya yang kemudian melangkah pergi ke luar ruangan.


Yada menatap ujung atas ruang rawatnya. Dia melihat titik cahaya merah dari sana. Menyadari jika ruangannya terdapat CCTV, Yada enggan untuk meminta tolong perawat dari dalam ruangan. Karena mungkin saja belum sempat dia pergi, Yoland dan gerombolan gilanya akan datang mengurung Yada kembali. Yada harus memikirkan cara lain untuk pergi.


Jemari lentiknya mengambil alat makan di atas meja. Menyendokan beberapa bubur masuk ke dalam mulutnya. Hambar. Itulah yang dia rasakan, nilai empat untuk makanan rumah sakit yang sangat buruk.


Yada mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat dirinya dirawat karena jatuh dari tangga. Ya, beberapa kecelakaan kerap terjadi padanya saat dia di kediaman Aurora. Kecelakaan yang mungkin terjadi karena disengaja.


Saat dirinya dirawat di rumah sakit, David akan selalu menemaninya. Tidak peduli seberapa sibuk pekerjaan pria itu, David selalu menginap bersamanya. Tidur di sofa yang disediakan di dalam ruang rawatnya, menyuapi Yada, bahkan mengajak Yada jalan-jalan ke taman rumah sakit agar dirinya tidak bosan.

__ADS_1


Tanpa disadari air matanya sudah mengenang memenuhi pelupuk mata, menetes membasahi wajah cantiknya. Jemarinya hanya mengaduk bubur di dalam mangkuk dan berhenti memakannya. Seumur hidupnya, hanya David yang paling perhatian dan menyayanginya setulus hati. Dia merindukannya.


I miss you, David. I miss you.


***


Allard menyulut batang nikotin miliknya, menghisap dan menghembuskan asap keluar. Dia baru saja selesai dengan penerbangan, dan kembali ke negara asal. Saat ini Allard berada di ruang baca mansion, dengan beberapa kertas berserak di atas meja kerjanya.


Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di hadapannya, memberikan informasi detal kejadian yang menimpa klan Yora beberapa puluh tahun silam. Pemberontakan itu sudah menjadi rahasia umum di kalangan mafia, namun Allard ingin informasi lebih detail lagi, serta menginginkan beberapa bukti yang kuat untuknya.


“Kau boleh pergi,” kata Allard, dan pria itupun pergi keluar ruangannya.


Jemarinya mengambil beberapa lembar foto keluarga Yora saat masih lengkap. Sepasang suami istri dan kedua putrinya tampak tersenyum bahagia di dalam foto tersebut. Beberapa foto gadis kecil tergeletak di sana. Lengkap dengan sebuah tato pada punggungnya.


Tidak disangka jika wanita itu adalah bagian keluarga yang hilang, yang selama ini sangat dicari oleh rekan Bisnisku sendiri. Dan sialnya lagi ....


Allard melemparkan foto tersebut dengan kasar ke atas meja. Mematikan sulutan rokoknya pada bundaran pipih yang tersedia khusus. Dia beranjak dari kursinya, mengambil jas lalu memakainya. Allard berencana untuk pergi ke rumah sakit, melihat kondisi wanita itu.


.


.


.


.


.


Bersambung ....


Semoga suka selalu sama alurnyaaa .... See youu.

__ADS_1


__ADS_2