Obsession of Revenge

Obsession of Revenge
Kau siap?


__ADS_3

Yada berlari menjauh dari pria tersebut, dia melihat kiri dan kanan dan sebuah gunting runcing tergeletak di atas meja. Tanpa pria itu sadari, Yada mengambilnya sebelum pria itu berhasil menangkap tubuhnya dan melemparkannya ke atas ranjang.


“DAMN!”


Pekikan kesakitan dari pria itu menggema di seluruh ruangan. Darah segar mengalir pada lehernya ketika Yada dengan sengaja menyerang dan menusukan gunting tersebut pada leher pria itu.


Yada menatapnya. “Sudah aku katakan, jangan berani menyentuhku.”


Pria itu membuka pintu kemudian keluar sembari terus memegangi lehernya yang terluka. Yada menancapkan gunting itu tidak terlalu dalam, hanya saja luka yang dia berikan cukup untuknya memberikan pelajaran.


Monica masuk ke dalam ruangan, melihat lengan Yada yang terkena noda darah. Dia mengangkat sebelah halisnya lalu berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.


Yada melepaskan gunting tersebut dari genggamannya, duduk di atas sofa dengan tatapan yang kosong. Seumur hidupnya, dia baru kali ini mencelakai seseorang. Tapi anehnya, Yada tidak merasa aneh sama sekali. Ini seperti hal biasa baginya, rasanya seperti bukan pertama kali dia melakukan hal tersebut.


Detak jantungnya berdegup, tapi pikirannya tenang sama sekali tidak merasakan kalang kabut setelah mencelakai orang.


Ada apa denganku? Ini adalah pertama kalinya aku mencelakai seseorang, tapi kenapa rasanya tubuhku biasa saja dengan hal itu?


 


Yada kembali ditarik oleh Allard dengan alasan Monica tidak menginginkan keberadaanya. Wanita itu juga berkata jika dia tidak akan pernah menerima Yada kembali.


“Bagaimana kau melakukannya?” tanya Allard.


“Apa?” timpal Yada menatap pria itu dengan ekspresi datar.


Allard menaikan sebelah halis. “Melukainya?”


Yada terdiam dan tidak ingin menjawab sama sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu. Sementara Allard terus menatapnya dengan wajah penuh tanya.


Bukankah dia hanya seorang wanita manja yang dibesarkan dengan uang? Kenapa nyalinya sangat besar? Apa mungkin dia belajar beberapa seni bela diri di dalam klan? Sialnya, Darren tidak bisa mendapatkan informasi pribadi mengenai Yada Aurora.


“Tidak aneh jika kau melukainya, kau dibesarkan di dalam klan Aurora.”


Yada tersenyum simpul. “Wajahmu tidak menunjukan seperti apa yang kau katakan. Kau masih bertanya-tanya, bukan?”


Allard berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapannya. Dia menaikan dagu Yada, dan menatapnya dengan intens.


“Ya, kau benar. Aku sangat bertanya-tanya tentangmu. Siapa kau, Yada Aurora?”

__ADS_1


“Tidak penting siapa aku. Tapi yang jelas, kau tidak akan mendapatkan apapun karena menyandera ku. Kau tidak akan mendapatkan apapun, tidak dengan klan Aurora. Mereka tidak akan peduli,” lugas Yada.


Dia membuang wajahnya ke arah samping, melepaskan dagunya dari sentuhan Allard. Yada tersenyum simpul, lalu akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan pria itu.


Allard terkekeh samar. Lihat bagaimana gaya sombong wanita itu, padahal jelas-jelas dia sedang berada di kandang musuhnya sendiri. Tapi di sisi itu, apa maksud dengan klan Aurora yang tidak akan peduli?


Apakah dia bukan Yada Aurora?


Allard meraih ponselnya, menelpon Darren dan meminta kawanya itu untuk segera menggali informasi mengenai Yada. Allard sudah tidak sabaran. Karena apa yang dikatakan Yada memang ada kaitannya dengan Barrack yang tidak pernah bertindak untuk menemukannya. Seharusnya di dalam sebuah keluarga, seorang putri adalah harta berharga untuk seorang ayah.


***


Yada berbaring di tempat tidurnya dengan segelas air putih yang dia simpan di atas dahi. Dia tidak bergerak sama sekali, karena ketika bergerak maka gelas itu akan jatuh dan air akan tumbah membasahi wajahnya.


Dia melakukan itu agar pikirannya tenang tanpa bantuan barang terlarang yang selalu Allard berikan kepadanya. Jujur saja, Yada sudah mulai terbiasa mengkomsumsinya. Ini semua karena Allard.


“Nona.”


Seseorang membuka pintu kamar dan memanggilnya. Yada tahu pelayan itu akan datang untuk memaksanya melakukan hal yang sama setiap hari. Tapi hari ini pelayan itu datang terlambat satu jam, Yada sempat berpikir jika jeda waktu Allard berikan agar dirinya tidak mengkomsumsi barang itu hari ini. Yada salah.


“Aku tidak perlu memaksamu untuk melakukannya, bukan?”


Yada masih bergeming dengan posisi yang sama. Tapi seketika Allard mengambil gelas itu, membuat mata Yada seketika terbuka. Allard menyimpan gelas tersebut ke atas meja.


“Keluar,” perintah Allard pada pelayan.


Yada segera duduk ketika Allard mendekatinya. Mereka saling bertatapan dengan intens.


“Apa yang kau tatap?” tanya Allard.


Yada seketika mengalihkan pandangannya.


“Apa yang kau lakukan dengan segelas air itu? Apa kau sedang menenangkan pikiranmu yang kacau itu?” Allard mengubah pertanyaan. Tapi Yada masih terdiam.


“Sudah tiga bulan kau berada di sini, dan sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan apapun. Apa kau tidak penat?”


Allard mengulurkan lengannya, menyentuh pipi mulus Yada, namun wanita itu dengan sigap menyingkirkan jemari Allard dari wajahnya.


Yada menatapnya tajam. “Jangan tanyakan tentangku, bagaimana denganmu? Apa kau sudah berhasil menghancurkan klan Aurora?”

__ADS_1


Allard terdiam dan hanya menatapnya.


“Why? Kau tidak mampu?” ejek Yada.


“Kau meragukanku?” tanya Allard.


“Bukankah sudah aku katakan, kau tidak akan pernah mendapatkan hasil apapun dengan menyanderaku.”


Allard merapikan beberapa helai rambut pada wajah cantik Yada. “Tapi ini bukan tentang klan Aurora, ini tentangmu. Aku berpikir untuk tidak menggunakanmu lagi sebagai ancaman.”


“Maka lepaskan aku!” ucap Yada penuh penekanan.


Allard mengerutkan keningnya sambil tersenyum. “Melepaskanmu? Aku akan memikirkannya.”


Yada tidak bisa mempercayai perkataan yang keluar dari mulut Allard. Meskipun pria itu kini tidak melukainya secara fisik, tapi Allard terang-terangan melukainya secara mental. Dia juga membuan Yada kecanduan barang terlarang.


“Dengan satu syarat,” ucap Allard. “Layani aku malam ini.”


PLAK!


Yada menampar wajah pria tampan itu, dia menatap marah pada Allard yang berkata dengan sangat menjijikan.


“Tidak mungkin!” tolak Yada.


Allard menatapnya tajam, tamparan Yada membuat api di dalam dirinya menyala. Allard kesal karena dia tidak bisa menemukan informasi apapun mengenai wanita cantik di hadapannya itu. Dan kini, rasa kesalnya bertambah karena tingkah Yada yang semakin semena-mena.


“Kau harus melakukannya!”


Dia mendorong tubuh Yada ke belakang hingga tubuh ramping itu jatuh terbaring lalu menindihnya. Dengan ganas Allard memberikan kecupan pada bibir Yada, tidak memberikan wanita cantik itu jeda untuk bernafas.


Dua lengan Yada ditarik ke atas dan digenggamnya erat, membuat Yada tidak bisa bergerak untuk melawan. Satu lengan Allard bergelrya di bawah sana, meremas dada Yada dengan sangat kuat. Membuat Yada melenguh kesakitan.


“Uh-”


Allard menarik tubuhnya mendengar suara Yada. Dia tersenyum sembari terus menatap wajah cantik yang sudah memerah dengan mata nanar di bawahnya.


Jemari Allard terus turun menelusuri setiap inci tubuh Yada, sampai akhirnya jemarinya itu berhenti pada inti tubuh Yada yang membuat wanita itu tercengang seketika.


“Apa kau siap?” tanya Allard.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2