
Happy Reading ....
Ruangan di rumah sakit terasa sesak meskipun berada di dalam ruang VVIP. Namun tetap saja situasinya sangat sepi dan mencekam. Seharusnya beberapa kamar di sebelah berpenghuni, namun tidak ada satupun suara yang keluar dari sana seolah-olah ruangan itu kosong. Apakah benar-benar kosong?
Yada bangun dari tidurnya, menurunkan kedua kaki dan beringsut turun dari ranjang. Rasa di perutnya masih sakit dan kaku. Namun dia mencoba melangkah memperkuat dirinya sedikit demi sedikit.
Langkahnya seketika terhenti saat dia sadar jika dia pergi tanpa membawa botol infusnya. Selang infus yang tertarik tidak sengaja membuat rasa nyeri pada punggung telapak tangannya.
Damn!
Langkahnya pelan dan teratur. Dia pergi ke kamar mandi karena tidak bisa menahan panggilan alam. Sesampainya di dalam toilet, Yada memastikan jika seseorang tidak memasang CCTV di sana. Beruntung tidak ada, dia dapat mengeluarkan semua cairan tubuhnya yang sudah tersimpan selama satu hari penuh.
Sementara itu Allard baru saja tiba di rumah sakit. Dia tidak langsung menemui Yada, melainkan pergi ke ruangan Yoland. Pria itu menjelaskan tentang rencana yang disusunya dengan matang kepada rekannya itu.
“Kau yakin ingin membebaskannya?” tanya Yoland memastikan.
“Bukan membebaskannya, lebih tepatnya menjadikan dia umpan tidak terlihat. Kita akan memanifulasinya,” lugas Allard dengan wajah dingin mencekam, penuh akal-akal licik di dalam kepala.
Yoland mengangguk. Dia sependapat dengan Allard. Rasanya itu adalah hal yang terbaik untuk memutar balikan rencana balas dendam terhadap keluarga Aurora. Meskipun harus mengorbankan Yada lagi, dan lagi.
“Aku akan pergi menemuinya,” ucap Allard.
Kemudian mereka berdua pergi keluar bersama-sama. Namun Yoland tidak akan menemani Allard bertemu dengan Yada karena dia masih memiliki pekerjaannya. Meskipun rumah sakit itu adalah miliknya, tapi dia tidak bisa seenaknya saja bekerja. Terlebih lagi keluar dari jam kerja.
Langkah kaki jenjangnya berjalan menelusuri lorong yang sepi. Sampai langkahnya terhenti pada sebuah pintu dengan nomor yang sesuai dengan arahan Yoland. Pria itu tanpa ragu membuka pintu, dan masuk ke dalam.
Allard terdiam dengan ekspresi datar, menatap tajam ranjang kosong yang berada di dalam ruangan. Pastikan jika Yoland tidak salah memberikan nomor kamar, dan juga menjaga Yada dengan benar. Jangan sampai wanita itu pergi keluar area rumah sakit.
Pikiran Allard kembali saat dia mendengar suara air dari dalam toilet. Dia menyadari ada orang di dalam sana. Lantas, Allard duduk di atas sofa guna menunggunya keluar.
Yada berada di dalam toilet. Berdiri di depan cermin dan menatap tubuhnya yang sudah kurus kering tanpa daging sedikitpun. Sangat mengerikan.
__ADS_1
Tidak mau berlama-lama memandangi tubuhnya yang menyedihkan. Yada segera mencuci tangan dan keluar dari dalam toilet. Dia berjalan dengan wajah menunduk, memperhatikan langkah kakinya tanpa melihat sekitar, dan tidak menyadari sudah ada Allard di dalam ruangan.
“Membutuhkan bantuan?” tanya Allard seketika membuat Yada terlonjak kaget.
Detak jantungnya berdegup kencang melihat kehadiran pria yang sangat tidak ingin dilihatnya. Dia langsung menghentikan langkahnya dan berdiri mematung melihat Allard.
Wajah Allard datar tanpa ekspresi menatap Yada. Dia tahu apa yang sedang Yada pikirkan, terlebih lagi Allard sudah merenggut semua hal dari dalam dirinya. Satu hal yang pasti, kini wanita itu sedang ketakutan melihatnya.
Tanpa basa-basi Allard berjalan mendekati Yada, berdiri di depannya dan sekali lagi bertanya, “Kau membutuhkan bantuan?”
Yada tidak bergeming sedikitpun. Tatapannya nanar ke arah lantai, mencoba mengendalikan seluruh tubuhnya yang bergetar hebat. Trauma. Dia sangat merasa trauma melihat kehadiran sosok Allard.
Suasana hening di antara mereka. Allard tidak mau membuang waktu lama untuk bertanya lagi. Dia langsung meraih tubuh Yada ke dalam gendongannya, membawa tubuh ramping itu dan membaringkannya kembali ke atas ranjang.
Yada sangat terkejut, refleks dia membuang wajahnya ke samping, enggan menatap Allard. Dia khawatir jika Allard akan menyentuh tubuhnya lagi.
“Aku tidak akan menyakitimu jika kau tidak memancing amarahku. Jadi, menurutlah dengan apa yang aku katakan,” lugas Allard dengan suara baritonya, seolah-olah dia mengerti dengan tingkah aneh Yada padanya.
Namun tidak lama kemudian, seorang suster datang membawa makan malam. Seperti siang tadi, suster tersebut menyimpan makanan itu ke atas meja setelah membuat ranjang Yada sedikit terangkat. Suster itu pergi setelah selesai melakukan pekerjaannya.
Yada menatap makanan di hadapannya. Dia tidak mau bergerak sedikitpun jika Allard masih ada di sana. Sementara Allard yang melihat Yada hanya terdiam tanpa banyak bicara.
Sepuluh menit makanan di atas meja sampai uap panas yang tadi datang bersamanya telah berhambur pergi. Makanan itu akan dingin jika tidak segera di makan.
Allard menggeret kursi kecil dan duduk di sisi ranjang. Dia mengambil mangkuk berisi bubur dan memasukan kuah sup hangat ke dalamnya. Allard mulai menyendokan bubur tersebut pada Yada.
Yada menelan salivanya, masih terdiam sembari memalingkan wajah. Sendok bubur tepat berada di sampingnya namun dia tidak mau bergerak sedikitpun.
“Buka mulutmu,” perintah Allard.
Ingatan Yada kembali berputar mengingat kejadian menyakitkan malam itu. Malam di mana Allard merenggut semua hal pada dirinya.
__ADS_1
Jemarinya mencengkram kuat sisi ranjang. Wajah Yada perlahan-lahan menoleh ke arah Allard, dan mau tidak mau membuka mulutnya untuk memakan bubur tersebut.
Aku tidak akan menyakitimu jika kau menurut padaku.
Kalimat Allard terngiang di dalam kepala Yada, berputar-putar di dalam sana. Setidaknya kali ini Yada harus menurut, mau tidak mau, demi mencari kebenaran tentang masalalunya.
Allard mengambil potongan ikan, memberikannya kepada Yada. Wanita itu memakannya tanpa menolak satu suapan pun. Allard seperti orang dewasa yang sedang menyuapi seorang anak kecil.
Pintu ruangan terbuka, Yoland datang bersama seorang perawat dengan membawa obat-obatan. Seorang perawat kembali menyuntikan obat ke dalam selang infus Yada.
Yoland menatap mangkuk kosong pada tangan Allard, kemudian beralih pada Yada. Dia tersenyum dalam hati. Setidaknya tidak ada teriakan kencang dari dalam kamar ini, itu sudah cukup baginya.
“Maaf memberikanmu obat tiba-tiba.” Yoland tersenyum. “Lanjutkan makan malammu, aku akan kembali setelah satu jam untuk memeriksa kondisimu.”
Yoland dan suster tersebut kembali keluar ruangan. Kini hanya ada Yada dan Allard lagi. Mereka berdua hening, di dalam ruangan hanya terdengar suara dentingan antara sendok yang menabrak mangkuk.
Yada meminum airnya, perutnya terasa penuh karena Allard menyuapkan semua makanan yang tersaji ke dalam mulutnya. Padahal siang tadi, Yada hanya memakan bubur kosong dan itu sudah cukup membuatnya kenyang.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ....
__ADS_1